
Selama operasi semua yang menunggu Alina berdiri dengan cemas. Mereka tidak berhenti-henti berdoa untuk Alina.
Meskipun dokter memberikan pilihan untuk memilih antara menyelamatkan Alina atau bayinya, tapi mereka juga tetap berdoa untuk keselamatan Alina dan bayinya.
“Tuhan ..., jika ada yang namanya keajaiban tolong selamatkanlah Alina dan juga bayinya,” batin Belvita yang hampir sama dengan yang lainnya.
Tiba-tiba saat Belvita membuka matanya, ia melihat jika baby sister anaknya datang menghampiri dirinya.
“Nona, maaf. Saya datang ke sini karena ingin mengabari anda jika baby John sedang sakit,” ungkap baby sister itu yang menyebutkan panggilan anak Belvita dan Abian.
Belvita yang mendengar itu langsung menatap ke arah baby sisternya dengan ekspresi yang sedikit khawatir. Ia juga melirik ke arah Abian yang terlihat hanya diam dan menatap kosong ke depan.
Belvita tahu jika suaminya kini pasti sedang menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang di alami oleh Alina.
Belvita menepuk pundak suaminya dan mengusapnya perlahan. “Aku pulang ke rumah sebentar, sepertinya John rewel lagi, aku takut dia demam,” kata Belvita yang hanya dijawab anggukan oleh Abian.
Baru beberapa langkah Belvita berjalan, ia langsung menoleh begitu Bian memanggilnya.
“Kamu di rumah saja, untuk urusan di sini biar aku dan yang lain yang urus,” kata Abian yang langsung di jawab anggukan oleh Eron sebagai persetujuan.
“Apa yang Kak Bian katakan benar, aku takutnya nanti John mengalami demam lagi jika terus ditinggalkan. Biar urusan Alina akan kami yang urus,” kata Eron seolah menenangkan Belvita yang merasa khawatir dan tidak enak.
Begitu Belvita mendengar itu ia akhirnya hanya menjawab dengan anggukan sebagai jawaban.
*****
Operasi akhirnya berjalan dengan lancar.
Meskipun begitu, tidak bisa dielak jika wajah Hero masih terlihat cemas dan khawatir. Karena Alina masih harus di pantau karena takut kondisinya menurun.
Dengan segera dokter yang bertugas selain Hero keluar, ia memberitakan pada keluarga Alina jika operasi berjalan lancar.
“Apa Alina baik-baik saja?” tanya Amina dengan ekspresi khawatirnya.
Keluarga Alina dan Hero segera mendekat untuk mengetahui kabar mengenai Alina.
“Kondisi nyonya Alina cukup stabil, tapi masih perlu kami pantau untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.”
Tidak ada yang berani bertanya mengenai keadaan kedua anak Alina, tapi meskipun begitu sang dokter memberi kabar yang mengejutkan.
“Tuan Hero berusaha keras untuk menyelamatkan nyonya Alina dan kedua anaknya. Meskipun itu sangat tidak mungkin, tapi sungguh tidak disangka beliau berhasil menyelamatkan salah satu anaknya,” kata dokter itu lagi.
Entah itu berita baik atau buruk, karena Hero hanya bisa menyelamatkan salah satu anaknya. Meskipun begitu itu hal yang bahkan tidak pernah terpikirkan, setidaknya Alina masih memiliki satu orang anak.
*****
Di tempat Alina.
Hero bahkan tidak istirahat sama sekali setelah menyelesaikan operasi itu, ia hanya menatap ke arah istrinya dengan tatapan sendu.
Wajahnya terlihat lega sekaligus merasa bersalah, ia merasa bersalah karena gagal menyelamatkan salah satu bayi mereka.
Padahal Hero ingat saat Alina hampir tertabrak ia memeluk Alina erat agar wanita itu tidak kenapa-napa. Sayangnya kondisi salah satu bayi Alina mungkin tidak terlalu baik sehingga rentan keguguran.
“Maaf, aku hanya bisa menyelamatkan salah satu anak kita,” kata Hero yang tak henti-hentinya mencium tangan istrinya.
“Alina, maaf. Mungkin ini terlambat untuk aku katakan. Tapi aku benar-benar mencintai kamu, bahkan lebih dari cintaku sebelumnya.”
Hero tidak memiliki keberanian untuk mengatakan kata-kata cinta saat Alina sadar nanti.
Entah sejak kapan Hero memiliki perasaan pada Alina. Sejak awal ia memang sempat menganggap Alina adalah adiknya.
Usia Alina yang lebih muda membuat Hero hanya menganggap seperti itu. Mungkin untuk Alicia ia memang jatuh cinta pada orang yang salah.
Pada awalnya Hero mencintai Alicia tidak lain karena rasa terima kasihnya itu. Maka itu, pada saat itu Hero sempat dengan tegas menolak Alina. Itu tidak lain karena ia seolah mengagung-agungkan cintanya pada Alicia yang menurutnya sangat berjasa untuknya.
Jika ditanya apakah Hero menyadari cintanya pada Alina karena sudah mengetahui jika Alina lah yang selama ini mengirim surat rahasia untuknya?
Maka jawabannya salah, meskipun Hero kini merasa bersalah dan berterima kasih akan hal itu.
Tapi Hero sadar jika ia mencintai Alina sejak dirinya tidur bersama Alina karena obat pemberian dari salah seorang pasiennya yang ingin menjebak Hero.
Mungkin Alina akan berfikir jika malam itu terjadi karena Hero terpengaruh dalam obat perangsang.
Dan hal itu memang benar tapi tidak sepenuhnya benar, bagaimana bisa Hero berhasil menghindari seseorang yang menjebaknya sedangkan saat dengan Alina pada akhirnya mereka tidur bersama.
Sebenarnya saat itu, Hero tanpa sadar tidur bersama dengan karena dirinya juga terbawa oleh perasaan. Hanya saja logikanya selalu mengelak itu.
Hero selama ini selalu meyakinkan jika dirinya hanya akan mencintai Alicia apapun yang terjadi. Bukankah itu tanpa sadar Hero bersikap sombong? ia terlalu mengagungkan cintanya itu, yang nyatanya cintanya pada Alicia hanya berawal dari rasa berhutang Budi dan berterimakasih.
Tapi kini setelah dihadapkan oleh semua masalah yang telah ia lalui, Hero sadar jika dirinya memang mencintai Alicia, tapi entah sejak kapan Alina berhasil mendapatkan hati Hero sedikit demi sedikit.
Hero sendiri bahkan tidak menyadari akan hal itu.
*****
Keesokan harinya.
Hero terbangun setelah semalaman berjaga, ia sedikit terkejut karena awalnya Alina yang berada di samping dirinya tiba-tiba tidak ada.
“Suster, dimana istri saya?” tanya Hero.
“Dok, kesehatan nona Alina tiba-tiba menurun. Dan kini sedang diperiksa lebih lanjut oleh dokter Tama,” ungkap suster itu.
Dokter Tama adalah salah satu dokter yang ikut dalam operasi Alina. Mungkin operasi Alina ini sedikit spesial, karena bukan hanya menyangkut keselamatan Alina yang merupakan anak kesayangan keluarga angkasa, tapi ia juga merupakan menantu satu-satunya di keluarga Sanjaya.
Maka itu selain tidak ingin membuat kesalahan, Hero yang merupakan orang ahli dan juga hebat dalam bidang operasi turut andil.
Mungkin tanpa Hero, meskipun bisa menyelamatkan Alina akan ada efek samping nantinya. Dan bisa saja kedua anak Alina tidak terselamatkan.
“Kenapa baru saat ini saya tahu?”
Hero merasa marah dan khawatir, hingga tanpa sadar ia membuat suster yang menjelaskan tadi hanya bisa menunduk takut.
“Hufhhh”
“Dimana istri saya?” tanya Hero langsung.