Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#39 Pernikahan Sang Kakak



Alina terus berjalan mengikuti Hero dari arah belakang. Saat Alina hendak jatuh, ia refleks memegang lengan Hero.


“Maaf Kak,” ucap Alina pada Hero.


Hero hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Hero hendak naik ke atas pelaminan karena tadi saat ia sempat ke kamar mandi, Alina telah maju ke pelaminan lebih dulu.


Alhasil Alina kini hanya diam, ia menatap ke arah Hero yang sedang menaiki pelaminan. Tatapan kedua kakaknya itu terlihat kurang bersahabat.


Bian yang tidak menyukai Hero, dan Eron juga tidak menyukai Hero. Tatapan itu terlihat mereka tunjukkan secara terang-terangan.


Alina ingin menaiki pelaminan, tapi tangan Hanny yang tiba-tiba menarik tangannya dengan lembut. Membuat Alina langsung menoleh. “Kenapa Bun?” tanya Alina.


“Biarkan saja mereka sayang, kita lihat saja dari sini. Itu juga urusan antar pria, jadi kita cukup di sini saja,” ucap Hanny yang langsung Alina jawab dengan anggukan.


Akhirnya Alina hanya diam dan menatap ke arah sahabatnya yang sedang ada di atas pelaminan. Alina benar-benar tidak menyangka jika sahabatnya akan mengalami kejadian seperti itu.


Kejadian dimana Kakaknya diberi obat perangsang oleh pasien yang ingin memilikinya, dan sahabatnya itulah yang menjadi korban atas ketidaksadaran dan Bian melecehkan wanita itu hingga benda paling berharga milik Belvita telah Bian terenggut.


“Bian sialan! lelaki brengsek nggak tahu diri! tega sekali kamu putus denganku lalu menikahi orang lain,” teriak seseorang yang kini menjadi pusat perhatian.


Orang itu tak lain adalah Farah. Terlihat jelas jika kini wajah Farah merah padam dan tak terima, ia terus saja meronta-ronta saat ada penjaga yang berusaha untuk menghalangi dirinya agar tidak mendekat.


Wajah putus asa yang terkesan sangat sendu itu kini Farah perlihatkan, hingga beberapa pengunjung ikut berbisik-bisik. Ada yang merasa iba, ada juga yang merasa risih atau bahkan tidak peduli.


“Ini baru tiga hari sejak kita putus, dan kamu sudah menikah dengan orang lain?” tatapan tak percaya Farah tunjukkan pada Bian.


“Padahal aku pikir kamu sangat mencintai aku, ternyata kamu hanya mempermainkan aku. Benar-benar sangat keterlaluan kamu!”


Terus saja Farah berkata tanpa peduli bisikan buruk dari orang lain, karena kini ia hanya peduli dengan Bian.


Farah seolah benar-benar sudah tergila-gila dengan sosok Bian. “Padahal aku sedang hamil, tega sekali kamu malah menikahi wanita lain disaat aku sedang hamil muda.”


Sontak ucapan Farah mengundang tatapan tak percaya dari semua orang. Sedangkan Bian yang terlihat ditatap dengan pandangan buruk dan menghina, ia kini hanya diam seolah itu bukan dirinya.


“Kapan aku menyentuh kamu? bahkan mencium kamu langsung saja aku tidak pernah,” jawab Bian.


Karena laki-laki itu memiliki prinsip yang kuat, Bian merasa jika ia hanya kekasih Farah. Dan karena Bian juga berfikir mungkin Farah akan merasa bosan setelah bersamanya, jadi ciuman pertama ataupun apa yang seharusnya menjadi hak suami dari Farah di masa depan nanti tetap Bian jaga.


Kecuali untuk sekedar pegangan tangan saja, karena itu sudah termasuk paling intim bagi Farrel.


“Jadi kamu tidak mau mengakui anak ini?” tanya Farah dengan tatapan tak percayanya.


“Kakak saya bukan orang yang seperti itu nyonya, dan saya yakin jika Kakak saya tidak melakukan itu!” tegal Alina yang menjadi pusat perhatian