Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Satu tahun kemudian



Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat singkat. Sudah satu tahun semenjak operasi itu, Alina pada akhirnya berhasil diselamatkan.


Hanya saja, anak pertama Alina dan Hero tidak bisa diselamatkan karena memang saat operasi sudah tidak mungkin untuk diselamatkan lagi.


Kini Alina dan Hero sedang berada di sebuah makam kecil yang tak lain adalah anak pertamanya yang telah meninggal.


“Mama, papa,” celotehan yang keluar dari bocah laki-laki bernama Arkan Sanjaya berhasil membuat Alina dan Hero tersadar pada kenyataan.


“Arkan sayang, sini sama Mamah nak,” kata Alina yang sedikit sesenggukan.


Meskipun Alina masih belum bisa sa bersyukur karena setidaknya salah satu anaknya selamat, tapi tidak bisa dipungkiri jika dirinya juga merasa sedih karena harus kehilangan salah satu anaknya.


“Arkan biar aku saja yang pegang,” kata Hero yang khawatir jika Alina akan kesusahan nantinya.


Arkan, bocah yang berhasil selamat meskipun kembarannya tidak selamat.


Kehadiran Arkan adalah sebuah anugrah bagi Alina, tapi di saat bersamaan juga sebuah kesedihan yang tak dapat diungkapkan oleh Alina.


“Kenapa ...? kenapa bukan aku saja yang mati saat itu, kenapa harus anakku,” kata Alina menunduk dalam.


Hero yang tengah memeluk Arkan langsung mendekat ke arah Alina dan memeluknya dengan erat.


“Itu karena Tuhan masih mengasihani aku, Tuhan masih baik memberikan aku kesempatan untuk bisa membahagiakan kamu,” kata Hero yang sebenarnya merasa sedih harus kehilangan salah satu anaknya.


Tapi Hero bisa apa?


Hero hanya bisa mensyukuri dirinya yang masih bisa melihat Alina baik-baik saja saat ini.


Masih Hero ingat dengan jelas bagaimana Alina sempat kritis dan dinyatakan koma selama beberapa bulan saat telah menjalani operasi.


Hero bahkan saat itu merasa frustasi dan tidak tahu harus seperti apa saat melihat istrinya koma. Rasanya dunia Hero berantakan tak tentu, ia benar-benar berada di jurang keputusasaan dan ketakutan.


Rasa sedihnya bahkan melebihi saat dirinya kehilangan Alicia. Hero bahkan sempat berfikir apakah dirinya akan tetap bertahan jika Alina tidak ada?


“Mama sayang kamu Azkar, mama sangat mencintai kamu sekalipun mama hanya bisa lihat kamu sebentar. Maafin mama ..., ini kesalahan mama yang tidak bisa jaga kamu dengan baik,” kata Alina dengan sesengukan yang membuat hati Hero merasa terenyuh saat harus melihat istrinya seperti itu.


Seandainya Hero segera mengambil tindakan operasi saat itu apakah anaknya akan selamat? seandainya jika dirinya tidak menunggu keputusan dari keluarga Alina juga dan langsung mengambil keputusan sendiri, apa ia masih bisa melihat anak pertamanya?


Tapi semua sudah terjadi, tidak ada yang bisa Hero lakukan lagi. Mereka masih memiliki banyak waktu untuk bisa memilik anak lagi, walau mungkin akan membutuhkan usaha keras dan pengobatan.


Setidaknya, operasi Alina tidak harus membuat rahimnya terangkat. Karena Alina masih bisa untuk memiliki anak lagi.


Hanya saja, apakah Alina masih mau memiliki anak atau tidak, Hero serahkan pada Alina.


“Kita pulang, aku janji kita akan mengunjungi anak kita lagi nanti,” kata Hero yang membantu istrinya untuk bisa bangkit.


Disebelah tangannya Arkan tengah menatap ke arah ibunya dengan tatapan polosnya.


Meskipun masih kecil, Arkan adalah anak yang sangat peka dengan ibunya. Ia bahkan sampai mendekat ke arah ibunya yang berada di pelukan ayahnya.


“Mama ..., mama,” celoteh Arkan menatap ibunya.


Alina yang melihat itu mau tidak mau langsung tersenyum karena merasa lucu dengan tingkah menggemaskan anaknya.


Alina dan Hero langsung berjalan menuju mobil mereka. Tapi tiba-tiba seseorang datang menghampiri Alina dan Hero.


“Bukankah kamu pacar Alisa?” kata Hero, sebenarnya ia tidak ingin membahas apalagi menyebutkan nama kembaran Alicia itu.


“Aku tahu Alisa telah melakukan kesalahan yang tak termaafkan. Dan sekarang dia juga telah mendapatkan karma yang harus ia dapatkan,” kata lelaki itu.


Sebenarnya lelaki itu tulus mencintai Alisa. Ia bahkan tidak menyangka jika Alisa justru mencintai Hero, dia sama seperti kakaknya yang juga pengagum berat Hero.


“Tapi hal yang aku sesalkan adalah kenapa ia sampai nekat rela menjadi kriminal, padahal itu adalah hal yang bahkan tidak pernah aku sangka-sangka,” lelaki itu terlihat tak menyangka jika nasib Alisa akan menjadi seperti ini.


Jelas Alisa yang ia kenal adalah wanita ceria dan juga lucu. Tidak pernah terpikirkan olehnya jika Alisa akan berniat nekat hingga hampir membunuh Alina.


Ya!


Setelah ditelusuri dan di usut, pelaku pengirim chat rahasia dan juga rencana penabrakan itu adalah hasil dari rencana Alisa sebagai dalang utama.


Alisa kini sudah mendekam di penjara, hukuman yang bahkan bisa sedikit lebih ringan jika Alisa mau meminta maaf pada Alina dan mengaku.


Sayangnya, meskipun bukti telah lengkap dan sudah terkumpul jelas. Wanita itu tidak pernah merasa jika yang dilakukannya adalah hal yang salah.


“Jadi, apa yang ingin kamu lakukan saat ini?” tanya Hero langsung.


Sifatnya masih dingin dan acuh pada orang lain, apalagi jika orang itu adalah orang yang menurut dirinya tidak penting dan mengganggu, ia pasti akan menatap orang-orang itu bagai angin.


“Ini, seharusnya sudah aku berikan surat ini dari sejak awal. Surat ini sudah aku ketahui sejak tiga tahun lalu. Tapi Alisa yang juga mengetahui surat itu malah tidak ingin surat ini jatuh ke kamu,” kata laki-laki itu.


Ada dua surat khusus yang diberikan, merah yang ada pitanya seperti sengaja diberikan untuk Hero, dan yang biru seperti diberikan untuk Alina.


“Ini bisa dibilang surat wasiat atau lebih tepatnya surat yang ditulis langsung oleh Alicia sebelum meninggal dunia. Aku dan Alisa pun baru mengetahu surat itu saat Alisa akan pindah rumah. Sepertinya surat itu memang sudah sengaja di tulis untuk kalian berdua.”


Hero dan alina yang mendengar itu hanya diam dan saling menatap satu sama lain.


“Maaf, sebagai teman baik Alicia dan sebagai kekasih Alisa, aku benar-benar minta maaf atas kesalahan mereka berdua,” ungkap lelaki itu tulus.


Setelah kepergian dari laki-laki itu, tanpa di duga Hero langsung memberikan surat merah miliknya pada Alina.


“Apa ini?” tanya Alina bingung.


“Aku takut jika kamu nanti akan berfikir buruk jika aku membuka surat ini. Aku tak ingin ada kesalahpahaman apapun lagi,” jelas Hero yang hanya dijawab kekehan.


Apa Hero setakut itu?


Memang benar sih sejak Alina sadar dari koma, beberapa bulan ini Hero selalu memperlakukan Alina dengan sangat baik.


Banyak hal yang telah Hero lakukan demi Alina, bahkan Hero kini tidak bekerja sebagai dokter lagi di rumah sakit Cendana.


“Tidak perlu, kamu baca saja, aku tidak masalah.”


“Tidak! kita baca sama-sama saja, aku juga penasaran dengan surat itu,” kata Hero melirik ke arah surat Alina.