Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#45 Penolakan Hero saat itu



Melihat Hero hanya bungkam. Ia yang hendak bertanya menjadi bungkam karena lelaki itu kini justru berbaring dan membelakanginya.


Melihat itu, tiba-tiba Alina ingat saat penolakan Hero waktu itu.


Flashback.


Alina memilih memakai pakaian terbaik untuk hari ini, pakaian yang hanya akan Alina kenakan di hari yang terbaik untuknya.


Alina kini hendak bertemu dengan Hero, meski lelaki itu telah menolak perjodohan yang telah di susun. Tapi Alina tetap ingin memberikan kesan yang baik untuk Hero.


Gaun biru langit dengan pernak-pernik sederhana menjadi sesuatu hal yang Alina pilih. Terlihat pas dan sangat cocok dengan kulit putih bersih Alina, hal itu membuatnya terlihat cantik, sangat cantik.


Seakan baru saja seorang peri turun ke dunia, hanya saja Alina merasa jika dirinya tidak secantik yang orang pikirkan, entahlah. Mungkin masa lalunya membuat tingkat kepedeannya menurun.


“Kak, gimana penampilan Alina hari ini?” tanya Alina pada Eron.


Lelaki itu jelas terlihat memandang Alina dengan tatapan jengah dan malas, jika Eron ingat. Eron memiliki seorang sahabat perempuan yang sangat cantik.


Dan sahabatnya itu memiliki pandangan yang jeli akan penampilan, bahkan pernah sahabatnya itu berkata langsung padanya jika nilai penampilan Alina walau tanpa harus memakai gaun, nilainya adalah 99 poin, dan itu nilai yang bagi sahabat Eron sendiri belum pernah memberikan nilai akan penampilan untuk wanita manapun selain Alina.


“Jika kamu bertanya pada sahabat Kakak yang bernama Sindy, kakak jamin dia akan memaki kamu. Kalau perlu dia akan menyuruh kamu untuk mengaca seharian dengan lebih detail, agar kamu bisa lebih memperhatikan penampilan kamu sendiri,” ucap Eron dengan nada malasnya.


Malas sekali rasanya jika Eron harus terus memuji penampilan adiknya sendiri, lebih baik dia memuji penampilan istrinya nanti dibandingkan harus memuji Sang adik.


“Dih, Kak Eron gitu. Ditanya malah cerita tentang sahabat Kakak, lagian siapa juga yang kenal dengan orang yang namanya Sindy itu coba,” keluh Alina.


Akhirnya Alina keluar dan meminta antar pada sopir untuk menuju restoran yang telah Hero pesan untuknya.


...*****...


Di restoran.


Alina dan Hero kini hanya diam untuk beberapa saat, dengan Alina yang tak henti-hentinya menatap ke arah Hero yang sedang fokus melihat ponselnya.


Seperti biasa, di hari libur Hero masih tetap sibuk dan memiliki banyak pekerjaan yang harus ia urus. Entah itu sebagai dokter ataupun sebagai pewaris.


Dan restoran yang Hero pesan kini adalah restoran milik keluarganya. Ruangan yang mereka tempati juga hanya ruangan yang disediakan khusus untuk pemilik restoran yang tak lain adalah Hero sendiri.


“Kak Hero sangat hebat, Alina merasa jika Kak Hero terlalu luar biasa. Kakak bahkan telah berhasil membuat kedua orang tua Kakak bangga dengan mengelola perusahaan dengan baik. Di tambah dengan pekerjaan Kakak yang sebagai dokter, itu hal yang tidak mudah,” ungkap Alina yang mengungkapkan kekagumnya itu.


Hero yang menatap ke arah ponselnya langsung menatap ke arah Alina.


“Dulu aku rasa kamu pendiam?” ucapan Hero membuat Alina bungkam.


Sebenarnya bukan maksud Hero menyinggung Alina, hanya saja Alina yang Hero kenal adalah tipe pemalu dan pendiam. Alina menurut Hero adalah anak yang baik, walau hatinya memang sensitif. Tapi sejauh yang Hero lihat, Alina tipe anak yang berusaha keras dalam belajarnya. Karena Alina memang tipe anak yang tidak terlalu pintar, ia perlu usaha lebih keras untuk menjadi lebih baik.


“Saya nggak bermaksud menyinggung kamu,” jelas Hero. Tapi yang menjadi perhatian Alina kini adalah kata Saya' yang menandakan jika Hero kini sedang memasang dinding diantara dirinya dengan lelaki itu.


“Iya Kak, Alina ngerti. Harus Alina akui, jika Alina memang sedikit berubah, tapi yang nggak Kakak tahu adalah, Alina hanya ramah pada orang yang menurut Alina dekat, dan orang itu juga harus membuat Alina nyaman baru setelah itu Alina akan menganggapnya dekat,” jelas Alina. Entah mengapa ia berani jujur tentang dirinya sendiri.


Hening sejenak, tidak ada pembicaraan apapun. Seakan mereka kini sedang terlarut dalam pemikiran mereka masing-masing.


“Kak, Alina nggak tahu alasan kenapa Kakak menolak perjodohan ini,” ucap Alina.


Perjodohan itu sudah disetujui kedua belah pihak, tapi jawaban Hero yang mengatakan ia tidak setuju. Membuat perjodohan itu terkendala.


“Alina rasa, Alina memang nggak pantas untuk Kakak. Bahkan mungkin dari segi prestasi saja, kakak seribu kali lipat jauh lebih baik jika harus dibandingkan dengan Alina, dan karena penolakan Kakak, hal itu semakin membuat Alina ingin menyerah, tapi Alina sadar jika Alina tidak bisa Kak. Tolong berusaha untuk mencintai Alina. ” ungkap Alina yang terlihat sedikit menunduk.


Hero hanya diam sejenak, ia berfikir dengan tatapannya yang dalam.


“Aku rasa aku tidak akan mudah mencintai seseorang lagi. Terlalu dalam rasanya cinta ini tersemat untuk orang itu,” tatapan menerawang Hero tunjukan.


Seakan berkata jika Hero tetap pada keputusannya yang menolak perjodohan itu


“Kalau begitu, apa itu alasan Kakak tidak setuju dengan perjodohan ini, jika memang begitu, apakah Kakak tidak peduli dengan Bunda? tidak bisa 'kah KKK melupakan wanita yang Kakak cintai itu?” ungkap Alina dengan tangan mengepal.


Alina berusaha menahan agar dirinya tidak terlihat lemah.


Tapi bagaimana bisa ia tetap kuat jika orang yang dicintainya mengatakan langsung padanya betapa dia mencintai seseorang dan orang itu bukanlah dirinya? Apalagi orang yang ia cintai itu adalah laki-laki yang telah Alina cintai lebih dari 10 tahun lamanya.


“Kakak tidak ingin mencoba,” ucap Hero langsung dihadiahkan tatapan mengerti dari Alina.


Setiap kali Alina ingin menyerah akan cintanya, justru rasa cinta itu terasa semakin dalam dan nyata. Sangat sulit sekali untuk membuang perasaan itu jauh-jauh, dan Alina hanya bisa menurunkan egonya, ia akan mencoba mendapatkan hati Hero.


Biarkan dirinya berusaha dan mencoba lebih dulu, dan untuk apa yang akan terjadi ke depannya. Hal itu akan Alina pikirkan nanti, ia kini hanya akan menjalani ini semua dengan semestinya.


“Setidaknya cukup buka hati Kakak, biar 'kan Alina masuk ke dalam hati Kakak. Jangan pandang Alina sebagai adik lagi Kak, tapi pandang Alina sebagai wanita yang akan menjadi istri Kakak dan ibu dari anak-anak Kakak nanti,” ungkap Alina dengan tatapan berharap.


“Tidak bisa!” tega Hero.


Hal itu yang membuat Alina putus asa, ia padahal telah berjanji pada Hanny untuk membuat lelaki itu bangkit dan memiliki semangat hidup lagi.


Hingga suatu hari


Saat itu Alina melihat dengan kepalanya sendiri, seorang dokter yang sangat mencintai Hero.


Dokter yang cantik yang seakan bisa membuat siapa saja terpesona dengan kecantikannya, tapi nyatanya dokter itu sudah tergila-gila dengan Hero. Hingga ia tega untuk meracuni Hero, orang yang ia cintai.


“Jika kamu tidak bisa aku miliki, kenapa kamu tidak aku racuni saja. Mati saja kamu ke neraka, sungguh buta kamu karena telah menolak aku yang dengan tulus mencintai kamu.”


Sayangnya rencana itu gagal, dan alhasil Alina yang memakan makanan berisi racun dihadapan Hero. Meski awalnya Hero tidak percaya. Tapi saat melihat bagaimana kondisi Alina ia akhirnya percaya.


Itu awal dimana Hero merasa berhutang Budi pada Alina.


Flashback end