
Sangat jarang sekali Hero memiliki waktu luang, entah kenapa kini Hero justru diberikan waktu libur untuk seharian.
Alina berfikir mungkin ini karena Hanny yang meminta pemilik rumah sakit agar memberi Hero waktu libur.
...*****...
Dan kini, Alina dan Hero sedang berada dipinggir jalan sekitar tempat tinggalnya. Sebenarnya ini tidak bisa dikatakan sekitar tempat tinggalnya. Karena jarak dari rumahnya yang lebih tepatnya mansion itu, kurang lebih 10 km.
Sangat jauh bukan?
jadi dimana letak pinggir sekitar rumah?
Tapi Alina meminta jalan-jalan ke sana karena sekitar jalan itu yang paling deket. Mereka mungkin perlu menghabiskan waktu setidaknya 10 menit dengan mengendarai mobil untuk ke sana.
“Kak,” panggil Alina menghentikan langkahnya.
Hero yang memang sedang jalan-jalan bersama dengan Alina. Tapi lelaki itu tetap saja terlihat hanya fokus pada pekerjaannya. Tiada hari tanpa kerja, bahkan saat Hero diberi cuti saja ia masih melihat ponselnya, ia mengecek pekerjaan apa saja yang harus ia kerjaka.
“Ini me Time loh. Waktu kita berdua, kakak tolong jangan sibuk sendiri. Alina di sini juga merasa kalau ini bukan jalan-jalan namanya.”
“Ini jalan-jalan namanya Alina,” kata Hero yang seperti biasa selalu berkata datar.
“Jalan-jalan gimana, Kakak cuman sibuk dengan ponsel Kakak, sedangkan Alina berasa jalan sendiri,” keluh Alina. Ia memperhatikan sekelilingnya yang terlihat ramai, banyak pasangan yang sedang menikmati waktunya.
Ini memang hari libur, dan bagi Alina dan bagi orang lain itu sudah sering mereka rasakan. Tapi bagi Hero?
Laki-laki itu jelas sangat sibuk seakan belum pernah merasakan yang namanya libur kerja.
“Jalan-jalan!” tegas Hero yang tetap kukuh pada perkataannya itu.
“Bukankah dari tadi kita terus berjalan-jalan, kita tidak menggunakan mobil ataupun sepeda. Karena kaki kita yang melangkah sejauh ini,” jelas Hero yang membuat Alina langsung tepuk jidat.
Jadi maksud Hero jalan-jalan di hari libur ya jalan dengan kaki, tidak memakai mobil ataupun motor. Sedangkan bagi Alina, jalan-jalan bukan hanya melangkah dengan kaki saja, tapi moment dari jalan-jalan itu harus ia rasakan juga.
“Kak,” kini Alina menatap Hero aneh.
Ya ampun, Alina rasa Hero bukan anak kecil lagi. Alina tahu jika seharusnya Hero mengerti dengan apa yang ia katakan. Tapi lelaki itu justru masih saja terlihat polos.
“Sudahlah, Alina benar-benar sangat bingung harus mengatakan apa lagi.”
Setelahnya Alina langsung menggandeng Hero begitu saja. Ia tidak peduli dengan respon lelaki itu yang hanya diam.
Apa Hero begitu tidak peka atau memang dia tidak pernah merasakan yang namanya jalan-jalan bersama?
Bukankah dia memiliki seorang kekasih yang dicintai?
...*****...
Seharian Alina berjalan-jalan bersama Hero. Pergi ke tempat mainan yang Alina sukai, membeli boneka dan pernak-pernik lucu nan menggemaskan.
Membeli es krim dan jalan-jalan.
Sehari itu terasa sangat cepat berlalu, hingga Alina bahkan merasa waktu sehari kurang.
Alina yang selesai membersihkan tubuhnya. Ia keluar dari kamarnya dan melihat jika Hero sudah rapi dan hendak pergi.
“Mau ke mana Kak?” tanya Alina heran.
Tidak menjawab, kebungkaman itu seakan membuat Alina hanya bisa diam. Alina diam dan menunggu Hero kembali.
Padahal baru saja mereka menghabiskan moment berdua, mungkin di sini hanya Alina yang merasa senang. Sedangkan Hero?
Entahlah.
Memilih untuk tetap tenang, Alina menonton televisi sambil menunggu kedatangan Hero.
Ke mana lelaki itu pergi?
Itu yang menjadi pertanyaan Alina saat ini.
Tapi tak lama kemudian Alina mendengar jika pintu diketuk. Mendengar itu Alina langsung melangkah ke arah pintu dan membukanya.
“Kak kenapa?” tanya Alina saat melihat jika penampilan Hero kini terlihat acak-acakan.
Kaos kemeja putih yang awalnya rapi dan terpasang sempurna, kini terlihat acak-acakan dan sedikit tak berbentuk. Belum lagi wajah Hero yang terlihat aneh, ia seolah merasa kepanasan dengan suhu tubuh panas saat Alina pegang.
“Panas,” keluh Hero.
“Sangat panas.”
Kancing yang awalnya hanya terbuka dua, kini menjadi terbuka sempurna dihadapan Alina. Melihat itu tentu Alina merasa heran.
“Kak, ya ampun.”
Dengan segera Alina membantu Hero masuk, meski sedikit kesusahan karena cara jalan Hero yang terlihat kelimpungan.
“Kak tunggu sini, Alina kunci pintu dulu.”
Alina takut, jika apa yang Hero lakukan nanti akan menjadi sebuah berita. Apalagi jika nanti ada praduga yang aneh-aneh.
Tapi saat berfikir ulang, Alina rasa itu tak mungkin. Ia tahu bahwa keluarga Sanjaya tak akan membiarkan berita buruk ataupun rumor muncul dipermukaan.
“Sebentar Kak, Alina ambil kompres untuk Kakak dulu ya,” kata Alina dengan wajah khawatir.
Saat hendak melangkah, sayangnya Hero langsung mencekal tangan Alina begitu saja. Hingga Alina yang tak siap menjadi terhuyung dan jatuh tepat di atas badan Hero.
“Kak,” kaget Alina.
Alina hendak bangkit, tapi saat Alina baru menjauhkan wajahnya dari perut sixpack Hero. Hero langsung menarik Alina lagi, kini wajah Hero semakin mendekat ke arah Alina.
Ciuman itu akhirnya terjadi. Bibir merah Hero bersatu dengan bibir pink Alina.
Alina yang melihat itu tentu terkesiap. Ia bahkan tidak tahu harus merespon seperti apa. Pikirannya kosong seketika itu juga. Tapi tak berapa lama Alina tersadar. Alina langsung memukul dada Hero dengan keras agar Hero melepaskan ciumannya itu.
Hero melepaskan ciuman itu, ia menatap Alina dengan berkabut. Terlihat dari cara Hero mengelap bibir Alina yang basah dengan cara sensual. Setelahnya tangan bekas mengelap bibir Alina itu Hero arahkan ke mulutnya.
Melihat itu tentu saja Alina mau tak mau menelan ludahnya.
Gila!
Ini beneran Hero 'kan? kenapa bisa seseksi itu dia saat ini?
“Kak, Kakak sudah sadar 'kan? sudah mendingan?” tanya Alina yang hanya Hero jawab anggukan.
“Saya pusing, terasa tak nyaman dimana-mana.”
“Apa perlu Alina bantu?” tanya Alina khawatir.
“Iya, saya memerlukan bantuan kamu. Bantu saya untuk menghilangkan rasa tak nyaman ini.”
“Tapi bagaimana caranya Kak? apa perlu Alina ambil air dingin? kalau begitu Alina harus bangkit dulu, posisi ini malah semakin membuat Kak Hero tambah tidak nyaman.”
Alina sadar jika posisi mereka kini sangat intim, ia duduk diperut Hero. Posisi yang intim seakan bisa membuat orang salah paham jika melihatnya.
“Bantu saya, bantu untuk hilangkan rasa tak nyaman ini,” ungkap Hero dengan tatapan memelasnya itu.
Tanpa berkata lagi, Hero langsung mencium Alina lagi, kini lebih dalam dan beringas dari tadi. Hingga Alina yang beberapa kali memukul Hero menjadi lemas dan tidak memiliki tenaga lagi.
“Kak, Alina hanya berharap jika apa yang kita lakukan ini. Di ingatan Kakak itu adalah Alina, bukan Kakak dan wanita lain yang tak lain adalah cinta pertama Kakak ini,” batin Alina yang merasa jika akhirnya malam pertama yang tertunda terjadi juga