Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#25 Bodoh atau polos?



Kini, setelah mengingat itu. Entah mengapa Alina jadi sadar, jika mungkin orang yang hendak diberi bunga itu bukan dirinya. Melainkan orang lain.


Mengingat itu, Alina ingin tertawa mengejek pada dirinya sendiri. Kenapa bisa ia sebodoh itu? dirinya yang dulu itu bukan polos lagi menurut Alina, tapi kelewatan bodoh.


“Dasar bodoh! bodoh! bodoh!” Alina memukul kepalanya beberapa kali, ia bahkan menjedotkan dahinya pada tembok disampingnya.


“Kenapa bisa kamu sebodoh itu Alina? kenapa bisa kamu bisa memiliki pemikiran sepolos itu? hahaha, itu bukan polos lagi tapi kelewatan bodoh,” sinis Alina pada dirinya sendiri.


Ternyata, ada pengaruh besar ia berkuliah di luar negeri, karena dengan itu pemikirannya menjadi jauh lebih terbuka. Dan itu yang baru Alina sadari saat ini.


“Aku nggak tahu otak kamu waktu dulu itu tercipta dari apa, bisa-bisanya kamu sepolos itu padahal kamu bukan anak kecil lagi!” ejek Alina pada dirinya sendiri, ia bahkan merasa heran dengan pemikirannya sendiri.


Sebenarnya saat ini Alina sangat ingin menangis, ia ingin melampiaskan rasa sedihnya itu dalam sebuah tangisan. Tapi ternyata Alina sadar jika ia adalah orang yang lemah, yang tidak bisa menunjukkan emosinya dengan baik.


Alina tidak tahu apa itu rasa sedih, dari kecil ia sangat di jaga oleh kedua kakaknya dan ayah serta ibunya. Jadi Alina tidak pernah menangis, kecuali jika hal itu adalah hal yang paling menyakitkan.


Contohnya saat dirinya di kirim ke luar negeri oleh Sang Kakak. Itu pertama kalinya Alina menetes air mata, tapi sesuai janji kakak dan ibunya, mereka sering sekali mengunjungi Alina hingga Alina tidak merasa sedih atau kesepian.


Tapi bukankah masalah yang sekarang Alina hadapi juga adalah hal yang menyakitkan?


Tapi kenapa ia tidak bisa menangis?


Apa karena dirinya terlalu sayang dan cinta, hingga mungkin ia harus merasa yang namanya sakit lebih dalam lagi baru bisa menangis?


Menurut psikologi yang pernah Alina baca, katanya orang yang tidak bisa menangis dan menunjukkan kesedihannya adalah orang yang lemah, jika begitu bukankah Alina termasuk wanita lemah?


...******...


Keesokan harinya.


Hero memasuki ruangannya. Ia lalu duduk dan langsung membuka laptop miliknya, hari ini Hero datang 1 jam lebih awal dari jadwalnya.


Menit-menit Hero habiskan dengan menyelesaikan pekerjaannya. Pekerjaan yang benar-benar tidak akan pernah ada habisnya, seakan pekerjaan itu sudah menjadi hal yang tidak bisa dihilangkan dari hidup seorang Hero.


“Dok,” panggil seorang wanita yang ternyata itu adalah Santi. Teman dekat Alina di rumah sakit Cendana.


Hero hanya menoleh dan tidak mengatakan apa-apa. Ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh Santi.


“Alina meminta izin tidak hadir karena ada sebuah keperluan,” ucap Santi memberi tahu.


Entah mengapa setiap Santi berhadapan langsung dengan seorang Hero, ia merasa gugup dan takut. Bukan berarti ia memiliki pemikiran tidak tahu diri untuk bisa bersama dengan seorang Hero.


Tapi wibawa Hero seakan bisa membuat siapa saja yang berhadapan dengan dirinya merasa segan dan hormat.


“Kalau begitu saya pamit undur diri,” ucap Santi yang ingin segera pergi dari ruangan Hero. Apalagi sikap datar dan acuh Hero membuat Santi semakin gugup.


Setelah kepergian Santi, Hero hanya diam dan menatap ke arah meja Alina yang berada cukup jauh darinya.


Pantas saja Alina belum datang hingga lima belas menit berlalu, Hero kira Alina akan telat, ternyata memang tidak masuk kerja. Memilih untuk bersikap kembali acuh, Hero menatap ke arah laptopnya dan kembali fokus pada hal yang harus ia kerjakan.


...*****...


Alina hanya berdiam di kamar, ia seolah merasa malas untuk keluar, bahkan untuk keluar kamar saja Alina merasa berat, hingga saat sarapan ia makan di kamar.


“Sayang kamu kenapa?” tanya Amina memasuki kamar Alina, ia merasa khawatir dengan anaknya yang terlihat hanya diam berbaring dibalik selimut.


“Alina nggak kenapa-napa Mah, Alina hanya lagi ingin rebahan aja. Terus kenapa Mamah belum ke rumah sakit?” tanya Alina heran. Ibunya adalah orang yang disiplin dalam hal waktu, telat satu menit saja adalah hal yang paling Amina hindari.


“Mamah nggak kerja untuk hari ini,” jawab Amina yang langsung duduk tepat di samping anaknya.


“Loh kok gitu?” tanya Alina yang hendak bangkit dari baringnya tapi langsung terhenti karena gerakan Sang Ibu yang memaksanya untuk tetap berbaring.


“Kamu tiduran aja nggak usah banyak gerak,” larang Amina saat melihat Alina hendak bangkit dari tempat tidurnya.


Alina yang mendengar itu hanya mengangguk.


“Andai Mamah itu seorang dokter umum dan bisa memeriksa kesehatan kamu,” sedih Amina yang baru kali ini melihat Alina sakit.


Bahkan selama 23 tahun Alina hidup, belum pernah Amina melihat Alina sakit. Kecuali saat masih bayi, dan sakitnya pun masih dalam hal ringan tapi masih bisa ditangani.


Tapi kini, saat Amina melihat jika Alina terlihat lesu dengan badan demam dan wajah pucat. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu.


“Mah, ini bukan salah Mamah. Lagian ini cuman masuk angin biasa, nanti siang juga Alina bakal agak baikan,” ucap Alina menenangkan.


“Tapi barusan kamu muntah-muntah loh sayang,” ucap Amina yang terdengar mengingatkan, ekspresi bersalah ia tunjukan lagi saat ingat jika ia sempat melihat Alina muntah.


“Mah, menjadi seorang dokter kandungan adalah salah satu pekerjaan yang mulia. Di mana Mamah juga ikut berperan penting dalam pertumbuhan dan kesehatan dari Bayi dan Sang Ibu, jadi bagi Alina Mamah itu hebat dengan apa yang Mamah miliki. Jadi sudah ya, jangan salahkan diri Mamah terus, Alina ikut sedih jadinya,” ucap Alina panjang lebar dan terdengar menenangkan.


Amina yang mendengar itu langsung mengangguk dan tersenyum. Ia mengambil alat pengecekan suhu badan dan ternyata tidak terlalu tinggi.


“Kamu makan terlebih dahulu, lalu setelah ini kita minum obat ya sayang,” ucap Amina lembut dan langsung Alina angguki.


Dari dulu Alina tidak suka meminum obat, tapi kini dirinya telah dewasa. Dan walau hanya seorang dokter magang untuk saat ini, ke depannya dia akan menjadi dokter anak. Sesuai dengan keinginan dari neneknya sejak ia masih kecil, tapi karena Alina sangat menyukai anak-anak. Alina merasa jika hal itu bukan masalah besar untuknya.


...*****...


Sementara itu.


Bian yang mendengar kabar jika Sang adik sakit, ia yang memang hari ini sudah tidak memiliki jadwal lagi memilih untuk segera pulang. Biasanya meski jadwalnya sedikit, Bian akan tetap di rumah sakit dan menghabiskan waktunya di ruangannya untuk sekedar baca buku.


Walau Bian sudah menjadi seorang dokter spesialis jantung yang ahli, tapi Bian tetap membaca banyak buku entah itu berisi pengobatan secara alternatif atau medis.


Saat hendak memasuki mobilnya. Tanpa diduga, tiba-tiba seseorang menarik tangan Bian hingga ia harus berbalik dan menatap orang itu.


“Kemana saja kamu selama ini sayang? aku selama ini cari kamu, tapi kenapa kamu menghilang?”


Orang yang menarik tangan Bian tak lain adalah Farah. Wanita itu terlihat menatap ke arah Bian dengan tatapan yang kentara sangat merindukan Bian.