Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#43 Kehamilan Belvita.



Selama hari-hari telah berlalu, pernikahan Bian dan Belvita tetap berjalan selayaknya, dan mengenai tentang kehamilan Farah yang tidak tahu benar atau tidak. Hal itu hanya Bian yang tahu, karena laki-laki itu tidak ingin membahas masalah itu.


Tapi satu hal yang Alina tahu, ia jelas mengenal betul bagaimana sosok Bian.


Laki-laki yang menurut Alina paling baik, dan paling sayang kepada dirinya itu akan melakukan apa saja untuknya. Itu yang Alina ketahui saat ini. Walau pernikahan Bian dan Belvita terjadi karena sebuah kecelakaan, tapi laki-laki itu tetap memperlakukan Belvita dengan baik.


...........


Dan saat ini, Alina hanya diam. Alina kini sedang menunggu di luar poli kandungan. Seperti yang sudah Alina duga, jika karena disebabkan oleh kecelakaan itu, Belvita hamil dan itu jelas anak kakaknya.


“Kenapa?” tanya Alina saat melihat ekspresi Belvita yang terlihat tidak bersemangat.


Belvita menggeleng, senyum kaku ia tunjukkan pada Alina. “Tidak apa-apa, mungkin karena akhir-akhir ini aku sering lelah saja,” jawab Belvita terdengar sedang berusaha untuk menenangkan.


Alina lalu berhenti melangkah, hal itu otomatis membuat langkah Belvita ikut berhenti.


“Kenapa?” tanya Belvita heran.


“Aku yang justru harus tanya ke kamu kenapa? kenapa kamu terlihat tidak bahagia dengan kabar kehamilan kamu ini?” tanya Alina yang menatap Belvita dalam.


Belvita yang memang tidak bisa menyembunyikan hal apapun dari Alina, ia lalu terisak. Air mata itu lolos begitu saja tanpa bisa Belvita cegah.


Belvita tahu jika dirinya tidak seharusnya bersikap cengeng, tapi mungkin karena hormon ia menjadi sangat mudah menangis.


“Bagaimana dengan tanggapan Kakak kamu mengenai berita kehamilan ini?” tanya Belvita, ia mengungkapkan apa yang menjadi hal yang ia takutkan dan ia pikirkan saat ini.


“Kenapa kamu bertanya tentang hal itu? tentu saja Kak Bian pasti akan merasa senang saat mendengar kabar mengenai anaknya, itu anaknya dan bukan anak orang lain,” jelas Alina yang langsung direspon oleh Belvita dengan sebuah gelengan.


“Anak ini hadir dengan cara yang tidak baik, dia juga hadir dalam sebuah keadaan yang tidak diinginkan. Dan hal yang paling aku takutkan adalah, dia akan hidup menderita. Aku takut hal yang aku alami akan anak aku alami juga,” jelas Belvita semakin terisak.


Alina yang melihat itu langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat, sangat erat.


Meski tinggi badan Belvita sedikit lebih tinggi darinya. Hal itu tak membuat Alina kesulitan dalam menyalurkan rasa peduli dan sayangnya pada sahabatnya itu.


“Jangan pernah mengatakan anak yang lahir di luar nikah itu adalah anak yang buruk ataupun tidak baik. Mereka itu suci, lahir dengan bersih dan tidak punya dosa!” tegas Alina yang merasa tak suka dengan perkataan Belvita.


“Dan yang salah itu adalah orangtuanya, hingga bisa menghasilkan mereka, tapi kamu berbeda, kamu dan Kak Bian tidak sengaja melakukan itu, karena itu bukan kehendak kalian dan keinginan kalian,” jeda Alina lagi. Ia menatap ke arah Belvita dengan tatapan dalamnya.


“Jadi apapun yang terjadi, kamu harus tahu satu hal. Aku di sini, sahabat kamu ini akan selalu ada untuk kamu, apapun itu masalahnya, kita akan cari solusinya bersama-sama. Jadi tolong, jangan terus merasa sedih ataupun menyalahkan diri kamu, ini bukan kesalahan siapapun. Dan mungkin yang perlu disalahkan itu adalah orang yang dengan teganya memberi obat perangsang itu pada Kak Bian,” dengan panjang lebar Alina berkata, hingga Belvita hanya diam.


Tapi perkataan Alina yang panjang lebar dan dalam itu membuat Belvita sadar akan satu hal, ini kehidupannya, kehidupan yang harus ia jalani.


Meskipun ini bukan sebuah hal yang ia inginkan, tapi dirinya harus kuat, demi anak yang telah hadir meski dengan ketidaksengajaan.


Harus Belvita akui jika ia menyadari satu hal, ia sudah mulai mencintai sosok Bian yang menurutnya sangat sempurna itu. Tapi jujur, Belvita tidak bahagia dengan keadaannya kini, ia teringat akan kehidupannya yang menderita, dan ia tidak ingin anaknya menderita sama seperti dirinya yang tidak pernah diinginkan.


“Jangan memikirkan apapun, kamu harus ingat terus. Aku di sini, kamu nggak sendiri lagi. Ada aku, ada Mamah, ada kami yang akan peduli dan sayang pada kamu.”


...*****...


Sesampainya di rumah.


Alina yang terlihat hanya diam saat melihat Belvita yang kini duduk disampingnya juga hanya diam.


Belvita terlihat seperti sedang berfikir keras, saking kerasnya Belvita berfikir. Ia bahkan tidak sadar jika kini jari-jarinya itu ia gigit.


“Bel,” panggil Alina lembut.


Dengan sedikit melamun, Belvita yang mendengar itu langsung tersadar. Ia lalu menoleh pada Alina dengan ekspresi bertanya. “Ya kenapa?”


“Masih mikirin masalah tadi?”


“Ng-nggak, kata siapa.”


“Buktinya kamu ngelamun sambil gigit jari,” ungkap Alina yang langsung membuat Belvita tersadar akan apa yang ia lakukan.


“Kenapa nggak turun?” tanya Alina saat melihat jika tangan Belvita telah diturunkan.


Belvita dengan wajah yang berusaha terlihat santai itu, ia hanya tersenyum. “Nunggu kamu lah, kenapa kamu nggak turun coba?”


Alina yang mendengar itu akhirnya mengangguk, ia lalu turun dan membuka 'kan pintu untuk Belvita. Terlihat jelas wajah ragu-ragu Belvita yang ia kini tunjukkan sebelum ia turun.


“Tenang saja, kalau misalkan Kak Bian nggak mau ngakuin anak kamu ini, aku akan mutilasi dia,” canda Alina yang berhasil membuat Belvita tertawa karena merasa lucu saat mendengar itu.


Belvita tahu, jika itu hanya sebuah candaan untuk sekedar menghiburnya, tapi candaan itu telah berhasil membuatnya tertawa dan terhibur.


“Padahal Kakak kamu itu paling menyayangi kamu loh,” ungkap Belvita yang kini balas menjawab kata-kata Alina disertai tatapan becandanya.


“Tahu kok, tahu banget malahan. Itu sebabnya aku yakin Kak Bian nggak akan marah pada kehadiran anaknya sendiri, tidak peduli siapapun itu ibu dari anaknya. Mau itu orang yang ia cintai atau bukan,” jelas Alina yang hanya Belvita jawab dengan anggukan.


Alina lalu menggandeng tangan Belvita, ia lantas masuk ke dalam rumah. Di sana tidak hanya ada keluarga Alina saja, tapi juga ada keluarga Hero yang sedang mengobrol dengan kedua orangtuanya.


Terlihat jika Hanny sangat senang saat melihat dirinya, Bram pun sama. Berbeda sekali dengan Hero, lelaki itu justru terlihat lebih datar dan dingin dari biasanya.


“Loh ayah sama Bunda ada di sini?” tanya Alina tak percaya.


Alina langsung menyambut pelukan sayang dari Hanny, wanita itu terlihat sangat menyayangi Alina dan sangat antusias dengan Alina.


“Bunda sudah ada sebelum kamu sejam yang lalu, tapi kamu baru datang sekarang,” keluh Hanny terdengar mengeluh.


Alina yang mendengar itu langsung menunjukkan tatapan bersalahnya. “Maaf Bun, Alina nggak tahu kalau misalkan Bunda sama Ayah bakal datang ke sini,”ungkap Alina dengan tatapan bersalahnya itu.


Hanny yang mendengar itu langsung tertawa, ia lantas memeluk Alina lagi. “Nggak, Bunda hanya becanda kok, baru aja Bunda datang. Sengaja ingin ketemu kamu,” jelas Hanny yang dijawab anggukan.