Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
POV Hero dan alina



POV Hero.


Hari ini, aku sedang membaca surat yang sebenarnya tidak ingin aku baca sama sekali. Tapi aku bisa apa? Alina istriku meminta aku untuk membaca surat dari mantanku, Alicia.


Sepanjang membaca surat, aku terus memperhatikan ekspresi wajah dari istriku. Apakah ia merasa tidak nyaman atau meneteskan air mata.


Bukan, aku bukan berharap istriku saat ini akan menangis karena surat ini. Tapi aku hanya takut jika surat ini akan membuatnya tidak nyaman.


Wajahku jelas terlihat menatapnya beberapa kali, hingga ia menyadari dan hanya balas tersenyum padaku. Seolah dia tidak merasa sedih dan marah.


Deg'


Aku takut.


Sebenarnya aku sangat takut jika seandainya rasa cinta Alina yang luar biasa itu akan hilang. Aku takut jika dia tidak mencintaiku lagi.


Itu yang aku takutkan saat ini.


Tapi melihat dia yang seolah sudah membuka hatinya lagi padaku, aku berusaha menepis pemikiran itu dan melanjutkan kembali membaca surat ini.


Setelah selesai, aku yang sebenarnya tidak terlalu membaca detail isi surat itu karena pemikiran diriku saat ini hanya tentang Alina.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanyaku dengan wajah yang aku tahu Alina pasti menyadari jika aku kini sedang mengkhawatirkan dia.


Alina hanya tersenyum, istriku yang baru aku sadari jika dia sebenarnya adalah wanita yang lembut dan amat sangat baik itu tidak terlihat meneteskan air mata.


Deg'


Aku ingin bertanya pada Alina, apa benar-benar tidak ada sedikitpun rasa sedih dan rasa marah dalam dirinya pada Alicia?


“Jika kamu ingin menangis keluarkan saja, jangan di tahan,” kataku.


Bukan berarti aku berharap istriku tercinta akan menangis sesenggukan, tapi yang aku khawatirkan sekarang adalah perasaannya.


Apa benar dia tidak marah? setidaknya pada sahabat yang jelas-jelas telah membohonginya.


“Tidak apa-apa aku baik-baik saja,” ungkap Alina.


Aku bisa melihat raut wajahnya yang seolah sedang menenangkan. Itu bukan membuatku tenang, tapi justru takut.


Apa benar istriku tidak merasa cemburu sedikitpun? apa benar dia tidak merasa marah sedikitpun saat ini? itu yang sekarang ada di benakku.


Lagi-lagi ku lihat Alina menggeleng. Dia tidak terlihat marah atau sedih sama sekali. Entah kenapa aku merasa jahat karena ingin dia merasa marah walau sedikit karena surat ini.


Setidaknya itu dapat meyakinkan sedikit jika aku ada di dalam hatinya saat ini.


“Untuk apa marah, bukankah itu sudah berlalu?”


Ucapan istriku itu benar, hingga aku sendiri bingung harus mengatakan apa untuk menjawab ucapannya.


Sejenak aku termenung lalu menatapnya dengan dalam. “Apa benar kamu tidak merasa cemburu sedikitpun?”


Setidaknya aku hanya ingin memastikan jika Alina istriku masih mencintaiku.


POV end.


“Tidak, untuk apa? untuk apa Alina marah? apa Alina harus marah pada Kak Hero? bukankah Kak Hero tidak bersalah?” tanya Alina dengan tatapan yang terlihat sedikit bingung.


“Wajar bagi kamu Alina jika kamu marah dan cemburu, kamu istriku,” kata Hero dengan tatapan dalamnya.


“Alina sebenarnya marah, tapi Alina juga tidak tahu harus marah seperti apa. Alicia sudah tidak ada, dan Alina tidak tahu harus marah pada siapa,” jawab Alina.


Bohong jika Alina tidak marah dan kecewa pada sahabat baiknya. Ia merasa dikhianati dan di sakiti dengan luar biasanya.


Meskipun Alina tahu jika itu semua karena Alicia iri dan merasa dirinya hanya mengambil sebagian kebahagiaan Alina saja.


Tapi apakah pertemanan tulus itu palsu? apakah semua yang Alina lakukan untuk sahabatnya. Waktunya serta kasih sayang yang ia berikan itu juga tidak berharga?


Apakah memang semua itu tidak ada artinya bagi Alicia? salahkah Alina mempercayai sahabatnya itu.


Tiba-tiba Alina teralihkan dengan anak laki-lakinya yang menangis dan memintanya untuk segera di raih.


“Anak kamu menangis terus sayang, Bunda juga bingung harus gimana ngehadapin anak kamu ini,” kata Amina yang langsung meraih anaknya yang sedang menangis itu.


Alina hanya tersenyum dan berusaha menenangkan anaknya itu. Sebelum keluar dari kamarnya bersama ibunya Alina melirik sejenak ke arah suaminya.


POV Alina.


Saat berada di luar kamar.


Bohong jika aku tidak merasa sedih dan marah saat ini. Hatiku hancur, benar-benar hancur. Bagiku Alicia itu sudah seperti keluarga sekaligus sahabat terbaik yang aku punya.


Apapun yang aku miliki selalu aku bagi dengannya, bahkan dalam hal pakaian. Setiap kali ada baju indah yang aku lihat aku akan selalu membeli satu untuknya.


Sesayang itu aku padanya.


Bahkan aku sudah menganggap jika Alicia bagai saudara kembar, karena segala barang yang aku miliki akan selalu sama dengannya.


Itu bukan karena Alicia yang ikut-ikutan, melainkan karena aku selalu membeli apapun dua, satu untuknya dan satu untukku.


Tapi, kenapa ini yang harus aku terima sebagai balasan?


Mengingat kehidupan Alicia yang sebagai kembaran Alisa, aku ingat jika Alisa selalu menjadi yang terbaik dalam hal apapun jika dibandingkan dengan sahabatku ini.


Maka itu, aku seringkali bersimpati padanya dan memberikan barangku padanya. Tapi ternyata bahkan hingga laki-laki yang aku cintai juga ingin ia miliki.


Heh'


Aku sadar aku bukan orang baik, hanya saja aku selalu berusaha baik karena itu yang diajarkan keluargaku. Tapi Kadangkala aku juga ingin menemui Alicia dan bertanya mengapa dia bisa sekejam itu padaku?


Kenapa?


“Sayang, kenapa?” tanya ibuku yang langsung menyadarkan ku dari lamunanku.


Aku sedikit tersentak dan hanya tersenyum ragu.


POV Alina end.


“Kamu ini gimana sih? anak kamu makan jadi belepotan gitu 'kan. Sini biar ibu aja yang kasih kesayangan ibu makan,” kata Amina yang terdengar sedikit mendengus kesal.


“Maaf Mah, Alina lagi banyak pikiran akhir-akhir ini.”


“Mikirin kerjaan 'kah?” tanya Amina dengan nada tak sukanya.


Terlihat jika Amina merasa jengah dengan sikap keras kepala anaknya itu.


Alina yang melihat kekesalan ibunya hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun. Ia hanya membantu ibunya merapikan pakaian anaknya yang sedikit berantakan.


“Sudah Bunda peringatkan supaya kamu segera berhenti dari pekerjaan kamu, tapi kamu itu susah dibilangin. Jadi itu terserah kamu saja,” kata Amina.


Amina hanya fokus pada cucu kesayangannya itu, ia terlihat menatap sayang pada cucunya itu. Sesekali Amina akan selalu mengelus gemas rambut hitam legam milik cucunya.


Meskipun wajah cucunya hampir sembilan puluh persen mirip Hero, tapi tidak ada sedikitpun kekesalan dalam diri Amina.


Walaupun dia belum sepenuhnya menerima Hero, tapi melihat betapa berubah dan baiknya Hero pada anak kesayangannya Amina sedikit menghargai itu.