
Hari-hari berlalu.
Tidak terasa, jika kini usia kandungan Alina sudah memasuki usia ke 5 bulan. Tidak terasa rasanya jika waktu berlalu cepat. Alina yang kini terlihat buncit, karena ternyata ia sedang hamil kembar.
Tidak seperti dulu lagi, kini Hero memperlakukan Alina dengan baik. Perlu digaris bawahi jika Hero sedikit memperlakukan Alina dengan baik, karena kadang laki-laki itu masih tetap saja sibuk dengan pekerjaannya.
Seperti saat ini, Alina yang memang tidak memiliki jadwal di rumah sakit. Ia hanya diam di rumah dan rebahan. Sudah menjadi hal yang sering Alina lakukan jika ia kadang hanya berbaring sambil menonton televisi.
Kadang Alina akan menyiapkan makan malam untuk Hero saat pulang. Itu juga termasuk rutinitas yang Alina lakukan. Akhir-akhir ini Alina juga sangat giat dalam belajar memasak untuk Hero, ia tidak ingin mengecewakan laki-laki itu dengan masakannya.
“Alina, minum susu dulu sayang,” ungkap Hanny yang terdengar mengingatkan.
Entah bagaimana Alina harus mengungkapkan rasa terima kasihnya karena bisa memiliki mertua sebaik Hanny. Karena Hanny setiap hari akan peduli dan perhatian pada Alina.
Mengingatkan Alina untuk minum susu ibu hamil, atau kadang sering sekali membawakan Alina makanan yang sehat dan enak.
“Bunda, biar Alina yang buat langsung. Hari ini Bunda baru saja selesai dari acara penting bukan? jadi biarkan Alina yang buat sendiri saja.”
“Tidak apa-apa sayang, Bunda malah senang bisa buat susu untuk diminum oleh menantu dan para cucu Bunda yang ada di sini,” ungkap Hanny tersenyum dan mengusap perut Alina lembut.
“Kamu di sini, Bunda akan buatkan susu untuk kamu. Mau rasa apa hari ini?” tanya Hanny menatap Alina antusias. Rutinitas yang hampir setiap hari Hanny tunggu adalah bisa membuatkan susu untuk Alina.
“Vanilla Bunda. Alina hari ini ingin minum susu rasa vanilla.”
“Baiklah, akan Bunda ambilkan kalau begitu. Kamu tunggu di sini saja!”
Setelah mengatakan itu, Hanny langsung pergi menuju dapur. Ia meninggalkan Alina yang hanya diam di ruang tamu. Entah mengapa Alina link sangat suka menonton televisi di ruang tamu. Padahal dikamarnya juga ada sebuah televisi besar.
“Hai sayang, sedang apa? menunggu Hero?” tanya Bram yang sama sayangnya seperti Hanny pada Alina.
Bram sudah menganggap Alina seperti anaknya, ia juga kadang lebih perhatian dan peduli pada Alina jika harus dibandingkan dengan Hero.
“Tidak ayah, Alina hanya sedang menonton televisi.”
“Kenapa tidak di kamar saja? bukan ayah melarang kamu, tapi ayah hanya berfikir mungkin kamu akan mudah saat ingin istirahat.”
Perkataan Bram hanya Alina jawab dengan anggukan, ia tersenyum dan menatap Bram dengan tatapan paham.
“Tapi Alina merasa nyaman jika menonton televisi di ruang tamu.” Alina beralasan, ia hanya ingin jika saat menyambut Hero nanti, dirinya tidak kesulitan untuk segera datang.
“Kamu ini, bilang saja kalau kamu khawatir dengan Hero. Atau kamu ingin segera menyambut Hero?” tanya Bram sedikit bercanda, ia berniat menggoda Alina yang begitu perhatian pada Hero.
“Ayah,” kata Alina merasa malu dengan tatapan yang mengandung ledekan dari Bram.
“Hahahaha, sayang kamu sangat lucu. Pasti suatu saat nanti Hero akan sadar betapa beruntungnya dia bisa mendapatkan kamu.”
Bram tahu, bahkan hingga saat ini, Hero masih saja bersikap seolah ia mengabaikan Alina. Mungkin tidak seperti dulu, karena kini Hero sering di rumah dan jarang di rumah sakit Cendana.
“Ayah sudah pulang?” tanya Hanny dengan tatapan tak percaya miliknya. Laki-laki yang biasanya super sibuk itu, kini sudah pulang padahal hari masih sore.
“Hari ini pekerjaan ayah sedikit Bunda, Hero juga sudah memiliki asisten yang membantunya. Selain itu sisanya asisten kepercayaan ayah yang kini masih berada di perusahaan.” Penjelasan Bram itu hanya Hanny jawab dengan anggukan.
...*****...
Alina awalnya hanya diam saat laki-laki yang ada dihadapannya hanya fokus dengan pekerjaannya itu. Tapi melihat jika Hero terlalu fokus hingga ia sadar jika kini waktunya untuk tidur. Alina berniat mengingatkan Hero untuk istirahat.
“Sudah malam, apa Kakak tidak lelah?” tanya Alina saat Hero menatap ke arahnya.
“Kamu tidur saja lebih dulu. Masih ada kerjaan yang harus segera di urus,” kata Hero yang langsung Alina jawab dengan gelengan.
“Bagaimana Alina bisa tidur jika Kak Hero belum tidur? lagipula bunyi ketikan dari laptop membuat Alina akan merasa terganggu,” alasan Alina yang sebenarnya ingin agar Hero segera tidur.
“Kalau begitu aku akan mengerjakan pekerjaan ini di luar,” jawab Hero yang hendak bangkit sambil membawa laptop ditangannya.
“Di sini saja Kak, Alina nggak suka sendiri. Kalau memang pekerjaan Kakak masih banyak, setidaknya kerjakan yang menurut Kakak paling penting. Dan bisa kah sisanya Kakak kerjakan besok?” tatapan meminta Alina tunjukkan hingga Hero hanya menjawab dengan anggukan.
Satu menit ... dua menit ... hingga setengah jam pun berlalu. Tapi masih tidak ada tanda-tanda jika Hero sudah selesai mengerjakan pekerjaannya itu. Karena Hero masih fokus pada layar laptopnya.
“Biarkan Alina buatkan Kakak susu coklat panas,” kata Alina yang langsung bangkit dari sofa walau dengan sedikit kesulitan karena usia kandungannya yang besar.
Karena hamil anak kembar, tentu kondisi kandungan Alina lebih besar jika dibandingkan orang yang hamil satu bayi. Maka wajar jika walau masih berumur lima bulan, tapi kandungan itu layaknya sudah berusia tujuh bulan.
“Hati-hati,” kata Hero mesti masih sedikit datar.
Alina menoleh, ia lalu tersenyum dan mengangguk.
“Alina akan hati-hati Kak.”
Beberapa saat kemudian, Alina datang dengan membawa susu coklat panas ditangannya.
“Hati-hati Kak masih panas.”
...*****...
Keesokan harinya.
Tidak seperti biasanya, Hero yang selalu bangun lebih awal dibandingkan siapapun. Kini ia justru tidur lebih lama hingga bangun kesiangan.
Tahu jika Hero bisa saja kesiangan dalam bekerja, Alina tidak berniat untuk membangunkan laki-laki itu, ia kini hanya diam dan menatap Hero dengan seksama.
Fitur wajah tampan Hero terlihat sangat sempurna saat ia sedang tertidur. Mata hitam pekat yang bisa menenggelamkan siapa saja, kini tertutupi oleh kelopak mata. Hingga Alina tidak bisa melihat mata tajam itu saat ini.
Tapi wajah Hero yang tertidur, membuatnya terlihat seperti bayi kecil yang polos. Ekspresi datar dan acuh yang sering Alina lihat, kini hilang.
Sangat jarang melihat ekspresi wajah polos Hero, apalagi Hero biasanya bangun lebih awal dibandingkan siapapun.
“I Love you,” bisik Alina pelan.
Jika ditanya mengapa Alina begitu mencintai Hero, jawabannya hanya Alina sendiri yang tahu. Mungkin jika orang melihat betapa sempurnanya Hero, ia akan jatuh cinta karena kesempurnaan itu, tapi Alina berbeda.
Mata yang terpejam rapat itu, sedikit bergetar, dan dengan perlahan mulai terbuka sedikit demi sedikit.