
Malam harinya.
“Kak, mau ke mana?” tanya Alina saat melihat jika Hero terlihat rapi dengan mengenakan pakaian khas dokternya.
“Ada jadwal operasi yang harus Kakak lakukan, kamu tidur saja lebih dulu. Jangan terus begadang hingga larut malam,” kata Hero yang terdengar memperingati.
Hero mencium puncak kepala Alina secara sekilas, itu sudah menjadi rutinitas Hero selama beberapa hari ke belakang. Itu tak lain karena permintaan Alina dengan alasan jika ia sedang mengidam dan ingin diperlakukan dengan lembut.
Meski tahu jika elusan yang kini Alina rasakan, ia tetap merasa hambar. Alina tahu jika laki-laki itu melakukan hal itu karena merasa bersalah padanya yang sering diabaikan selama ini.
“Jangan lupa makan ya, atau bila perlu Alina akan kirim makanan untuk Kakak nanti.”
“Tidak perlu! bukankah sudah aku katakan jika kamu harus banyak istirahat.”
“Baik Kak,” jawab Alina yang menunduk patuh.
Saat Hero hendak melangkah pergi, Alina tiba-tiba saja memanggil Hero. Ia ingat jika ada sesuatu yang ia ingin laki-laki itu belikan secara langsung untuknya.
“Alina ingin martabak dengan selai kurma, dan itu harus Kakak yang belikan secara langsung.”
Perkataan Alina hanya dijawab anggukan oleh Hero. Meski nanti Hero akan bingung ke mana ia harus mencari martabat dengan selai kurma, itu akan ia pikirkan nanti.
“Iya, istirahat lah.”
Setelahnya Hero pergi, Alina yang melihat itu hanya bisa duduk di kasurnya. Pikirannya Kimi seakan sedang melayang jauh, banyak pemikiran buruk yang harusnya tidak ada dipikirannya.
“Alina harap Kakak tidak melakukan hal yang akan membuat Alina kecewa. Dan Alina harap, Kakak bisa mendapatkan martabak yang Alina mau.”
*****
Larut malam.
Alina yang sempat tertidur selama beberapa jam itu langsung terbangun saat itu juga. Ia merasa terganggu saat ada gerakan tangan diwajahnya.
Mengusap matanya, Alina membuka matanya dengan perlahan. “Kak, sudah pulang?” tanya Alina yang ingin langsung duduk tapi sedikit kesulitan.
Hero yang melihat itu langsung membantunya, ia mendudukkan Alina dengan posisi Alina yang sedikit menyender pada kepala ranjang.
“Iya,” jawab singkat Hero.
“Jam berapa sekarang?” tanya Alina yang langsung melihat ke arah jam. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 2 malam.
Padahal tadi Hero pergi sekitar setengah delapan, ternyata cukup lama juga operasinya.
“Kakak bawa martabat yang Alina minta?” tanya Alina dengan wajah yang kini terlihat bersemangat.
“Kakak ..., tidak bawa itu.”
Perkataan Hero tentu langsung membuat Alina sedih, ia padahal sangat ingin martabak itu, walau memang jika keinginannya sedikit aneh. Tapi bukankah setidaknya Hero sedikit berusaha?
Jika sudah begini, Alina rasa jika sudah semakin jelas dirinya bukanlah hal yang menjadi prioritas Hero.
“Kenapa tidak bawa itu?” tatapan kecewa tidak bisa Alina sembunyikan. Tapi meski begitu ia ingin tahu alasan Hero.
“Operasi yang Kakak lakukan memerlukan banyak waktu, dan lagi saat Kakak pulang tidak ada satupun pedagang martabat yang terlihat.”
“Kakak 'kan bisa beli dari awal, apa Alina pernah bilang jika Kakak tidak boleh beli martabak dari awal?” Entah kenapa Alina kini merasa kesal, apa yang ia ingin 'kan tidak dituruti oleh Hero. Apalagi ini bukan hanya keinginannya saja, tapi keinginan anaknya juga.
“Tapi kita bisa menghangatkannya 'kan? kenapa Kakak nggak langsung bilang saja kalau memang Kakak nggak ada waktu buat belikan apa yang Alina mau!” Emosinya kini seakan bergejolak, dengan tingkat keegoisan yang bagi Alina bukan sebuah keegoisan.
Alina merasa lelah terus mengerti dan sabar pada laki-laki itu, tidak bisakah dirinya marah untuk saat ini?
“Maaf.” Untuk pertama kalinya Hero meminta maaf dengan tulus dan disertai tatapan bersalahnya pada Alina.
Sayangnya, Alina kini merasa emosinya telah menguasai dirinya. Hingga ia tidak bisa untuk memaafkan Hero semudah itu.
Mungkin ini hal sepele bagi Hero, tapi tidak bagi dirinya yang memang sangat menginginkan itu.
“Alina capek, Kakak mandi saja sekarang, bukankah Kakak memang tidak pernah mau mandi air hangat?”
Setelahnya Alina berbaring dan membelakangi Hero. Ia kini marah dan tidak ingin melihat wajah laki-laki itu.
“Kakak akan belikan martabat itu besok. Maaf, Kakak benar-benar lupa akan hal itu.”
“Tidak usah! Alina kenyang.” Alina acuh dan abai pada Hero. Ia langsung menutup tubuhnya dengan selimut tebalnya.
“Apa kamu ingin hari ini? apa perlu Kakak belikan sekarang?” tanya Hero lagi.
“Nggak usah! Alina bilang 'kan nggak usah! jadi nggak usah beli. Lagipula Kakak beli pun percuma. Alina nggak akan ada selera untuk memakannya.”
“Kalau begitu akan Kakak belikan sekarang juga, kamu tunggu di sini. Kakak akan belikan apa yang kamu mau saat ini.”
“Terserah.”
“Alina,” panggil Hero yang kini benar-benar memanggil dengan lembut.
Alina mengabaikan itu, sakit sekali rasanya jika apa yang kita inginkan tidak diwujudkan secepatnya. Apalagi kondisinya sedang hamil.
*****
Semenjak kejadian itu. Alina benar-benar mengabaikan Hero, selama seminggu lebih. Kebungkaman Alina hari itu, seakan membuat Hero sadar akan pentingnya wanita itu dalam berbicara padanya.
“Ada apa? Bunda lihat kalian pada diam? apa ada masalah?” tanya Hanny yang hanya dijawab keterbungkaman oleh keduanya.
“Hero ada apa?” tanya Hanny pada Hero.
Laki-laki itu, lantas menatap sejenak pada Alina dengan tatapan bersalahnya. Ini kesalahan yang tidak sengaja, mungkin karena dirinya memang terlalu fokus pada apa yang ia kerjakan hingga mengabaikan apa yang istrinya inginkan.
“Alina ngidam saat itu, tapi Hero lupa untuk beli apa yang ia mau.” Tanpa diduga, Hanny langsung saja mencubit Hero dengan keras. Sekeras rasa kesal yang kini Hanny rasakan.
“Shhh,” ringis Hero. Cubitan itu tak main-main hingga menimbulkan bekas dikulitnya.
“Benar-benar ya kamu! kamu mau anak kamu nantinya ileran gara-gara tidak kamu turuti apa yang dia mau? dasar! Bunda sampai bingung harus mengatakan apa sama kamu! jika itu ayah kamu, mungkin Bunda akan menyuruhnya untuk tidur di luar selama sebulan.”
“Maaf,” kata itu yang kembali Hero ucapkan.
Meski sebenarnya alasan Hero memang benar, ia tidak bisa menemukan pedagang martabat dimanapun, itu bahkan terjadi sejak ia hendak ke rumah sakit. Tapi, ingin membela diri pun percuma. Hero sadar jika ia kurang berusaha sejak awal, dan karena yang dipikirkan adalah pasiennya.
“Bunda, mungkin ini salah Alina juga. Dan Alina berfikir jika mungkin Alina yang terlalu berlebihan.”
“Setidaknya jika tidak bisa membelinya, dia bisa pesan online. Dan katakan saja jika itu dia yang beli, dengan begitu kamu tidak akan merasa kecewa sama sekali.”