
Sesampainya Alina dan Hero di rumah mereka, ia segera menyerahkan anaknya pada baby sister yang biasa menjaga anaknya selama ia sakit.
“Jangan lupa beri makan anak saya ya kak, dia kayaknya sudah mulai merasa lapar,” kata Alina langsung diangguki oleh baby sister itu sambil tersenyum sopan.
Alina yang melirik ke arah suaminya, ia melihat jika Hero kini hanya diam dan menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
“Ada apa? kenapa kamu tatap aku kayak gitu banget sih? ada yang salah?” tanya Alina.
Selama kurang lebih setahun ini, Alina bahkan pernah dinyatakan koma selama 1 bulan. Ia juga sering sekali mendengar betapa Hero selalu meluangkan waktu untuknya sesibuk apapun laki-laki itu.
Dan saat Alina sudah sadar, Hero benar-benar telah menyesali perbuatannya itu, ia sering menjenguk Alina di rumah sakit ataupun di rumah, meski saat itu Alina tidak pernah merespon dirinya dan hanya akan terus mengabaikan dirinya, tetapi dengan kegigihan dan juga dengan ketulusan serta keseriusan Hero pada akhirnya Alina mau tidak mau akhirnya luluh juga.
“Aku nggak ingin karena masalah surat ini kita nantinya akan bertengkar,” serius Hero menatap dalam istrinya. Ia benar-benar tidak ingin terjadi sedikitpun yang namanya pertengkaran.
Karena Hero sangat menghindari itu, ia akan selalu menjaga Alina tapi juga selalu mengalah pada Alina jika sedang berbeda pendapat. Dan jika hal itu menyangkut kepentingan Alina, ia akan mendahulukan kepentingan Alina lebih dulu dari pada kepentingannya sendiri.
Alina yang mendengar itu hanya tersenyum, ada sedikit candaan dan ledekan di mata Alina saat ia bisa melihat keseriusan Hero.
“Aku nggak nyangka kamu bakal setakut ini, Hero yang biasa aku kenal tenyata penakut ya,” ledek Alina dengan disertai candaannya.
Hero hanya menghela nafas panjang, ia tidak terlalu peduli dengan ledekan isterinya. Yang jelas Hero sudah benar-benar melupakan Alicia, ia juga ingin bahagia bersama Alina dan anaknya.
“Aku hanya tidak ingin jika karena hal ini kamu akan bersikap berbeda padaku,” ujar Hero.
Karena melihat berapa bersungguh-sungguhnya Hero, Alina pada akhirnya memutuskan agar mereka berdua membaca dua surat itu secara bersama-sama.
*****
Di kamar.
Alina dan Hero hanya terdiam dan saling menatap, mereka berdua telah berdiskusi sejenak untuk melihat surat mana yang akan mereka baca lebih dulu.
Pada akhirnya surat merah milik herolah yang akan mereka baca. Dengan sedikit cemas karena takut jika surat itu akan membuat dirinya disalahpahami oleh istrinya Hero membuka surat itu.
Untuk Hero.
Hay Hero, bagaimana kabar kamu saat membaca surat ini? aku harap kamu selalu baik-baik saja ya. Walau sebenarnya aku kadang nggak rela ninggalin kamu sedetik pun.
Ini aku, Alicia ...
Orang yang kamu sayangi dan cintai ...
Hampir tiga tahu kita berdua membangun hubungan...
di belakang Alina.
Hahahaha, aku sebenarnya ngga tahu apa yang ada dipikiran aku saat itu hingga memilih mengambil resiko demi bisa menjadi kekasih kamu ...
Dan aku lebih nggak menyangka kamu akan setuju dengan syaratku tanpa curiga sedikitpun padaku.
Aku merasa berterima kasih pada kepercayaan kamu itu, dan maaf ...
Maaf untuk semua kesalahanku padamu ...
Maaf untuk semua hal yang telah berlalu ...
Maaf untuk kebohongan aku selama ini ...
Surat penyemangat yang bagi kamu adalah surat penolong itu bukanlah surat yang aku buat sendiri ...
itu surat milik Alina, aku tidak tahu bagaimana bisa kamu berfikir itu dariku, mungkin karena aku pernah memberikan surat itu langsung padamu ...
Seringkali aku bertanya pada diriku, mengapa aku tega membohongi sahabatku demi bisa menjalin hubungan dengan kamu? kadang egoku yang tinggi ini selalu menyangkal hati nurani ...
Di satu sisi aku benar-benar sangat berterima kasih pada Alina yang telah bersikap baik padaku selama ini ... sepertinya hanya dialah satu-satunya orang yang benar-benar memperlakukan aku sangat baik ...
Aku kehilangan kasih sayang kedua orangtuaku karena mereka lebih menyayangi saudara kembarku ... dan hanya Alina lah yang benar-benar berlaku bagai saudara dan keluarga ...
Meskipun begitu, egoku seakan lebih mengambil alih pikiranku. Bukankah Alina selama ini hidup dengan sangat bahagia? dia memiliki saudara yang sangat baik dan sangat menjaganya? kedua orangtua Alina pun sangat menyayanginya.
Lalu apa salahnya jika aku mengambil sedikit saja kebahagiaan miliknya? cintanya? yaitu kamu Hero ...
Awalnya aku hanya ingin merasakan sebuah kebahagiaan semu itu sementara waktu sampai aku merasa puas ... sayangnya kebaikan kamu membuatku menjadi serakah dan ingin memiliki kamu seutuhnya ...
Aku selalu membuat kamu berselisih dengan keluarga kamu ..., berusaha menjauhkan kamu dari Alina tanpa kamu sadari ..., dan aku juga mengaku salah karena pernah berniat menjauhkan kamu dari ibu kamu sendiri saat itu ...
Maaf, ini benar-benar salahku ...
Aku hanya berharap jika kamu dapat memaafkan aku, aku hanya berharap suatu saat Alina yang tahu akan kebenaran ini juga mau memaafkan diriku ...
Selamanya aku akan tetap mencintai kamu Hero ... semoga berbahagia selalu ... lupakanlah aku ...
Dari
Cinta pertamamu,
Alicia.
Selepas membaca surat itu, Hero hanya terdiam dan melirik ke arah Alina yang tidak mengatakan apapun. Alina hanya merenung dan tidak berkata apa-apa.
Hero yang melihat itu langsung menepuk bahu Alina dengan khawatir. “Apakah kamu baik-baik saja?”
Alina yang sadar dari lamunannya itu, ia hanya tersenyum sebagai jawaban atas pertanyaan Hero.
“Beneran? yakin?” tanya Hero memastikan.
Alina yang mendengar itu lagi-lagi hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia tidak mengatakan apapun seolah terlihat termenung.
Meskipun begitu, tidak ada air mata di wajah Alina, tidak ada setetes air mata yang melampaui jika Alina merasa sedih dan terkhianati.
“Tidak apa-apa, jika kamu memang merasa kurang nyaman, coba ceritakan saja padaku,” kata Hero lagi yang terus membujuk Alina.
Alina lagi-lagi hanya merespon dengan gelengan. Ia lalu menjauhkan kedua tangan Hero dari bahunya dengan gerakan lembut dan tenang.
“Tinggal suratku yang harus aku baca,” kata Alina yang bersiap untuk membuka suratnya, tapi dengan segera Hero mengambil surat itu dari Alina.
Hero mengarahkan pandangan Alina agar menatap ke arahnya. “Katakan saja jika kamu sedih atau tidak nyaman, aku justru merasa semakin khawatir jika melihat kamu yang bersikap seperti ini,” jujur Hero.
Hero menatap ke arah Alina dengan tatapan matanya yang dalam, ia ingin melihat dari mata Alina jika memang Alina kini tidak nyaman atau Alina sedang merasa sedih.
“Tidak apa-apa, aku menghargai kejujuran Alicia,” jawab Alina dengan senyuman pada Hero.