Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Peragaan busana



Alina yang melihat itu tentu terkejut. Ia merasa sedikit gugup dan tak tahu harus bersikap seperti apa. Apa Hero mendengar ucapannya? lalu apa yang harus Alina katakan saat ini?


“Jam berapa?”


Pertanyaan Hero yang tak pernah Alina duga, Alina kira jima Hero mendengar apa yang ia ucapkan. Tapi ternyata laki-laki itu tidak mendengarnya. Tapi apakah memang benar Hero tidak mendengar apa yang Alina katakan tadi?


“Jam enam Kak,” jawab Alina pelan.


Entah kenapa Alina kecewa saat tahu Hero tidak mendengar apa yang ia katakan. Padahal jelas tadi Alina gugup dan khawatir jika Hero mendengar ucapannya itu.


“Kenapa tidak bangun 'kan aku dari awal?”


“Alina pikir Kak Hero tidak memiliki jadwal di rumah sakit,” alasan Alina yang sepertinya Hero tahu jika Alina kini sedang beralasan.


“Kak, kenapa?” melihat keterdiaman Hero Alina tentu bertanya.


“Tidak! aku akan pulang larut malam, kamu bisa tidur lebih awal. Tidak perlu untuk menungguku.”


Anggukan hanya Alina berikan, padahal Alina senang jika Hero lebih banyak waktu di rumah. Meski saat di rumah yang Hero lakukan hanya mengerjakan pekerjaannya itu, bagi Alina itu setidaknya lebih baik jika dibandingkan Hero yang sering berada di rumah sakit.


“Ada sesuatu yang kamu inginkan?” jarang sekali Hero bertanya mengenai keinginan Alina. Tapi gelengan justru Alina berikan karena suasana hatinya yang tidak baik.


Alina ingin Hero bisa lebih banyak meluangkan waktu untuknya. Ia ingin agar laki-laki itu lebih memperhatikan dirinya, selain itu Alina juga ingin menjadi yang diprioritaskan oleh Hero.


Tapi apakah itu mungkin?


“Sudahlah Alina, jangan egois. Kak Hero juga melakukan ini demi kita semua, dan itu juga sudah menjadi tanggung jawabnya,” batin Alina yang terus berusaha untuk mengerti.


... *****...


“Sayang,” panggil Hanny yang melihat Alina hanya melamun.


Padahal kini Alina akan menghadiri acara peragaan busana di sebuah tempat bersama dengan Hanny. Tapi dari tadi Alina tidak henti-hentinya hanya diam dan terus melamun.


“Ada sesuatu yang membuat Kamu tak nyaman?” tanya Hanny yang terdengar khawatir.


“Tidak Bunda, Alina baik-baik saja.”


“Jika kamu kurang sehat atau ada sesuatu hal yang membuat kamu tak nyaman, kamu bisa katakan itu langsung pada Bunda. Jangan memendam itu sendiri.”


Alina hanya mengangguk saat mendengar itu, ia kadang merasa terharu dengan perhatian Hanny. Karena meski Hero tidak peka seperti Hanny, tapi meski begitu Alina masih memiliki Hanny yang begitu perhatian padanya.


“Acara ini mungkin akan menghabiskan waktu sekitar dua jam. Dan jika kamu tidak merasa nyaman terus berada di sana atau ingin pulang. Kamu bisa katakan langsung pada Bunda.”


Lagi-lagi Alina hanya mengangguk saat menjawab ucapan Hanny. Alina rasa ia akan menahan diri sekalipun ia merasa tak nyaman nantinya. Ia hanya tidak ingin membuat Hanny kesusahan karenanya.


Duduk di tempat duduk yang disediakan, Alina hanya diam dan berusaha duduk dengan tenang di samping Hanny. Jelas sekali jika tempat duduk untuknya di ambil secara mendadak. Karena memang acara itu sangat besar dan penting, hingga hanya beberapa orang penting yang duduk di sana.


Tapi mungkin karena Alina bersama Hanny, maka ia mendapat perlakuan istimewa. Hanny adalah salah satu orang yang ikut serta dalam acara peragaan busana itu.


Bukan Hanny ikut tampil, tapi karyanya yang kini di pakai oleh satu model yang kini memperagakan dirinya dengan anggun. Model itu terlihat cantik, di tambah dengan desain gaun yang telah dirancang langsung oleh Hanny. Membuat model itu terlihat nyaris sangat sempurna.


“Padahal jika baju itu dipakai sama kamu itu akan terlihat sempurna. Karena dulu baju itu sengaja Bunda rancang untuk kamu. Tapi tidak apa-apa, nanti akan Bunda buatkan untuk kamu yang lebih nyaman.”


Melihat Alina yang sedang hamil, Hanny jadi berfikir untuk merancang sebuah gaun yang nyaman dan aman untuk Alina pakai. Gaun yang akan pas meski di pakai oleh ibu hamil.


Hanny hanya mengangguk. “Mau Bunda antar?”


“Tidak usah Bunda. Alina bisa sendiri kok.”


... *****...


Tak lama setelah di kamar mandi, Alina pun keluar. Ia yang berjalan dengan santai langsung menghentikan langkahnya begitu melihat orang yang ia kenal sedang bersama dengan seseorang.


“Kak Bian?” pandangan tak percaya Alina tunjukkan saat ini juga. Ia tak menyangka jika kakaknya kini ada di acara peragaan busana. Dan laki-laki itu tidak sendiri, ia bersama dengan seorang wanita yang tak lain adalah Farah.


“Kak.”


Tanpa basa-basi apapun Alina tentu langsung berani untuk mendekat. Ia menatap tak percaya pada kakaknya ini.


“Alina? kamu ada di sini?” tanya Bian. Tidak ada ekspresi panik atau khawatir karena Alina tahu ia sedang bersama dengan Farah.


Wajah Bian masih sama, datar dan acuh. Tapi tentu saat menatap Alina. Bian menatap Alina sedikit lebih lembut lagi.


“Kak? Kakak kok bisa di sini bersama Kak Farah? Kakak nggak bersama Kak Belvita? anak Kakak juga nggak Kakak ajak?” pertanyaan bertubi-tubi yang dilayangkan Alina hanya dijawab kebungkaman.


“Tidak! Belvita sedang mengurus keponakan kamu.”


Maksud dari perkataan Bian adalah, Belvita kini sedang sibuk mengurus anaknya. Anak Belvita dan Bian.


“Lalu kenapa Kakak ada di sini bersama Kak Farah?” tanya Alina lagi yang terdengar mengintrogasi.


“Karena kami kebetulan bertemu di sini.”


Jawaban dari Bian hanya mendapatkan tatapan tak yakin dari Alina. Tapi meski begitu, Alina tidak bisa untuk berkomentar terlalu banyak.


“Kakak harus ingat satu hal, jika Kakak sampai buat Belvita sedih. Kakak akan membuat Alina kecewa, lagipula Kakak juga memiliki seorang adik wanita, apa Kakak ingin adik Kakak juga disakiti oleh suaminya?”


Pertanyaan itu sebenarnya sebuah perumpamaan dari Alina. Hanya saja Bian yang terlalu khawatir pada Alina, ia langsung menatap Alina dengan pandangan khawatirnya.


“Apa Hero menyakiti kamu?” tanya Bian dengan tatapan yang langsung tajam. Ia kentara tidak terima jika sampai adiknya disakiti.


“Kak Hero baik pada Alina Kak, dia tidak berbuat buruk apalagi kasar pada Alina. Jadi Kakak tidak usah khawatir akan hal itu.”


“Dan Alina harap, Kakak mau menjaga jarak dengan Kak Farah. Tolong jaga perasaan Belvita yang sekarang adalah istri dan ibu dari anak Kakak.”


“Kalau begitu Alina pamit ke sana dulu,” pamit Alina yang langsung berjalan menuju ke arah Hanny yang ternyata mencarinya.


“Bunda cari Alina?” tanya Alina yang sebenarnya heran mengapa Hanny mencari dirinya.


“Ya ampun sayang, Bunda kita kamu kenapa-napa. Ya sudah, ayo kita pulang!.” Ajakan Hanny itu hanya bisa Alina ikuti.


*****


Buat yang menanti karma buat Hero, nanti ya sabar. Semua ada waktunya.


Nanti juga Hero akan menyesal dengan sendirinya dan ada beberapa misteri yang akan ketahuan sedikit demi sedikit.


hari ini satu bab dulu, author lagi buat novel satunya. Nanti akan author usahakan untuk up lebih.