
Sepanjang perjalanan menuju kota tempat mereka tinggal. Alina terlihat hanya diam, ia tidak banyak bicara.
Sangat berbeda sekali dengan Syela yang duduk disampingnya. Wanita itu secara terang-terangan menunjukkan kalau ia sedang berebut perhatian dengan Alina.
Syela bahkan tak henti-hentinya untuk berusaha mengajak ngobrol Hero yang duduk di bangku depan tepat di samping Farrel yang mengemudi. Farrel yang bahkan sedang menyetir merasa risih walau yang dipanggil terus menerus adalah Hero bukan dirinya.
“Dokter Hero, Anda sangat hebat. Ayah juga pasti akan merasa sangat berterimakasih kepada Anda karena telah menjalankan tugas dengan baik, Anda seakan sangat menjaga nama baik dari rumah sakit keluarga kami,” ucap Syela yang terdengar seolah ia sedang menyanjung.
Sebenarnya, alasan Syela yang begitu tidak tahu malu dan sangat gigih mendekati Hero adalah karena ia berfikir jika Hero memiliki perasaan padanya, ia bisa berfikir seperti itu karena Hero memilih bekerja di rumah sakit Cendana daripada rumah sakit Angkasa yang notabenya rumah sakit terbaik.
“Itu sudah tugas saya, apapun yang saya lakukan itu karena kewajiban saya dan tidak ada hubungannya dengan rumah sakit Cendana,” ucap Hero datar.
Farrel yang berada disamping Hero bahkan tertawa tertahan, ia seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Syela.
Padahal, tidak ada seorang pun yang tahu tentang alasan mengapa Hero memilih bekerja di rumah sakit Cendana dibandingkan rumah sakit Angkasa. Karena hanya Herolah yang paling tahu alasannya.
...*****...
Alina memasuki kamarnya.
Saat akan membereskan pakaiannya, Alina melihat jika Sang Ibu sedang menunggunya dengan duduk di kasur miliknya.
Begitu melihat kedatangannya, Amina bahkan langsung mendekati Alina. Ia melihat Alina dengan seksama, ia juga mengecek dan memastikan jika kondisi anaknya itu baik-baik saja.
“Kenapa bisa di sini ada sedikit merah-merah?” tanya Amina dengan nada khawatirnya.
Alina yang mendengar itu hanya tersenyum dengan cengengesan, ia menatap ibunya lalu mengusap tangan Sang Ibu dengan lembut.
“Alina baik-baik saja Mah, ini hanya penyakit ruam biasa, jadi Mamah jangan khawatir ya,” jelas Alina.
“'Kan Mamah sudah bilang ke kamu agar jangan terjun langsung, kamu tahu, pada saat Mamah dengar kamu terjun langsung ke tempat itu, rasanya Mamah ingin datang dan menyeret kamu untuk pulang. Tapi Papah kamu jelas melarang Mamah,” jelas Amina terdengar bercerita sambil menggerutu.
Alina yang mendengar itu, ia bahkan hanya merespon dengan tawa kecilnya. Ia jelas tahu dan bisa memaklumi kekhawatiran ibunya, maka itu Alina tidak bisa kesal ataupun marah.
“Andai nenek kamu tidak meminta kamu untuk menjadi dokter, pasti kamu hanya akan di rumah dan tidak perlu untuk bekerja,” ucap Amina. Ia selalu memperlakukan Alina layaknya anak kecil.
“Justru permintaan nenek, itulah yang terbaik untuk Alina. Dan Alina menerima itu dengan tulus tanpa merasa keberatan sama sekali.”
...*****...
Hero yang baru saja pulang, ia langsung disambut oleh Sang ibu, Hanny. Wanita itu terlihat sangat senang melihat kedatangan anaknya yang terlihat baik-baik saja.
Tapi sebagai Ibu, ia tentu memiliki kekhawatiran lebih pada Sang Anak, Hanny sesekali meminta anaknya memutar dan memastikan jika anaknya benar-benar baik-baik saja.
Hero yang diperlakukan seperti itu, ia bahkan hanya bisa pasrah dan menghela nafas.
“Hero sehat Bun, tidak ada yang perlu untuk dikhawatirkan.”
“Tetap saja, bagi seorang ibu mereka akan merasa sangat khawatir pada anaknya. Sekalipun anaknya mengatakan jika ia baik-baik saja, ibu itu akan tetap memastikan langsung, jika di rasa memang benar baik-baik saja, kami baru akan merasa bisa tenang,” jawab Hanny.
Hanny terus saja mengecek dan memastikan jika kondisi anaknya kini benar-benar baik-baik saja.
“Sudah?” kini Hero bertanya setelah hampir 15 menit berlalu, Hero hanya diam dengan ibunya yang mengecek keadaannya dengan detail.
...........
Di ruang makan, Hanny hanya diam dengan tatapan yang tak lepas dari anaknya, ia terlihat memperhatikan anaknya tanpa peduli jika anaknya merasa tak nyaman karena terus di perhatikan.
“Ada sesuatu yang ingin Bunda bicarakan?” tanya Hero menjeda sejenak acara makannya.
Hanny hanya tersenyum lalu menggeleng. Hal itu membuat Hero merasa heran, tapi meski begitu Hero memilih untuk melanjutkan acara makannya.
“Nanti akan Bunda katakan pada kamu sesuatu yang ingin Bunda bicarakan, tapi itu nanti. Saat ayah datang untuk makan malam bersama,” jelas Hanny dan Hero hanya mengangguk tanpa harus menghentikan aktivitas makannya.
...........
Malam hari.
Bram datang untuk memenuhi janjinya pada Sang istri, mungkin siang hari atau sore ataupun saat ada hal penting, ia dibolehkan untuk makan di luar. Tapi ia juga diharuskan untuk sering makan di rumah, itu tak lain agar mereka memiliki waktu bersama walau hanya untuk sekedar makan malam.
“Ayah,” ucap Hanny dengan mengkode ditengah acara makan mereka.
Hero yang sedang memakan makanannya, ia sedikit menoleh dan menatap ke arah ibunya. Tatapan heran ia tunjukkan. Tapi sejenak, ia bisa tahu apa yang akan mereka katakan.
“Oh ya, hampir ayah lupa.” Bram menaruh sendok dan garpu yang ia pegang, lalu ia menatap ke arah Hero dengan tatapan matanya yang menatap Hero dengan lama.
“Ayah ingin membahas masalah pernikahan kamu, ayah dengar kamu lebih sering pulang ke sebuah apartemen yang bukan nama kamu? apa hal itu benar?” tanya Bram dengan tatapan tajamnya.
Hero terlihat biasa saja seolah tak merasa terkejut sama sekali dengan apa yang Bram bicarakan. Karena, Hero memang tidak sedang menutupi hal itu.
“Iya,” jawab Hero dengan wajah datarnya.
“Alina sekarang itu istri kamu, tapi kenapa kamu jarang pulang ke mansion yang kami berikan untuk kamu?” tanya Hanny.
Seandainya Hero tahu jika Alina rela memaksanya untuk menikah, itu tak lain karena wanita itu sangat mencintai Hero, ia ingin membuat Hero memiliki semangat hidup lagi. Alina ingin agar Hero juga memiliki semangat untuk hidup lagi.
Selain itu, alasan Alina setuju untuk menikah dengan Hero adalah karena ia memohon pada Alina untuk menikahi Hero.
Flashback
“Bunda mohon sayang, tolong bantu Bunda. Buat Hero bisa bangkit lagi dan punya keinginan untuk hidup. Bunda khawatir dengan keadaan dia yang hanya mementingkan pekerjaannya dibandingkan dirinya sendiri,” pinta Hanny dengan nada memohon.
Kini Alina dan Hanny sedang berada di sebuah restoran yang sangat privasi hingga hanya ada mereka saja.
“Tapi Alina tidak tahu bagaimana caranya Bun, bagaimana agar Alina bisa membuat Kak Hero semangat lagi, Alina bahkan tidak tahu,” jawab Alina yang ingin menyerah akan cintanya itu, walaupun Alina tahu itu sangat sulit dan hampir mustahil.
“Tolong menikah dengan Hero sayang, buat Hero bisa mencintai kamu, Bunda mohon,” pinta Hanny.
“Bagaimana caranya?” tanya Alina bingung.
“Alina, kamu telah berhasil menyelamatkan Hero dengan sebuah pengorbanan nyawa, dia pasti akan merasa berhutang Budi. Dan Bunda tahu jika Hero tidak akan tidak akan membiarkan dirinya terlarut dalam hutang Budi. Mintalah dia untuk menikah dengan kamu, dengan begitu dia pasti akan setuju.”
Mata Hanny terlihat berkaca-kaca dan memohon, terlihat wajah frustasi seorang ibu yang membuat siapa saja tak tega.
Akhirnya Alina mengangguk, ia berfikir jika ia bisa mencoba untuk menikah dengan Hero, mungkin saja lelaki itu akan mencintainya. Tidak peduli jika halangan terbesar untuknya adalah masa lalu Hero sendiri.