Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#35 Ada sesuatu hal yang aneh



Alina kini sedang berkumpul bersama dengan kakaknya Eron. Seperti biasa, jika tidak sedang sibuk Eron akan berada di rumah.


Hari ini, Alina bisa berada dirumahnya dan bukan di mansion itu tak lain karena ibunya khawatir padanya, Amina meminta Alina untuk menginap sementara waktu. Sampai ia bisa memastikan jika ruam yang Alina alami itu sudah sembuh.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dan kedua orangtuanya serta kakaknya, Bian belum pulang sama sekali, itu menandakan jika mereka kini masih sibuk.


“Kak, enak ya jadi dokter kecantikan, dapat banyak uang dan bisa pulang seenaknya,” ucap Alina yang terdengar menyindir kakaknya.


Entah Eron yang terlalu senggang atau semua tugasnya ia serahkan pada dokter yang berada dibawah perintah dirinya. Yang jelas, Alina kini berfikir jika kakaknya itu terlalu senggang, dan mungkin dokter lain tidak sesenggang kakaknya ini.


“Kakak 'kan bosnya, bebaslah kalau kakak mau pulang jam berapa aja. Lagipula di klinik 'kan ada dokter yang lain,” jawab Eron.


Seperti biasa, Eron kadang selalu berkata dengan nada acuh dan tak pedulinya.


Meski masih muda, Eron memiliki sebuah salon dan klinik kecantikan sendiri. Kliniknya ia bangun atas jerih payah dan dengan hasil tabungannya sendiri dari salon yang ia bangun saat kuliah. Karena Eron selama kuliah, selalu menabung jatah uang jajannya itu.


Dan sekarang, bahkan kliniknya itu sudah lumayan cukup terkenal dan memiliki banyak peminat yang berkunjung. Salonnya, yang pertama kali ia bangun dan sudah berdiri sejak Eron masih kuliah, sekarang sudah memiliki beberapa cabang.


“Iya deh, Si yang paling jadi Bos,” jawab Alina yang ikut acuh.


Eron yang memang sedang tak ingin berdebat, ia hanya diam dan memilih fokus pada televisi yang berada tepat dihadapannya.


“Kak, kakak tahu dimana Belvita tinggal,” tanya Alina yang hanya dijawab dengan tatapan heran dari Eron.


“Kamu ini aneh, kamu 'kan sahabatnya, kenapa nggak tahu tentang keadaan sahabat kamu sendiri?” tanya Eron yang dengan santai memakan cemilannya.


“Bukan begitu, Kakak tahu 'kan kalau selama 2 minggu ini Alina berada di luar kota. Lagipula Alina kehilangan kabar Belvita sejak sepuluh hari yang lalu, padahal 'kan Alina sudah berusaha untuk menghubunginya, tapi tetap saja nomor Belvita sulit untuk dihubungi,” jelas Alina. Jujur saja ia merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.


Eron yang mendengar itu, ia merasa semakin heran. Jelas Eron tak tahu kapan Belvita pindah dan dimana ia pindah Eron pun tak tahu. Yang Eron tahu, Amina yang tahu tentang masalah ini.


“Coba kamu tanyakan langsung masalah ini pada Mamah, jelas Belvita selama tinggal di sini sangat dekat dengan Mamah, mereka bahkan sering sekali masak bersama, dan terakhir kali kakak dengar saat hari ke 5 kamu di luar kota, Belvita meminta izin untuk pindah, tapi kamu 'kan tahu bagaimana sifat Mamah. Dia nggak akan pernah mau mengizinkan orang yang dipedulikan olehnya untuk pergi begitu saja,” jawab Eron menjelaskan panjang lebar.


“Lalu akhirnya Belvita tinggal di sini? tapi kapan ia pindah?”


“Sebenarnya Mamah ingin Belvita terus di sini, karena 'kan Mamah sudah menganggap Belvita seperti anak dia sendiri, tapi sejak 1 minggu yang lalu belvita memaksa untuk pindah, dan Mamah akhirnya terpaksa mengizinkan karena hal itu adalah keinginan Belvita yang tidak bisa ia cegah lagi,” jelas Eron lagi. Ia bercerita panjang lebar.


“Tumben Kakak tahu banyak cerita tentang Orang, biasanya 'kan cuek sama orang lain,” ungkap Alina dengan nada sedikit meledek, ia sebenarnya sedang memikirkan Belvita, apa alasan sahabatnya itu tidak memberi kabar padanya dan apa alasan Belvita pindah tiba-tiba.


“Itu calon kakak ipar kamu loh, dan itu calon istri kakak, jadi wajar kalau kakak peduli,” pede Eron yang langsung mendapat tatapan sinis dan meledek dari Alina.


“Jangan mimpi,” sinis Alina yang langsung melenggang pergi.


...*****...


Keesokan harinya.


Alina yang melihat jika ibunya terlihat hanya diam dan termenung, ia yang melihat itu langsung saja berjalan untuk menghampiri.


“Mah, kenapa nggak kerja?” tanya Alina menyentuh pundak Sang Ibu.


Amina yang sedikit termenung, ia mendadak terkejut dengan kedatangan anaknya yang datang tiba-tiba.


“Mamah melamun? ada apa? apa ada masalah?” tanya Alina yang merasa khawatir.


Setelahnya, Alina langsung duduk, ia menyadarkan kepalanya pada ibunya, seakan ia rindu saat dimana ia bisa manja dan mengeluh sepuasnya.


Dewasa itu menyakitkan, dan mandiri itu hal yang sangat sulit. Alina juga ingin mengeluh, tapi ia selalu merasa jika dirinya harus dewasa, siap atau tidak dirinya saat ini, ia tetap harus kuat dan selalu bersikap dewasa.


Walau Alina juga kecewa akan takdirnya, laki-laki yang sangat ia cinta tidak mencintai dirinya. Itu seakan sebuah tamparan keras untuknya, karena dia tidak pernah berfikir sampai sana, entah mengapa Alina sampai bisa berfikir jika Hero juga memiliki perasaan yang sama untuknya.


“Nggak ada, justru kamu yang kenapa? apa ada masalah? ingin cerita?”


“Mah, Mamah tahu Belvita ada dimana?” tanya Alina, ia mengangkat kepalanya dan menatap ke arah ibunya.


“Belvita, dia meminta izin pada Mamah untuk pindah. Padahal jelas-jelas sudah Mamah larang karena Mamah sudah sayang dan peduli padanya.”


“Kenapa bisa? apa ada sesuatu hal yang terjadi?” tanya Alina dan Amina hanya menggeleng tak tahu.


“Entahlah, Mamah juga tidak tahu,” jawab Amina.


Amina hanya diam, ia tiba-tiba mengingat akan kejadian dimana dirinya melihat Belvita menangis, kejadian itu yang membuat Belvita meminta untuk pindah, pada awalnya berhasil ia larang tapi pada akhirnya ia juga pindah dari sini.


Flashback


Pada saat itu, Amina yang baru saja mendengar jika Alina terjun langsung untuk menangani pasien, ia merasa khawatir dan ingin menyusul anaknya. Tapi suaminya yang tahu akan niatnya itu langsung saja melarang dirinya, ia yang tidak bisa menemui Alina merasa jika dirinya telah gagal melindungi Sang Anak.


“Ingat ya Mah, ini sudah menjadi tugas Alina yang ingin menjadi dokter. Jadi sebagai orang tua kita harus mendukung dan terus menjadi penyemangat untuknya. Dan jangan menyalahkan diri kamu atas sesuatu hal yang terjadi, itu bukan salah kamu, Alina juga pasti akan baik-baik saja,” ucapan Setoni yang begitu panjang tapi mampu untuk Amina ingat dengan jelas kata-kata itu.


Amina pada akhirnya hanya bisa pasrah dan berharap agar anaknya tetap baik-baik saja tanpa terluka sedikit pun. Saat Amina hendak ke kamar Alina dan melewati kamar Belvita, ia mendengar suara isak tangis seseorang yang menangis dengan pilu.


Mendengar suara tangis itu berada dari kamar Belvita, Amina segera mengetuk-ngetuknya hingga beberapa kali.


“Sayang, kenapa? ada sesuatu hal yang menggangu kamu?” tanya Amina cemas.


Meski Belvita bukan anaknya, tapi ia sudah menganggap Belvita layaknya anaknya sendiri.


Beberapa menit kemudian, Belvita akhirnya keluar, ia keluar dengan wajah sembab dan rambut yang sedikit acak-acakan.


“Ada apa? apa ada sesuatu hal yang membuat kamu sedih?” tanya Amina dengan nada khawatirnya.


Belvita hanya menggeleng cepat walau terlihat lemah. “Belvita baik-baik saja Tante,” jawab Belvita berusaha tersenyum.


“Boleh Belvita pindah dari rumah ini?” tanya Belvita tiba-tiba.


Amina yang mendengar itu merasa heran. “Apa ada sesuatu hal yang membuat kamu tak nyaman?” tanya Amina langsung.


“Tidak, Belvita hanya ingin pindah saja, tolong izinkan Belvita untuk pindah,” pinta Belvita yang Amina jawab dengan perkataan.


“Kamu tetap disini ya, Tante takut Alina akan merasa khawatir pada kamu,” bujuk Amina