Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#41 Memaksa makan!



Begitu sampai, Alina langsung memasuki rumah sakit Cendana. Hari ini, Alina seharusnya bekerja sedikit lebih siang, karena tugasnya yang sedikit membuatnya kadang merasa jika ia tidak penting di sana.


Oleh alasan itu, Alina kadang berfikir untuk berhenti bekerja di sana.


“Alina,” sapa Andrean yang terlihat berhenti.


Alina yang melihat itu sontak ikut menghentikan langkahnya. “Iya dokter?” tanya Alina.


Andrean merupakan dokter kandungan, sama seperti ibu dari Alina yang merupakan dokter kandungan.


“Mau kemana? bukannya jadwal kamu agak siang ya?”


“Saya sengaja ingin memberi bekal ini untuk dokter Hero dok, kasihan dia sepertinya terlalu sibuk kerja hingga selalu lupa untuk makan.”


Untuk sekilas, tatapan tak suka saat mendengar itu terlihat, tapi setelahnya Andrean tersenyum ramah.


“Apa kamu sudah makan?”


“Sudah, saya sarapan di rumah lebih awal.”


Alina sebenarnya ingin cepat-cepat pergi dari sana, dari tatapannya saja Alina sudah tahu jika Andrean memiliki perasaan lebih padanya.


“Padahal saya ingin mengajak kamu makan loh, atau kalau tidak nanti siang kita makan bareng saja ya?”


Alina yang mendengar itu hanya diam, ia bingung harus menjawab apa. Jika Alina menolak, ia merasa sungkan dan tidak enak untuk menolak itu, tapi jika dirinya menyetujui itu. Alina tidak ingin jika harus memberikan harapan untuk Andrean.


“Saya tidak bisa janji dok, soalnya saya masih memiliki kesibukan yang harus saya urus. Maaf,” ungkap Alina yang tersenyum dengan wajah yang terlihat merasa bersalah.


Alina merasa bersalah karena telah membuat lelaki itu menyukainya, padahal Alina tidak melakukan apapun ataupun menggoda Andrean.


Dan bukankah rasa suka itu wajar?


Tapi entah mengapa justru Alina merasa bersalah untuk sesuatu hal yang bukan kesalahannya. Itu tak lain karena sebenarnya Alina memiliki rasa tak enak hati sama seperti ibunya.


“Tidak apa-apa, lain kali 'kan bisa, jadi nggak usah merasa bersalah seperti itu,” ujar Andrean dengan lembut dan terdengar menenangkan.


“Kalau begitu saya duluan,” pamit Alina yang hendak melangkah.


Baru beberapa langkah, Andrean kembali memanggil Alina.


“Iya?”


“Kalau ada waktu kamu bisa katakan itu padaku. Nanti akan aku sesuaikan jadwal aku dengan jadwal kamu.”


Alina hanya mengangguk saat mendengar itu, belum sempat berbalik Andrean kembali membuka suara.


“Apa hanya satu kotak makan saja? tidak ada kotak makan yang lain?”


Perkataan yang tak lain adalah sebuah kode, membuat Alina kesulitan untuk menjawabnya.


...*****...


Dengan susah payah Alina berhasil melewati segala pertanyaan dari Andrean. Ia bahkan terlihat sedikit ngos-ngosan karena berusaha menghindari dokter Andrean.


Sebenarnya dokter Andrean itu, tampan. Pasti banyak orang yang menyukainya, tapi sayangnya karena dia sepertinya sangat menyukai Alina.


Hingga Andrean yang memang menyukai Alina itu, ia terang-terangan mengejar Alina tanpa tertutupi.


Hal itu kadang membuat Alina tak nyaman.


“Kenapa?” tanya Hero terheran melihat Alina yang ngos-ngosan.


“Tidak dok, tidak apa-apa.”


Alina berjalan sedikit mendekat ke arah Hero, ia lalu memberikan kotak makan yang ia bawa.


“Saya membawakan pasta kesukaan Anda, dan saya secara langsung belajar dari ibu mertua saya yang tak lain adalah ibu Anda sendiri,” ucap Alina yang terdengar berbisik, agar hanya mereka berdua saja yang tahu.


“Tidak yakin apa?”


“Tidak yakin jika makanan itu bukan sebuah racun,” ucap Hero.


Sudah menjadi makanan sehari-hari Alina yang setiap ia memberikan sesuatu kepada lelaki itu, ada saja yang laki-laki itu katakan.


Entah hanya gertakan agar Alina menyerah, atau itu memang kata-kata yang sudah menjadi ucapan Hero sehari-hari?


Entahlah, Alina belum tahu itu dengan pasti.


“Tidak mungkin saya meracuni suami saya sendiri, saya tidak siap menjadi janda,” bisik Alina dengan tatapan dingin.


Memang Alina segila apa hingga mau meracuni suaminya sendiri.


Sejahil-jahilnya seorang istri, mereka tidak mungkin akan meracuni suaminya. Paling tidak mengerjainya dengan makanan yang sangat asin atau pahit, itu dilakukan saat kesal pada suami.


Dan Alina yakin ia juga akan berlaku seperti itu, tunggu saja saat Hero bisa menerimanya. Segala penolakan dan kata-kata gertakan itu pasti akan berbalik pada Hero juga.


“Racun yang saya maksud adalah, makanan kamu selalu terasa sangat asin dan tidak layak dimakan.”


Selalu, mulut beracun itu mudah sekali mengatakan kata-kata yang sering membuat mental Alina down.


Mood dirinya yang biasanya selalu semangat memasak menjadi turun karena kata-kata lelaki itu.


Ting.


Tiba-tiba sebuah notif Alina dapatkan.


Melihat sekilas, ternyata Alina mendapat pesan dari Hanny.


“Jangan dengarkan apa yang dikatakan pria buta itu. Tetap yakin pada kemampuan kamu, suatu saat dia akan bisa melihat dengan normal, saa itu dia pasti akan merasa menyesal telah meremehkan masakan kamu,” isi pesan dari Hanny yang berupa kata-kata ambigu.


Yang Hanny maksud dengan pria buta adalah Hero. Memang benar jika Hero tidak buta dan masih bisa melihat, tapi hati dari lelaki itu yang terlampau buta hingga ia seakan tidak bisa melihat ketulusan dari wanita secantik Alina.


“Iya Bun,” balas Alina dengan wajah tersenyum.


“Dapat pesan dari pacar kamu sampai sesenang itu ya,” ucap Hero dengan nada datar yang terkesan santainya.


Alina hanya menatap Hero dengan tatapan datar, mana ada seorang suami yang bertanya sesantai itu pada istrinya sendiri saat bertanya tentang seorang kekasih.


“Saya akan pergi, jika saya sudah memastikan dengan mata kepala sendiri kalau Anda sudah makan pasta buatan saya,” kukuh Alina.


Hero yang memang sangat mementingkan yang namanya pekerjaan itu, ia bahkan sering merasa menyayangkan waktunya hanya untuk makan saja.


“Apa mau saya suapi Anda secara langsung?”


Alina siap membuka kotak makan itu, tapi tatapan tajam dari Hero membuat aktifitas Alina itu terhenti.


Hero seakan mengatakan jika dirinya tidak ingin Alina melakukan itu.


“Saya janji saya akan pergi dari ruangan ini jika Anda telah memakan makanan ini, ayo makan!”


Hero tetap diam, ia mengabaikan itu dan kembali pada pekerjaannya itu. Seakan ia tidak peduli akan ucapan Alina yang seolah sedang mengancam dirinya.


“Ayolah sayangku, jika kamu sudah makan makanan ini aku jamin tidak akan mengganggu kamu lagi,” kata Alina yang seakan tidak peduli dengan Hero yang akan menganggap dirinya aneh ataupun lebay.


Karena Hero hanya mengenal Alina sebagai seseorang yang pendiam dan lugu. Ia bahkan tidak tahu jika yang namanya cinta seakan bisa membutakan siapa saja.


Seperti dirinya yang dulu ramah dan cerita menjadi dingin dan acuh. Tapi Alina kini tidak bermaksud menggoda Hero, ia hanya ingin agar Hero makan.


Itu saja yang Alina inginkan saat ini!


“Sejak kapan kamu seperti ini?” tanya Hero yang hanya dijawab dengan cengengesan dari Alina.


“Sejak sekarang,” jawab Alina dengan wajah polos tanpa dosa.