Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#7 Tanggungjawab?



Begitu turun tangga, langkah Alina bergerak dengan sedikit lambat. Ini bukan karena Alina sedang gugup atau malu-malu, tapi karena orang yang ia cari tidak ada di meja makan.


Hero


Lelaki itu tidak ada di depan sana, karena di meja makan hanya ada Bram, Hanny, Setoni, serta ibunya. Berarti dengan kedatangan Alina dan kakaknya Eron, di meja makan hanya ada 6 orang.


“Bunda sendiri?” tanya Alina tanpa sadar.


“Bunda nggak sendiri kok, Bunda datang bareng suami Bunda ke sini,” jawab Hanny sambil tersenyum. Ia mengerti dengan arti tatapan menantu yang sudah seperti anaknya sendiri.


Hanny memiliki rencana sendiri agar Hero yang sibuk mau datang ke sini.


“Ke sini sayang, duduk,” panggil Amina saat melihat Alina hanya berdiri diam mematung.


*****


“Bro, Lo ada di sini?” tanya Farrel heran. Seharusnya Hero bisa pulang lebih cepat untuk hari ini, karena untuk saat ini jadwal Hero tidak terlalu banyak.


“Iya,” jawab Hero singkat, ia masih saja fokus pada laptopnya dan mengetik kata-kata atau angka-angka yang tentunya hanya Hero yang tahu apa yang sedang ia kerjakan.


“Bukannya Lo seharusnya sudah pulang ya? kenapa masih ada di sini?” tanya Farrel lagi. Karena kedekatan mereka berdua, Farrel tidak asing lagi dengan kata Lo' dan gue, biasanya untuk sebuah keformalan mereka akan menggunakan kata aku' kamu' atau saya' Anda'.


Hero tidak menjawab, ia malah memilih semakin fokus mengerjakan pekerjaannya.


“Lagi ngerjain tugas perusahaan?”


Lagi-lagi Hero tidak menjawab, ia hanya diam karena menurutnya pertanyaan itu tidak lagi membutuhkan jawaban dari dirinya.


“Ya elah bro, Lo kalau lagi fokus bener-benar ya,” ucap Farrel dengan geleng-geleng kepala.


Memang pantas dulu dirinya menganggap Hero itu sombong karena cuek dan dingin. Seandainya Farrel tidak tahu seberapa baiknya Hero mungkin ia tidak akan pernah dekat dengan Hero.


“Ini masih di rumah sakit, seharusnya kamu memanggil saya dengan sebutan dokter bukan dengan panggilan Bro,” kata Hero dengan cueknya.


“Oke, kalau gitu saya ingin tanya kenapa anyda ada di sini dok?” tanya Farrel akhirnya mengalah.


Hero hanya diam, ia tidak berkata apapun.


Flashback.


Hero yang hendak menuju rumah sakit sekembalinya dari bandara, tapi langkahnya terhenti begitu Sang ibu memanggilnya.


“Hero kamu pulang cepat 'kan hari ini?” tanya Hanny dengan pandangan yang terlihat berharap. Hanny jelas tahu betul bagaimana hubungan anaknya dan menantu kesayangannya itu.


Hero diam, ia tidak langsung menjawab. Hanny yang paham jika Hero tidak mengerti, ia langsung berniat untuk menjelaskan.


“Rencananya kita akan makan malam di keluarga Angkasa, anggap saja ini perayaan atas kembalinya kedua orang tua Alina. Bukankah sudah beberapa hari ini mereka di luar negeri, jadi Bunda ingin agar kita bisa berkumpul sambil makan malam,” jelas Hanny.


Sebenarnya alasan utamanya ya untuk mengakrabkan hubungan persahabatan, juga mendekatkan antara Alina dan Hero.


“Tadi Bunda dan Mamah Amina sempat ngobrol sebentar, kami sepakat untuk makan malam bersama,” lanjut Hanny lagi.


“Kenapa hanya diam? jawab dong!”


“Hero nggak bisa Bun, pekerjaan Hero di perusahaan perlu Hero kerjakan langsung.”


“Kalau masalah tugas perusahaan kamu nggak perlu khawatir, biar nanti itu ayah kamu yang selesaikan. Kamu tinggal ikut makan bersama sama kita aja,” ucap Hanny terkesan memaksa agar Hero ikut.


“Bun,” Hero menekan panggilan itu tapi nadanya masih terdengar pelan, seakan ia sangat menghormati ibunya.


Meski anak tunggal, Hero di didik dengan tegas dan keras. Ia diharuskan untuk memiliki mental sekuat baja, dan punggung yang kokoh untuk menanggung segala bentuk tanggungjawab yang perlu dikerjakan olehnya.


Hal itu membuat Hero memiliki pendirian yang kuat akan keinginannya, ia memang terkenal keras kepala dengan segala hal yang diinginkannya.


Bagi Hero, jika hal itu baik dan segala konsekuensinya bisa ia pertanggungjawabkan, maka akan ia lakukan. Karena segala hal pasti ada konsekuensi dan tanggung jawab.


“Ini pasti gara-gara ayah, kamu jadi sangat keras kepala begini. Dasar ayah dan anak ini sama aja, sama-sama keras kepala,” gerutu Hanny sedikit mencebik.


“Lalu mengapa kamu tidak bertanggungjawab pada Alina? anggap saja dengan pertemuan ini kamu sedang menjalankan kewajiban sebagai seorang suami yang ingin mempersatukan hubungan ayah dan anak agar lebih baik.”


Perkataan panjang lebar dari Hanny, yang seakan berkata jika Alina yang sudah menjadi istri Hero, kini wanita itu juga perlu perhatian dan kepedulian dari Hero.


Hero yang mendengar itu hanya diam, ia tidak berkata apa-apa.


Flashback end


“Bro, Lo ngelamun lagi,” ucap Farrel yang langsung menyadarkan Hero dari lamunannya.


“Dok,” tiba-tiba seorang dokter wanita datang memasuki ruangan Hero yang terbuka.


“Hay dokter Syela,” sapa Farrel ramah. Ia merapikan rambut dan jaket putih kebanggaan miliknya agar terlihat keren.


Sayangnya Syela hanya tersenyum singkat, karena yang menjadi perhatian ia saat ini adalah Hero.


“Dok, apakah Anda memiliki waktu luang untuk hari ini? saya saat ini memiliki waktu senggang,” ungkap Syela langsung tanpa malu-malu.


Syela merupakan seorang dokter kecantikan, terlihat jelas dari wajahnya yang amat bersih dan sehat. Hal itu membuat dirinya seakan terlihat sangat menjaga dan merawat wajah dan tubuhnya.


“Hero sangat sibuk dok, biar aku saja yang temani,” jawab Farrel langsung berdiri.


“Mohon maaf dokter Farrel, saya sedang berbicara dengan dokter Hero. Saya harap anda tidak menyela pembicaraan kami,” jawab Syela dengan senyuman.


Farrel yang mendengar itu langsung kembali duduk, ia memilih untuk tidak berkata apa-apa lagi. Padahal ia hanya berniat membantu Syela, setidaknya Syela tidak akan terlalu malu jika di tolak oleh Hero. Karena selain Hero sangat sibuk, Hero juga tidak pernah terlihat dekat dengan siapapun wanita itu.


Bahkan, Farrel pikir jika rumor tentang Hero yang sudah menikah, itu tak lain hanya gosip yang sengaja dibuat-buat.


“Bagaimana dokter Hero, apakah Anda memiliki waktu luang untuk hari ini?” tanya Syela dengan pandangan penuh harapan.


“Saya tidak bisa, tapi saya yakin jika dokter Farrel bisa menemani Anda hari ini,” jawab Hero langsung. Ia bukan tipe orang yang merasa tidak enak sehingga berkata lembut agar tidak menyakiti, tapi ia adalah laki-laki yang langsung to the point. Karena menurut dirinya itu jauh lebih baik agar tidak membuat orang semakin berharap padanya.


“Kalau begitu kapan Anda memiliki waktu luang? setidaknya beri tahu saya agar saya bisa menyesuaikan jadwal,” kata Syela lagi, masih dengan senyuman di wajahnya. Ia sepertinya memang tipe perempuan yang tidak gampang menyerah. Entah sudah ke berapa kali ia mengajak makan Syela, yang jelas hanya Syela yang mengingat itu dengan jelas.


“Saya tidak tahu,” jawab Hero, ia langsung bangkit begitu mendapat sebuah telepon dari seseorang.


“Iya Bund Hero akan ke sana.”


Tanpa berkata apapun Hero langsung pergi begitu selesai membereskan dokumen dan memasukan laptopnya.


Padahal Hero sudah sejelas itu menolak Syela, tapi sayangnya Syela tidak menyadari jika Hero merasa terganggu dengan usahanya yang ingin mendekati Hero.


“Ini pasti gara-gara asisten jelek itu!” ucap Syela yang terdengar merasa kesal dan marah, ia terlihat seolah menganggap Alina itu musuhnya.


#####


Note: maaf jika banyak flashbacknya, soalnya ceritanya alurnya maju mundur.


Mohon dukungannya 🥰