
“Apa terasa sakit?” tanya Alina memperhatikan ekspresi Caca yang terlihat menggeleng.
“Jika sakit kamu bisa katakan itu pada Kakak, karena Kakak akan sedikit lebih pelan lagi,” lanjut Alina yang sangat hati-hati dan fokus dalam mengobati luka Caca.
“Kakak cantik',” panggil Caca yang sontak membuat Alina langsung menatapnya.
“Kenapa sayang?” tanya Alina dengan tatapan lembut.
Alina sadar jika ia belum memiliki anak apalagi pernah punya adik. Tapi ia memiliki rasa sayang lebih terhadap anak-anak. Dari dulu Alina sangat menyukai anak kecil, menurutnya mereka itu lucu dan menggemaskan.
Kenakalan yang mereka lakukan, tak lebih hanya cara mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka. Yang seakan mengatakan jika mereka butuh kasih sayang dan perhatian lebih. Perasaan anak-anak itu sensitif sama seperti perempuan, dan perasaan anak itu rumit, bagi orang-orang yang tidak berusaha untuk memahaminya.
Mereka tak lebih hanya kertas putih polos, yang apabila dibentuk atau digambar akan menuruti siapa yang mengajarkannya.
“Caca sangat senang bisa bertemu Kakak, Caca juga senang saat melihat Kakak cantik masih baik dan terlihat perhatian pada Caca.”
Anak kecil bernama Caca itu tersenyum manis dengan senyum tulus dan senang layaknya anak polos nan lugu pada umumnya.
Hal itu membuat Alina yang melihatnya ikut tersenyum dengan tulus. Ia bahkan sesekali mengusap pipi dan rambut Caca dengan gemas.
“Sangat lucu,” puji Alina yang membuat Caca tersenyum.
Berbeda dengan Santi yang hanya diam, pengasuh dan penjaga Caca itu terlihat mematung dan heran. Mereka yang bahkan sudah menjaga Caca selama tiga bulan saja, tidak pernah melihat Caca tersenyum apalagi tertawa selepas itu.
Caca akan selalu menunjukkan penolakan dan protesnya pada siapapun. Bahkan selama 6 bulan tinggal bersama ayah kandungnya, tak terhitung jumlahnya, berapa pengasuh yang telah diganti dikarenakan ketidaksanggupan menghadapi Caca.
“Terima kasih.”
...........
“Selesai.”
Alina menatap Caca yang kini terlihat hanya diam dan murung. “Caca kenapa sayang?” tanya Alina yang hanya dijawab oleh gelengan dari Caca, seakan anak kecil itu tidak ingin mengungkapkan kesedihan dan apa yang ia rasakan.
“Baiklah jika Caca tidak ingin jujur. Apa perlu Kakak antar kamu untuk pulang?” tanya Alina yang dengan cepat Caca jawab dengan gelengan.
“Biarkan Caca di sini. Please Kakak, Caca masih rindu dan ingin bertemu dengan Kakak.”
Melihat tatapan memohon dan berharap dari Caca. Alina hanya diam, tapi akhirnya ia mengangguk seakan menjawab jik dirinya setuju akan permintaan Caca itu.
Sepanjang hari, Alina berusaha fokus pada tugasnya. Dan Caca yang menemani Alina, ia yang merasa lelah langsung tertidur begitu saja dengan terlelap.
“Selama 1 bulan saya merawat nona muda. Ini untuk pertama kalinya saya melihat dia tidur dengan wajah yang sangat terlelap,” ungkap pengasu itu yang bernama Erna.
Wanita yang berusia sekita 40 tahun dan terlihat dewasa dengan sikap keibuan yang terlihat.
“Apa yang terjadi?” tanya Alina heran.
Mengingat jika jadwalnya telah selesai, Alina kini hendak bertanya tentang apa yang selama ini terjadi pada Caca.
“Terakhir saya melihat Caca, dia tinggal bersama dengan ibunya. Dan yang saya tahu Caca adalah anak yang sederhana dan ceria meski terlihat sulit untuk diatur.”
Erna yang hanya diam menatap Caca langsung menoleh pada Alina.
Alina tidak berkata apa-apa, tapi anggukannya adalah sebuah jawaban atas pertanyaan itu.
“Itu sekitar beberapa bulan yang lalu saat kami sedang bertugas di desa terpencil.”
“Ya, itu benar. Nona muda kami memang ditemukan di sebuah desa terpencil.”
Pengasuh itu jelas tahu jika Alina tidak berbohong dengan apa yang ia bicarakan.
“Bagaimana dengan ibu Caca?” tanya Alina penasaran.
“Wanita yang menjadi ibu dari Caca telah meninggal beberapa bulan yang lalu karena sebuah kecelakaan.”
Alina yang mendengar itu hanya diam, ia menunggu apa yang akan dijelaskan oleh pengasuh itu lagi.
“Semenjak meninggalkannya ibu kandungnya, nona muda semakin sulit untuk diatur. Ia bahkan sangat sulit untuk makan, mungkin paling tidak sehari sekali ia makan. Hal itu membuat majikan kami yang tak lain adalah ayah dari nona muda merasa cemas dan khawatir, hingga entah berapa dokter spesialis anak atau pengasuh yang sering berganti-ganti hanya untuk bisa merawat nona muda.”
Erna terlihat menjeda sejenak. Ada tatapan iba dan juga paham akan perasaan Caca.
“Mungkin hanya saya yang bertahan selama ini dibandingkan dengan pengasuh yang lain. Tapi saya tahu jika Nona muda kini hanya terlalu syok dan tidak bisa menerima kenyataan jika ibunya telah meninggal.”
“Maaf, mungkin ini terdengar tak sopan karena saya memotong pembicaraan Anda.”
Erna mengangguk seakan tidak masalah akan hal itu. Jelas Alina bulan orang yang tak sopan, mana ada orang yang bersikap tak sopan tapi akan meminta maaf.
“Siapa yang dari Caca?” tanya Alina langsung.
“Tuan Tama Cellino, dari keluarga besar Cellino.”
Cellino, bukankah itu keluarga ke tiga terkaya di negara Z? keluarga yang bahkan sangat misterius dan tidak pernah ada rumor ataupun berita apapun tentang keluarga itu.
“Tuan Tama? setahu saya jika tuan Tama telah menikah? dan saya tahu betul jika istri dari tuan Tama sendiri bukan ibu dari Caca.”
“Keluarga orang kaya kadang sangat rumit dan tidak bisa dijelaskan dengan cara singkat. Apalagi jika itu setara keluarga Cellino.”
Mendengar itu Alina mengangguk seakan paham dengan maksud dari ucapan pengasuh itu yang bernama Erna.
“Tuan Tama memang memiliki seorang istri, yang tak lain adalah orang yang ia cintai. Pernikahan mereka itu terjadi karena direstui oleh kedua belah pihak, tapi hidup itu kadang tidak sesempurna yang terlihat. Istri tuan Tama divonis tidak bisa memiliki anak, oleh karena itu, ibu dari nona Caca yang terlilit hutang rela untuk menyewakan rahimnya demi bisa melunasi hutang keluarganya.”
Terdengar Erna menjelaskan apa yang ia tahu pada Alina, rahasia itu seakan sudah menjadi rahasia umum bagi pekerja di rumah Cellino. Tapi meski begitu, jangan sampai rahasia itu bocor pada siapapun, karena konsekuensinya hanya mereka sendiri yang tahu saat akan merasakan kemarahan tuan Tama.
Dan justru entah mengapa Erna malah menceritakan ini pada Alina.
“Tapi mana ada seorang ibu yang rela untuk berpisah dengan anaknya? meski awalnya ibu nona Caca setuju, tapi naluri seorang ibu tidak bisa ditolak begitu saja. Rasa tak rela dan tidak ingin memberikan anaknya begitu saja, membuat wanita itu pergi dan mengingkari janjinya itu.”
Wanita itu' yang Erna maksud adalah ibu dari Caca.
“Saya harap Anda menjaga rahasia ini, karena saya percaya pada Anda.”
Alina yang mendengar itu mengangguk, memang hanya ia dan kedua pengawal serta pengasih dan Caca yang kini berada di ruangan Alina. Sedangkan Santi sedang menjalankan pekerjaannya saat ini