
Hero mengantar Alina untuk pulang sesuai dengan permintaan dari Sang ibu. Sebenarnya Hero berniat untuk menginap diapartemen saja. Tapi Hanny yang dapat menebak pemikiran Hero itu, ia langsung meminta agar Hero tidak tidur diapartemen.
Di dalam mobil yang hanya ada mereka berdua, Alina justru tak henti-hentinya merasa gugup dengan jantung yang berdegup kencang. Tidak bisa dibohongi jika Alina sangat mencintai seorang Hero.
“Alina, bukankah kamu sudah menjadi istri dari Kak Hero? kenapa kamu masih sok deg-degan seolah masih remaja,” batin Alina yang seakan kini sedang merutuki dirinya sendiri.
Alina sesekali melihat Hero, lelaki yang berada tepat di sampingnya dan sedang mengemudikan mobil itu. Kini lelaki itu terlihat santai dan biasa saja, sangat berbeda sekali dengan Alina yang sudah gugup tak karuan.
“Lihatlah, lelaki yang kamu cintai dengan sangat dalam justru terlihat biasa saja. Terlihat jelas bukan jika dia tidak meliki perasaan apa-apa pada kamu?” batin Alina lagi. Entah mengapa kini hatinya terasa sesak, ia seakan tidak bisa bernafas karena rasa sakitnya akibat sebuah kekecewaan.
10 tahun sudah Alina mencintai lelaki yang kini berada disampingnya, cinta yang dikatakan hanya sebuah cinta masa kecil itu justru bisa bertahan hingga kini.
Jadi apakah cinta itu memang hanya cinta masa kecil atau cinta sejati?
“Kenapa?” tanya Hero tiba-tiba yang membuat Alina sedikit gelagapan.
“Em ..., em tidak Kak,” jawab Alina gugup.
Padahal ia yakin sekali jika Hero tidak meliriknya sama sekali, tetapi kenapa lelaki itu bisa sadar jika tadi Alina sedang menatap ke arahnya?
“Kamu tahu jika Bunda sangat menyukai kamu,” ucap Hero tiba-tiba.
“Mungkin itu karena Bunda orang yang baik, jadi dia bisa membuat siapa saja nyaman. Alina bahkan juga sangat menyukai dan menghargai kebaikan Bunda pada Alina,” jawab Alina setenang mungkin.
Lagipula wajar jika Hanny sangat baik dan sayang padanya, bukankah sebagai seorang menantu Alina patut untuk disayang?
“Bunda memang baik, tapi tidak semua orang bisa menerima kebaikan darinya. Dan saya rasa saat sedang bersama kamu, Bunda benar-benar terlihat sangat bahagia,” ucap Hero dengan tatapan menerawang jauh.
Entah mengapa Alina merasa sakit dengan kata saya' yang Hero ucapkan, apakah sejauh itu jarak hubungan mereka berdua? Tidak bisakah Hero berkata aku' saja saat berbicara dengannya?
“Bahagia kayak gimana Kak? Alina kurang mengerti,” kata Alina bingung. Karena setahu dirinya Hanny itu orang yang Baik pada siapa saja yang dikenalnya.
Bahkan pada para bawahannya, Alina rasa Hanny adalah orang yang sangat ramah dan dermawan.
“Bunda memang sangat baik pada semua orang, tapi terlihat jelas sekali di wajahnya jika saat bersama dengan kamu, Bunda lebih bahagia. Seakan ia merasa jika ia sedang bersama dengan anaknya,” jelas Hero. Jangan salahkan sikap dan wajah Hero yang acuh dan terlihat tak peduli itu. Karena nyatanya dia orang yang sangat peka dan paling peduli terhadap orang yang ia sayang.
“Mungkin itu karena Kakak yang sangat jarang untuk meluangkan waktu buat Bunda. Jadi Bunda merasa kesepian, dan saat memiliki seseorang yang menemani dirinya, Bunda merasa senang,” jawab Alina yang tidak ingin terlalu menganggap tinggi dirinya. Walau Alina merasa sangat senang karena Hanny sangat menyayangi dirinya.
Toh meski Alina mencintai Hero dengan sangat, tapi Alina sadar jika keluarga Angkasa tidak sebanding dengan keluarga Sanjaya
“Mungkin,” jawab Hero terlihat berfikir. Ia tidak lagi melanjutkan obrolannya.
Sepanjang perjalanan, suasana terasa hening dan sunyi. Seolah tidak ada kehidupan sama sekali, kedua manusia dengan sikap dan karakter yang berbeda itu hanya diam tanpa berkata apa-apa.
Alina yang biasanya selalu banyak bicara mendadak diam karena tidak tahu harus mengatakan apa untuk saat ini.
Sedangkan lelaki yang bernama Hero itu memang memiliki sikap dan ekspresi yang datar dan acuh.
.....
“Loh Kak, kok ke sini?” tanya Alina heran karena kini ia sedang berada di rumah keluarga Angkasa.
Bukan di mansion mountain king, yang merupakan mansion milik mereka berdua.
“Sekitar dua jam lagi saya memiliki jadwal operasi, apa kamu akan tetap pulang ke mansion?” tanya Hero yang membuat Alina diam sejenak.
“Baiklah, Alina mengerti,” jawab Alina. Ia menatap Hero dengan lama dan dalam, untuk saat ini biarkan dia mengalah. Tapi untuk nanti Alina akan bekerja keras lagi untuk mendapatkan hati lelaki itu.
Setelah sampai, Alina hendak turun dari dalam mobil. Tapi panggilan Hero membuat Alina menghentikan niatnya dan menatap ke arah Hero.
“Iya Kak?”
“Kamu harus tahu satu hal, dari dulu Saya hanya menganggap kamu sebagai adik saya. Jadi meskipun Bunda menginginkan kita untuk bersama selamanya, tapi menurut saya itu sesuatu hal yang mustahil,” ungkap Hero.
Sebagai adik?
Jadi itu alasan Hero baik pada Alina dulu?
Tidak bisakah lelaki itu mencoba untuk berusaha mencintai Alina, sedikit saja?
“Kak, apa Kakak benar-benar tidak bisa cinta dan sayang pada Alina? apa dipandangan Kakak Alina hanya Kakak anggap sebagai adik?”
Hero tidak mengatakan apa-apa, jelas ekspresi datar dan dingin Hero seakan menjawab pertanyaan Alina.
Lelaki itu tidak pernah mencintai dirinya, lelaki yang menurut Alina sangat baik padanya. Ternyata kebaikan yang laki-laki itu lakukan tidak lebih karena lelaki itu hanya menganggap Alina sebagai adik.
“Alina,” panggil Amina, ibu dari Alina yang langsung membuat Alina tersadar dari rasa syoknya. Alina turun dari mobil dengan sedikit terhuyung, tapi untung saja, Hero dengan sigap langsung memegang tangan Alina agar tidak terjatuh.
Menatap ke arah Hero, Alina langsung melepaskan pegangan itu, ia menatap Hero lagi.
Apa yang harus Alina lakukan? apa kini ia harus menyerah dengan Hero?
Tapi pernikahan itu masih seumur jagung, dan Alina masih belum ingin untuk menyerah. Ia masih memiliki keinginan agar bisa membua lelaki itu semangat hidup lagi.
“Hati-hati dijalan,” ucap Alina yang langsung berbalik dan berjalan menjauh dari mobil.
Alina langsung berjalan menuju ke arah rumahnya.
“Kenapa sayang?” tanya Amina khawatir saat melihat wajah Alina yang pucat pasi. Alina hanya menjawab dengan gelengan. Ia berusaha tersenyum dan menatap ibunya dengan tatapan meyakinkan, agar terlihat jika ia baik-baik saja.
“Alina nggak kenapa-kenapa. Mungkin hanya lelah karena seharian ini Alina jalan-jalan bareng Bunda. Kalau gitu Alina ke dalam dulu,” memeluk ibunya dan mencium pipi Sang ibu, Alina lalu langsung masuk ke dalam.
“Alina menginap ya Mah, Alina kangen sama kalian,” teriak Alina.
Rasanya setiap langkah Alina kini terasa lambat, ia bahkan sudah berada di rumahnya dan hanya ingin segera menuju kamarnya. Tapi mengapa kamarnya terasa begitu jauh?
...........
Memasuki kamarnya dan langsung menguncinya. Alina menaruh tas begitu saja, ia duduk dan termenung, kini Alina terlihat melamun dengan pikiran yang terlihat kosong.
Flashback.
“Kak, kenapa ke sini?” tanya Alina pada Hero.
Lelaki yang bernama Hero itu memakai baju khas anak kuliahan, sedangkan Alina memakai baju putih abu-abu yang tak lain ia adalah siswi SMA.
“Loh kok Kakak bawa bunga? buat siapa?” tanya Alina dan Hero hanya tersenyum.
“Untuk seseorang yang spesial,” jawab Hero dengan senyum khasnya yang terlihat sangat manis, seakan siapa saja yang melihat senyum itu akan meleleh.
Dan setiap Alina melihat senyum Hero, ia selalu merasa beruntung karena bisa melihat senyum itu.
“Buat Alina? Alina sangat suka bunga,” ucap Alina yang sebenarnya dia tidak menyukai bunga. Tapi karena dia berfikir jika bunga itu untuknya, jadi dia berkata seperti itu.
“Ya sudah ini untuk kamu,” Hero mengambil beberapa tangkai bunga yang ada di dalam buket. Tindakannya itu membuat Alina sedikit bingung, mengapa dirinya tidak diberikan langsung buketnya?
“Kakak duluan, ada seseorang yang ingin kakak temui,” ucap Hero, ia lalu pergi meninggalkan Alina begitu saja.
Saat itu, meski bukan anak kecil lagi, tapi Alina memang memiliki pemikiran yang polos, sangat berbeda jauh dengan cara berpakaiannya yang berpenampilan tomboi.
Flashback end.
#####