
Melihat jika pengasuh yang membawa Caca hendak pulang. Awalnya Alina berniat untuk mengantar mereka, tapi ucapan dari Erna pengasuh Caca membuat Alina bungkam.
“Dokter, saya tahu akan niat baik Anda. Tapi sepertinya Anda juga perlu istirahat karena pasti saat ini Anda juga merasa lelah. Terimakasih atas kebaikan Anda hari ini, ” ungkap Erna dengan tersenyum.
Alina yang mendengar itu tentu balas tersenyum.
Saat Erna, Caca dan kedua pengawal itu tidak terlihat lagi. Alina hendak memasuki ruangannya itu, Alina berniat merapikan tempatnya dan pulang.
“Nggak nyangka selain dapat ruangan baru, hari ini aku juga mendapat sebuah berita tak terduga,” ungkap Alina selesai membereskan mejanya.
Alina hendak keluar, dan begitu membuka pintu Alina terkejut saat melihat jika ada seseorang yang berdiri di hadapannya.
“Kamu.”
Alina terkaget dengan orang yang ada dihadapannya saat ini. Hingga ia bahkan tidak bisa berkata-kata.
*****
Seharusnya jam segini Alina sudah berada di rumah. Tapi karena permintaan orang dihadapannya Alina kini hanya bisa memenuhi permintaan orang itu.
“Bagaimana kabar kamu Alinaku sayang,” ungkap orang itu yang ternyata laki-laki dan ia juga adalah dokter. Terlihat dari seragam yang ia kenakan.
“Raihan,” kesal Alina yang menahan amarahnya itu.
Orang yang ada dihadapannya kini adalah Raihan, sahabat sekaligus teman masa kecil Alina. Dari dulu Raihan memang tak berubah, ia sangat suka berkata seolah mereka sepasang kekasih dan hal itu kadang membuat orang yang mendengarnya sering salah paham.
“Kenapa? kamu nggak rindu pada sahabat kamu satu ini?” tanya Raihan dengan nada jahilnya.
“Bukan begitu, tetapi aku bukan Alina yang dulu lagi. Kamu harus mengerti kalau sekarang aku sudah menikah.”
“Kamu ini ya Alina, tiba-tiba keluar negeri, saat di sana juga jarang kasih kabar. Terus pas kembali datang kabar kalau kamu sudah menikah. Kamu sehat?”
Seperti seorang sahabat, perkataan mereka selalu terdengar becanda. Walau tak dapat dielak jika kata-kata menyinggung dari Raihan itu membuat Alina merasa kesal.
“Sehat, sangat sehat. Lalu, kenapa kamu di sini? bukankah kamu sedang berkuliah di luar negeri?”
“Aku baru aja menyelesaikan kuliah aku. Kamu nggak lihat kini aku pakai baju apa?” tanya Raihana yang terlihat menatap Alina aneh.
“Maaf, nggak terlalu perhatikan kamu.”
“Dasar emang nggak peka banget,” dengus Raihan tapi Alina hanya diam.
“Bukankah seharusnya kamu itu tinggal dan menetap di negara A 'kan? aku tahu sekali kalau ayah kamu ingin kamu mewarisi bisnis kuliner yang ada di sana.”
Alina ingat betul jika keinginan ayah dari Raihan sangat bertentangan dengan Raihan. Dari dulu sahabatnya itu sangat ingin menjadi seorang dokter, sedangkan kedua orangtuanya malah ingin agar Raihan mewarisi bisnis kuliner yang keluarganya miliki.
“Bukankah kamu tahu jika aku nggak pandai dalam memasak. Aku juga nggak ada bakat dalam bidang itu, jadi mereka jangan paksa aku untuk sesuatu hal yang tidak aku sukai.”
Raihan, sahabat Alina itu memang memiliki sifat yang keras kepala dan berpendirian. Jadi jika ia telah menentukan apa yang ia inginkan, tidak ada yang bisa menggangu gugat, bahkan orang tuanya sekalipun.
“Iya, bagi mereka itu terlihat yang terbaik. Tapi bagi aku yang akan menjalankan, apa memang itu akan terasa terbaik seperti yang mereka pikirkan?”
Sikap keras kepala Raihan itu, sangat susah untuk di rubah. Sekalipun Alina yang menasehati, laki-laki itu tetap keras kepala dan tidak mau mendengarkan.
“Ya sudah, itu keputusan kamu. Toh kamu yang bakal menjalankan itu semua. Lagipula sebagai sahabat kamu, aku cuman berniat untuk mengingatkan kamu,” acuh Alina.
Mendengar itu, Raihan hanya diam sejenak. Ia lalu menatap ke arah Alina dengan tatapan yang terlihat serius. “Kenapa di sini nggak ada yang tahu kalau kamu sudah menikah. Lalu mengapa tidak ada berita tentang kamu dan tuan Hero yang telah menikah?”
Sebagai seorang sahabat, Raihan tentu tahu jika Alina menikah dengan Hero. Tapi yang menjadi hal yang ia heran 'kan adalah, berita tentang pernikahan Hero dan Alina tidak ada sama sekali dinegara Z.
Padahal diluar negeri, khususnya di majalah bisnis, pernikahan itu telah diketahui.
“Kamu pasti tahu jika pernikahan kami tidak seperti pernikahan pada umumnya. Pernikahan kami tejadi karena aku yang memaksa untuk menikah dengan Kak Hero.”
Wajah murung Alina perlihatkan, Raihan yang tahu itu tentu hanya mengangguk tapi tidak mengatakan apapun.
“Tetap saja itu sangat keterlaluan! jika hanya publik atau masyarakat luas yang tidak tahu itu masih dalam batas wajar. Tapi ini masalahnya, pernikahan itu terlalu rahasia bahkan di tempat ini saja tidak ada yang tahu mengenai pernikahan kalian.”
Tempat ini yang Raihan maksud adalah rumah sakit Cendana. Karena kini Raihan masih berada di sekitar rumah sakit Cendana.
“Aneh sekali, pada saat aku mengatakan jika kamu telah menikah. Hampir semua orang tidak ada yang percaya akan hal itu,” jelas Raihan lagi saat melihat Alina hanya diam.
“Apa ini karena permintaan Hero?” tanya Raihan tapi Alina tetap diam.
“Ternyata kamu itu nggak berubah, masih baik, lugu dan polos. Saking polosnya kamu, boleh aku katakan kalau kamu bodoh?”
“Sudahlah. Jangan bahas hal itu, oh ya dimana sahabat kamu itu. Em ..., Belvita iya itu dia,” terlihat Raihan menanyakan tentang Belvita sambil berfikir seolah ia ingat jika Alina sering bercerita tentang sahabatnya itu.
“Belvita baik, dia sekarang hanya di rumah dan tidak bekerja. Usia kandungannya membuatnya sering merasa lelah walau hanya berjalan beberapa langkah.”
Alina menjelaskan secara detail tentang Belvita. Bahkan ia sampai menyebutkan alasan Belvita tidak bekerja lagi.
“Masih tidak menyangka jika sahabat baik kamu itu istri Kakak kamu. Kasihan juga, pasti ada rasa tertekan yang ia alami karena pernikahan yang tak terduga itu.”
“Alina,” panggil seseorang yang tak lain adalah Hero.
Melihat jika Hero ada dihadapannya dan menghampirinya. Alina hanya diam dan tidak berkata apa-apa.
“Kak Hero?”
“Kenapa belum pulang?”
Seperti biasa, mau itu saat berdua ataupun dihadapan orang lain. Hero selalu berkata datar pada Alina, walau hanya Alina dan beberapa orang yang tahu tentang sikap Hero yang tidak sedingin dan seacuh dulu pada Alina.
“Alina sedang mengobrol dengan teman baik Alina. Dia Raihan kak, Raihan dia Kak Hero suami Alina,” ucap Alina memperkenalkan. Tepat saat Alina menyebut kata suami, ia seolah sengaja memelankan ucapannya itu.
“Raihan,” ungkap Raihan sambil mengulurkan telapak tangan. Tapi tatapan datar dan sedikit acuh justru yang Hero perlihatkan.