Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Periksa kandungan



Alina yang kini sedang berhias diri, ia terlihat seolah sedang memperhatikan penampilannya saat ini.


“Mau ke mana?”


“Ke mana aja boleh,” acuh Alina.


Meski Alina mengabaikan Hero, tapi setiap kali ia ditanya oleh laki-laki itu, Alina selalu menjawabnya. Memang sebaik hati itu Alina, hingga ia masih bisa menjawab pertanyaan Hero sekalipun Alina sedang marah. Hanya saja, sikap acuh dan tak peduli Alina tidak hilang. Ia masih mengabaikan Hero, sekalipun laki-laki itu entah mengapa sering pulang cepat.


“Alina,” nada suara Hero sedikit menggeram pelan karena kesal terus-menerus diabaikan. Bahkan ini mungkin hampir sebulan.


Lalu, apa kabar dengan Alina yang selama ini terus berjuang dan diabaikan oleh Hero?


“Alina akan pergi periksa kehamilan, Alina hari ini memiliki jadwa chek-up,” jawab Alina pada akhirnya.


Alina rutin memeriksakan kandungannya dua Minggu sekali, jadi Alina memang sering ke rumah sakit. Ia bisa saja menyewa dokter pribadi untuknya, sayangnya Alina menolak itu, awalnya itu Alina lakukan agar Hero ada waktu untuk mengantarnya ke rumah sakit.


“Biar aku yang antar kalau begitu,” kata Hero yang mengambil keputusan secara sepihak.


“Kakak nggak usah antar Alina, karena Raihan sudah Alina minta untuk datang. Jadi biarkan Raihan yang akan mengantar Alina ke dokter,” kata Alina.


Langsung saja langkah Hero terhenti, ia berbalik dan menatap Alina dengan tatapan heran dan sedikit tak percaya. “Kakak suami kamu, dan ayah dari anak yang ada dalam kandungan kamu. Bukan Raihan!”


“Alina tahu kok, sejak kapan anak ini berubah jadi anak Raihan? kecuali jika Kakak berfikir Alina berselingkuh dengan Raihan,” kata Alina dengan nada khas yang sedikit menyindir.


“Akan Kakak antar kamu!” putus Hero yang tidak ingin diganggu gugat.


*****


Saat di luar.


Alina sudah di sambut oleh Hero yang siap dengan mobil Lamborghini miliknya. Dan disampingnya ada Raihan dengan mobil sport miliknya.


“Kak, Alina akan tetap dengan Raihan. Alina nggak akan bisa membatalkan janji dengan Raihan, ia sudah datang ke sini jauh-jauh!” putus Alina yang lebih mau masuk tanpa ragu pada mobil sport milik Raihan.


Hero yang benar-benar terabaikan dan merasa tidak dianggap. Ia hanya bisa mengepalkan tangan menahan rasa kesal dan marahnya.


Meski begitu, Hero mengikuti mobil spor Raihan yang berjalan menuju rumah sakit. Melihat Alina turun dari mobilnya, Hero juga ikut turun. Ia lantas segera untuk mengaitkan tangannya dengan Alina.


“Kak, tolong jangan buat Alina berfikir jika Kakak sedang cemburu, itu hanya akan membuat Alina menjadi lebih berharap lagi,” batin Alina yang langsung menatap Hero yang hanya diam.


“Hey bro! Anda tidak bisa bersikap santai?” kata Raihan dengan nada sinis yang kurang bersahabat.


“Istri Anda sedang hamil, jadi untuk apa Anda berjalan secepat itu? apa Anda tidak sabar untuk bercerai dari Alina hingga ingin membuatnya keguguran.”


“Maksud kamu?!”


Hero yang biasanya tenang dan tidak pernah terlihat marah, sekalipun saat ia menghadapi masalah yang sangat serius. Kini karena ucapan Raihan ia langsung marah karena merasa itu keterlaluan.


“Raihan,” kesal Alina. Ia tidak sedang membela Hero, hanya saja ucapan sahabatnya terdengar keterlaluan.


Hero memang tak peduli, ia acuh dan lebih sering memprioritaskan pekerjaannya dibandingkan Alina. Tapi sesekali Hero akan mengingatkan Alina untuk menjaga kesehatannya atau harus sering beristirahat. Hero juga sering menghubungi ibunya agar bisa menjaga Alina untuknya.


Entah, jika Alina tidak sedang hamil, apakah Hero masih akan perhatian seperti itu?


“Sorry,” kata Raihan tanpa ketulusan saat berbicara dengan Hero.


“Maaf Alina,” ungkap Raihan yang melihat jika Alina kini terlihat sangat kesal padanya. Kali ini, ia berbicara tulus pada Reina.


Memilih pada niat awalnya, Alina langsung berjalan memasuki rumah sakit. Itu bukan rumah sakit milik keluarganya ataupun rumah sakit Cendana.


Alasan Alina memilih untuk sering mengecek ke rumah sakit itu, karena harapannya yang bisa diantar jemput oleh Hero kandas begitu lelaki itu lebih memilih tugas dan pekerjaannya.


Alina tahu dirinya tak bisa egois, tapi tidak bisakah lelaki itu mengusahakan sedikit saja waktunya untuk dirinya. Mungkin Alina akan berusaha untuk mengikuti jadwal Hero saat akan mengecek kandungan.


“Nyonya Alina,” panggil seorang perawat yang berjaga tepat di depan ruang dokter kandungan.


Mendengar namanya dipanggil, sontak Alina langsung saja bangkit, ia hendak memasuki ruangan itu seperti biasa, tapi langkahnya mendadak terhenti saat ia dengar apa yang perawat itu katakan.


“Nyonya Alina, yang mana suami Anda? apa mereka berdua adalah suami Anda?” tanya perawat itu yang sontak saja langsung membuat Alina menatap ke arah belakangnya.


Alina melihat jika kini Hero dan Raihan sama-sama bangkit. Seolah laki-laki yang terlihat belum paham mengenai urusan pemeriksaan kandungan, mereka dengan tidak tahunya ingin masuk.


“Suami saya?” Alina kini bertanya pada dirinya sendiri, haruskah ia mengungkapkan identitasnya sebagai istri dari Hero.


Lelaki itu saja masih belum mau mengakui dirinya sebagai istrinya, jadi bagaimana Alina bisa mengakui Hero sebagai suaminya.


“Dia suami saya,” tanpa diduga Alina memilih untuk menunjuk ke arah Raihan.


Saking tidak pernahnya Hero mengantar Alina untuk mengecek kandungan, ia bahkan tidak pernah datang ke rumah sakita ini. Rumah Sakit Cinta Kasih'


Memang Hero pernah sekali mengantar Alina saat itu, saat Hanny memaksanya untuk ikut dengan dirinya mengecek kandungan, tapi setelah itu tidak pernah lagi.


“Alina,” nada tak suka Hero yang terlihat tersinggung saat dirinya seperti tidak dianggap.


Tolong jangan salahkan Alina di sini, salahkan saja lelaki itu yang sampai sekarang masih tidak mau mengakui Alina sebagai istrinya.


“Baik, Anda berdua silahkan masuk. Dan untuk tuan Hero?” ada nada tak percaya jika laki-laki yang sering ia lihat dalam berita atau majalah, kini ada di depan dirinya langsung. “Anda bisa menunggu Nyonya Alina yang akan memeriksa kandungan,” lanjut perawat itu lagi.


Saat Alina dan Raihan hendak masuk, Hero yang tak terima akan hal itu, ia langsung menahan tangan Alina.


“Saya suaminya, dan anak yang ada dalam kandungan istri saya adalah anak saya! jadi apa saya harus tetap menunggu di luar?” dingin Hero pada perawat itu.


“Jadi perkataan siapa yang benar?” tanya perawat itu yang merasa kebingungan.


“Raihan, kamu bisa tunggu diluar, aku akan masuk ke dalam. Jika memang membosankan kamu bisa pergi untuk jalan-jalan sebentar,” kata Alina yang kentara tak ingin membuat masalah menjadi panjang.