
Sepulangnya dari periksa kandungan, Hero terlihat hanya diam saja. Ekspresi wajah marah itu terlihat sangat kentara.
Siapa yang tidak akan marah jika istrinya tidak mengakui jika dirinya adalah suaminya? tapi 'kan harusnya Hero juga sadar, jika Alina melakukan itu semua karena Hero duluan yang tidak ingin jika pernikahan itu diketahui?
Jadi siapa yang paling bersalah di sini?
“Kenapa tuh suami kamu? dari tadi mukanya ditekuk terus, mana sok dingin lagi anaknya,” kata Hanny yang sengaja membuat Hero kesal.
“Mah, ini salah Alina.”
Sudah bisa ditebak sebaik apa Alina, jadi saat Alina mengakui kesalahannya itu, orang yang akan Hanny salahkan itu pasti Hero.
“Salah kenapa Sayang? apa kamu melakukan hal yang membuat suami kamu marah? atau justru suami kamu ini yang memang suka marah,” tatapan Hanny sedikit menatap ke arah Hero yang terlihat hanya diam.
“Bukan Mah, Kak Hero tidak salah sama sekali. Justru yang salah di sini itu Alina, jadi ...,” akhirnya Alina pun menceritakan kejadian tadi.
Alina memang sangat terbuka pada Hanny, selain dekat dan sudah seperti ibu dan anak kandung. Hanny juga suka dengan sikap jujur dan terbuka Alina padanya.
“Oh ya ampun ..., bukankah itu sangat bagus sayang? apa yang salah dengan itu? bukankah Hero yang lebih dulu untuk merahasiakan pernikahan ini? jadi letak kesalahan kamu itu dimana sayang? kamu nggak salah sama sekali! suami kamu ini yang kurang tahu diri!”
Hero yang mendengar itu, ia hanya bisa menahan rasa kesalnya. Padahal ia anaknya, tapi setiap bersama Alina, justru ibunya seperti akan selalu membela apapun yang Alina lakukan. Hero mau tak mau seperti diperlakukan bagai anak tiri.
“Tapi Bun-”
“Tapi kenapa sih sayang? kamu nggak salah. Bunda mengatakan ini karena Bunda mengerti dengan apa yang kamu rasakan. Jika Bunda jadi kamu, Bunda bahkan akan memilih untuk segera meninggalkan laki-laki itu dibandingkan terus bersama dengan dirinya jika pada akhirnya Bunda akan sakit hati seperti ini.”
“Bun!” perasaan Hero entah mengapa panas, emosi yang tak tertahan dengan tatapan yang tak suka akan perkataan ibunya itu, membuat Hero hanya bisa untuk menahan rasa marahnya itu.
*****
Alina yang sedang berada dalam suasana hati yang baik, ia kini sedang mengunjungi restoran. Alina tak sendirian, karena Belvita juga ikut.
Bedanya, Belvita tidak membawa anaknya. Karena Bian telah mengizinkan Belvita untuk bisa pergi bersama dengan Alina.
“Gimana hubungan kamu dengan suami kamu?” nada penasaran itu terdengar menyebalkan ditelinga Alina.
“Kamu setiap kita bertemu selalu bertanya bagaimana hubungan kamu dengan suami kamu' terus seperti itu saja, mengesalkan!” keluh Alina yang sebenarnya kini sedang cemas entah karena apa.
“Hey, kenapa marah gitu? apa ada masalah? jika memang pertanyaan itu sangat menggangu kamu, jangan dipaksakan untuk menjawab. Aku hanya bertanya saja karena kita hampir sama,” kata Belvita yang langsung mendapatkan tatapan dari Alina.
“Iya, kamu benar Bel, kehidupan kita hampir sama percis, dan mungkin ini balasan untuk aku atas rasa sakit yang kamu rasakan akibat kakakku,” kata Alina dengan nada sendunya.
“Hey kenapa kamu malah berfikir seperti itu? apa yang aku alami memang sudah ditakdirkan untukku. Dan apa yang telah dilakukan pada Kakak kamu padaku, walau itu menyakiti aku, kamu yang tidak bersalah tidak bisa menanggung rasa sakit itu. Jadi apa hubungannya jika kesalahan Kakak kamu dan rasa sakit yang aku rasakan, itu malah harus berbalik ke kamu? tidak ada Alina! aku justru berharap kamu lebih bahagia dariku!” ungkap Belvita tegas.
“Ingat ya Alina! jangan pernah mengatakan itu! kamu tidak bisa menanggung rasa sakit karena sikap Kakak kamu padaku, jelas itu tidak pantas kamu dapatkan! Kamu harus lebih bahagia dibandingkan aku, dan aku pun bahagia karena Kakak kamu telah memperlakukan aku dengan sangat baik akhir-akhir ini,” kata Belvita, ia menjelaskan seolah hubungannya dengan Bian yang merupakan kakak pertama Alina, kini hubungan itu telah membaik.
*****
Alina yang kini sedang berjalan-jalan kecil di sekitar tempat tinggalnya itu, ia tiba-tiba melihat jika ada sebuah mobil yang mendekat ke arahnya.
“Hay Kak Alina,” kata orang itu dengan ceria.
“Alisa? ada apa kamu ke sini?” tanya Alina heran saat ia melihat Alisa.
“Hari ini Alisa tidak memiliki banyak pekerjaan di rumah sakit. Dan oh ya, sudah lama sekali kita tidak bertemu ya Kak, apa kabar?” tanya Alisa lalu turun setelah memarkirkan mobilnya dipinggir.
“Baik, tapi apa tidak sebaiknya kamu memarkiran mobil kamu di tempat yang seharusnya?”
“Oh iya Kak, kebetulan ada hal yang ingin Alisa bicarakan dengan Kakak, apa bisa?”
.....
Alina awalnya ingin menolah ajakan Alisa itu, tapi ia tidak bisa karena merasa tidak enak hati. Pada akhirnya Alina pun menyetujui ajakan Alisa itu.
Dan kini, mereka berdua sedang berada di taman yang berada di sekitar tempat tinggalnya.
“Apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan?” dulu Alina dan Alisa tidak terlalu dekat, ia hanya bertemu beberapa kali, karena meski seumuran, sikap Alisa dulu tidak membuatnya nyaman untuk berteman.
“Tidak ada hal yang penting yang ingin aku bicarakan, hanya saja aku ingin bertanya sesuatu pada Kakak,” kata Alisa yang memang terkesan misterius.
Alina tidak dekat dengan Alisa dulu karena ada alasan, dan itu tentu hanya mereka berdua yang tahu.
“Oh ya, aneh sekali rasanya aku bersikap sok akrab dan sok dekat dengan Kakak, padahal kita tidak dekat sama sekali. Bukan salah siapa-siapa sih, 'kan dulu Kakak di hasut agar tidak bisa dekat denganku,” kata Alisa yang langsung membuat Alina menatapnya.
“Aku tidak termakan hasutan Alicia, hanya saja aku memang tidak menyukai sikap kamu yang tidak peduli ataupun menghormati Kakak kamu sendiri. Meskipun kalian hanya berjarak beberapa menit, dan itu hanya waktu yang singkat bagi kamu, tapi Alicia 'kan tetap Kakak kamu, aneh rasanya jika kamu justru sangat membenci Kakak kamu, sedangkan Kakak kamu itu sangat menyayangi kamu,” kata Alina panjang lebar, ia seolah berfikir ada kesalahpahaman yang terjadi antara Alicia dan Alisa, maka itu Alina berniat menjelaskan itu semua pada Alisa.
“Dia sayang padaku? orang setega dia sayang padaku?” kata Alisa yang tiba-tiba nadanya menjadi sinis.
“Hey, apa maksudnya itu, tidak ada seorang Kakak yang tidak menyayangi adiknya. Tentu Alicia itu menyayangi Kamu. Apa ada yang salah?”
“Tidak ada! hanya saja, aku merasa kasihan pada Kakak saja, benar-benar kasihan!” tatapan kasihan yang bagi Alina terkesan meledek itu, langsung membuat Alina tak suka.
“Apa maksud kamu?” tanya Alina dengan wajah dan nada yang terkesan sangat tak suka dengan apa yang dikatakan Alisa itu.
“Kakak tahu siapa orang yang dicintai oleh Kak Hero?” pertanyaan yang seakan sebuah misteri itu muncul dari mulut Alisa.
“Tidak 'kan? bagiamana jika aku katakan siapa orang yang Kak Hero cintai?” kata Alisa tanpa basa-basi langsung mendekat ke arah Alina, ia lalu berbisik dan mengatakan sesuatu pada Alina.