
Alina yang kini berada di restoran, ia hanya diam saat mendengar keluhan dari sahabatnya, Belvita. Wajah Alina terlihat tidak terlalu memperhatikan apa yang Belvita katakan.
Itu karena Alina kini sedang berfikir pada sesuatu hal yang menjadi alasan ia berfikir dengan sangat keras. Kedatangan Alisa ke negara ini, adalah sebuah hal yang tak pernah Alina duga selama ini.
“Apa ada sesuatu hal yang sedang kamu pikirkan Alina?” tanya Belvita yang terkesan penasaran.
Alina hanya menggeleng, ia berusaha tenang walau sebenarnya ada banyak hal yang menjadi alasan ia berfikir dengan sangat keras.
“Gimana kemajuan hubungan kamu dengan Kak Bian?” tanya Alina yang hanya dijawab gedikan bahu.
“Entahlah, seperti biasa. Nggak ada yang namanya sebuah kemajuan dihubungan kami, ya seperti yang mungkin sudah orang-orang lihat.”
Perkataan Belvita terdengar seperti hubungan antara dirinya dan Bian tidak terlalu baik. Hal itu sontak langsung membuat Reina menatap ke arahnya.
“Kak Bian berperilaku kasar ke kamu?” tanya Alina langsung dijawab gelengan.
“Tidak! dia justru baik. Ya tapi, gitulah, aku nggak bisa jelasin ke kamu lebih jauh. Bahkan tanpa aku jelaskan kamu pasti paham.”
...*****...
“Alina,” panggil Hanny dengan wajah yang terlihat marah. Hanny terlihat marah tapi bukan pada Alina, melainkan pada orang yang ada disampingnya.
Hero, laki-laki itu kini hanya diam dan tidak bergeming ataupun berkata apa-apa. Dan diamnya Hero tentu membuat Alina merasa bingung.
“Kapan jadwal kamu cek kandungan?” tanya Hanny langsung.
“Kemungkinan dua minggu lagi Bun. Kenapa memangnya?” tanya Alina ragu.
Belum pernah Alina melihat wajah kesal dan raut marah Hanny. Wanita itu kini benar-benar terlihat marah dan kesal pada anaknya.
“Kamu nanti cek kandungan bareng Hero ya sayang. Jangan sendiri, itu 'kan bukan hanya anak kamu aja. Ada laki-laki yang mesti tanggung jawab sebagai ayah dari anak kamu itu.”
Perkataan Hanny langsung membuat Alina tersadar. Jika kini Hanny seperti sedang marah pada anaknya, Hero. Tatapan Hanny terlihat kesal dan marah, entah karena apa Alina juga tak tahu.
“Bun, kalau misalkan Kak Hero sibuk, Alina sendiri aja. Nggak apa-apa, Alina sendiri juga bisa Kok.”
“Nggak! sebagai ayah Hero juga harus ikut. Mau sesibuk apapun dia, dia harus tetap ikut. Memangnya dia nggak mau tanggung jawab untuk anaknya sendiri? jangan cuman enaknya doang. Toh bagaimana hadirnya anak ini, Hero tetaplah ayahnya.”
“Tapi Bun ...,”
“Hero akan ikut,” putus Hero yang langsung dihadiahkan tatapan tajam dari Hanny.
“Sudah saatnya kamu untuk menatap masa depan. Cobalah untuk menata kehidupan kamu agar lebih baik, lupakan masa lalu yang nantinya akan membuat kamu menyesal dikemudian hari.”
Kata-kata Hanny mengandung peringatan yang hanya Hanny dan Hero yang tahu. Sedangkan Alina yang tak paham hanya diam dan tak bisa berkomentar apa-apa.
...*****...
2 Minggu kemudian.
Seperti yang telah dijanjikan. Hari ini adalah hari dimana Alina akan memeriksa kandungan. Ia akan memeriksa keadaan kandungannya untuk pertama kalinya bersama Hero.
Janjinya Hero akan menemui Alina langsung setelah jam makan siang. Tapi hingga Alina selesai makan siang, justru Hero belum kunjung datang juga.
“Nggak jadi cek kandungan?” tanya Raihan yang tahu jika hari ini Alina akan cek kandungan. Ia juga tahu jika Alina sedang hamil.
“Lagi nunggu Kak Hero.”
“Suami kamu itu ya, benar-benar bikin kesal dan naik darah. Sudah tahu punya janji sama istrinya, tapi untuk meninggalkan sebentar saja pekerjaannya serasa nggak rela kayak gitu.” Pandangan mata Raihan terlihat kesal.
Raihan kesal karena menurutnya Hero keterlaluan, ia bahkan tidak pernah bersyukur bisa memiliki sahabat baiknya Alina. Wanita cantik yang dengan sabar dan setia cinta pada laki-laki itu.
Betapa beruntungnya Hero, ia bahkan tidak sadar jika berhasil memiliki sebuah berlian digenggaman tangannya itu.
“Jangan begitu, jangan bikin aku kesel dengan cara bicara kamu.”
“Alina,” panggil Raihan dengan wajah serius. Ia mengabaikan apa yang Alina katakan.
“Suatu saat jika kamu lelah dengan ini semua, menyerah saja. Kadang apa yang kita harapkan dan inginkan tidak selaku sesuai dengan kenyataan. Tapi percayalah itu pasti yang terbaik.”
Alina hanya diam, ia berfikir matang-matang. Apa Alina harus menyerah saat ini? tapi alasan apa ia harus menyerah saat ini?
“Alina,” panggil Hero yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
Hero tidak sendiri, ia sedang bersama dengan seseorang yang Alina kenal.
“Maaf, tadi Kak Hero lama karena dia bantu aku dulu.”
Perkataan Alisa hanya dijawab kebungkaman dari Alina. Alina hanya diam dan tidak berkata apa-apa. Kenapa? kenapa disaat Alina berusaha untuk menghilangkan dugaan buruk tentang Hero dan Alisa, kenapa justru saat melihat mereka datang. Dugaan itu kembali muncul begitu saja.
“Sebagai seorang sahabat hanya itu yang aku katakan. Ingat, apapun masalah kamu, kamu bisa curhat apapun padaku.” Setelah mengatakan itu, Raihan langsung berjalan menjauh. Ia sempat berhenti sejenak di depan Hero dan berbisik kata-kata yang jelas Alina sendiri tidak tahu.
...*****...
Alina yang kini sedang berada di dalam mobil bersama Hero. Ia hanya diam saat melihat wajah Hero yang kurang bersahabat. Laki-laki itu hanya diam dan tidak berkata apa-apa.
Alina sebenarnya bingung apa yang Raihan katakan pada Hero hingga laki-laki itu hanya diam saja dan tidak berkata apa-apa.
“Kak Hero boleh aku ikut ke mana kalian akan pergi?” tanya Alisa yang masih berada satu mobil dengan Hero dan Alina.
“Tidak! kamu harus pulang, kamu perlu istrirahat agar luka kamu tidak bertambah parah lagi.” perintah Hero yang langsung diangguki pasrah oleh Alisa.
Sedangkan Alina yang mendengar itu hanya berfikir. Mungkin Hero tidak ingin ada yang tahu tentang hubungan mereka berdua, tentang Alina yang hamil dan tentang Alina yang telah menjadi istri dari laki-laki itu.
Bahkan untuk periksa kehamilan saja mereka kini akan memeriksa di tempat lain yang berbeda dari rumah sakit Cendana.
“Kenapa bisa kamu terluka Alisa?”tanya Alina memilih untuk bertanya dibandingkan harus melamun dengan pemikiran yang terus berkecamuk tak jelas.
“Alisa tidak tahu kak, mungkin karena Alisa sempat melamun jadi Alisa sempat terjatuh.”
Penjelasan Alisa hanya bisa Alina angguki sebagai jawaban. Alasan utama Alisa memanggil Alina sebagai Kakak karena ia memanggil kembarannya dengan sebutan Kakak'.
Otomatis Alina yang juga teman Kakaknya juga dipanggil dengan sebutan Kakak'.