Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Berdebat dengan Syela



Alina kini sedang memakan sarapannya bersama dengan Hero, tidak hanya Hero yang ada di sana. Karena Hanny juga ada di sana.


“Alina, kamu tetap tinggal bersama dengan Bunda ya Nak, untuk seminggu ke depan.”


Hanny mengingatkan Alina dengan ucapannya tadi malam, sebenarnya bukan Alina yang Hanny maksud untuk diingatkan, tapi Hero yang Alina maksud untuk diingatkan. Terlihat dari tatapan Hanny yang tak lepas dari Hero yang hanya fokus memakan.


Alina yang sedang memakan makanannya itu, ia sontak menghentikan acara makannya, dan menatap Hanny.


“Kenapa Bun?” tanya Alina dengan pandangan yang merasa bingung. Sepertinya Alina lupa tentang Bram yang akan keluar negeri selama seminggu ke depan.


“Selama seminggu Ayah akan berada di luar negeri. Itu berarti Bunda hanya akan tinggal sendiri nantinya,” ucap Hanny dengan wajah murungnya.


“Bunda tahu kalian pasti tidak akan pernah tega melihat Bunda sendirian 'kan?”


Tidak ada yang menjawab ucapan Hanny, tapi ucapan itu Hanny artikan jika Hero dan Alina setuju dengan apa yang Hanny katakan.


...*****...


Pagi hari.


Alina bangun pagi hari sekali, ia melihat ke arah samping kasurnya. Lelaki yang Alina tidak pernah lihat kapan ia pulang tapi saat Alina terbangun ditengah malam ia melihat jika Hero sedang tidur disampingnya. Dan begitu ia terpejam sekejap, saat membuka mata lagi, lelaki itu sudah tak ada disampingnya.


Menyentuh kasurnya yang terasa dingin, seakan menandakan jika lelaki itu telah pergi cukup lama.


Kapan Hero bangun?


Kenapa setiap Alina bangun kasur tempat tidur lelaki itu selalu terasa dingin, padahal Alina yakin saat ia terbangun ia melihat jika Hero tidur disampingnya.


Apa itu ilusinya saja?


Tapi Alina rasa itu bukan sebuah ilusi, itu nyata. Karena tidak ada mimpi yang akan senyata itu. Bangun dari tempat tidurnya.


Alina berjalan menuju lemari pakaian, menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan hari ini. Sudah menjadi rutinitas Alina sebelum mandi, ia akan selalu menyiapkan baju yang akan ia pakai nanti.


Mengingat aktifitas yang ia lakukan, Alina ingat jika tugasnya ini tidak pernah ia lakukan untuk Hero.


“Kapan biasanya kamu bangun Kak? kenapa setiap aku bangun kamu sudah nggak ada? apa itu karena Alina bangun kurang pagi?” tanya Alina pada dirinya sendiri.


Padahal Alina selalu bangun pagi, ia sudah terbiasa bangun pagi. Tapi entah mengapa Hero justru bangun lebih pagi dibandingkan dirinya sendiri.


Menghentikan lamunannya itu, Alina berjalan menuju kamar mandi. Tak lama kemudian Alina selesai dengan rutinitasnya itu.


“Sayang,” panggil Hanny yang terlihat menghampiri Alina.


“Kamu kerja jam segini? bukankah ini terlalu pagi?”


Alina yang sedang menuruni tangga mendadak berhenti melangkah saat Hanny kini berada disampingnya.


“Nggak Bun, Alina hari ini bangun pagi karena ingin menyiapkan sarapan untuk Kak Hero,” jelas Alina.


“Setiap hari kamu bangun pagi dan mengantar sarapan untuk Hero ke rumah sakit?” tanya Hero yang langsung Alina jawab dengan anggukan.


“Pasti sayang, Bunda pasti akan selalu doa 'kan kamu selalu,” ungkap Hanny. Ia merapikan anak rambut Alina dan tersenyum saat menatap ke arah Alina.


“Bunda bantu kamu bikin sarapan ya?”


Anggukan dari Alina Hanny dapatkan sebagai jawaban.


...*****...


Alina memasuki rumah sakit Cendana dengan membawa bekal nasi goreng yang ia bawa.


Nasi goreng dengan dilengkapi telur gulung beserta sayuran dan kerupuk. Hero sebenarnya sangat pilih-pilih dalam makanan, ia akan memilih makanan yang menurutnya sehat baru akan ia makan.


“Heh, lagi ngejar seseorang kok kelihatan sekali ya,” ungkap Syela dengan nada sinisnya.


Alina yang mendengar itu, ia sontak menghentikan langkahnya, Alina lalu menoleh dan menatap Syela dengan tatapan mata yang terkesan tidak ada permusuhan sama sekali.


Berbeda sekali dengan Syela yang menatap Alina dengan tatapan memusuhi.


“Seperti yang Kakak lihat? bukankah itu sudah sangat jelas?” tanya Alina, ia rasa tidak perlu berdebat dan membuat kegaduhan di rumah sakit Cendana.


“Heh, sombong sekali kamu. Memangnya kamu siapa? sok-sokan mau mengejar dokter Hero? tidak pernah ngaca? atau tidak punya kaca di rumah?” sinis Syela.


Syela heran, ia sebenarnya sudah meminta pada ayahnya agar memberhentikan Alina yang notabenya masih dokter magang. Menurut Syela, Alina tidak berpengaruh penting di rumah sakit. Itu tak lain karena Alina hanya ditugaskan untuk membantu Hero, sedangkan Hero sendiri jarang sekali memberi tugas pada Alina.


.


“Lalu sehebat apa Anda seakan merasa jika diri Anda sangat pantas bersama dengan Kak Hero?”


“Tentu, saya hebat. Kamu tahu, saya adalah anak perempuan satu-satunya keluarga Cendana. Dan itu artinya saya adalah anak emas dari keluarga Cendana. Kamu tahu 'kan bagaimana berkembangnya rumah sakit Cendana akhir-akhir ini?” sombong Syela, ia bahkan tidak ingat jika ada yang lebih hebat darinya dari segi status, yaitu anak perempuan keluarga Angkasa.


Tidak ada yang tahu jika Alina adalah anak emas keluarga Angkasa, keluarga dokter yang terkenal itu. Hanya Bian dan Eron yang orang-orang ketahui sebagai anggota keluarga Angkasa. Karena anak perempuan dari keluarga Angkasa itu, katanya sangat sibuk.


“Apakah Anda yakin anda sehebat itu? tidak 'kah Anda tahu mengenai berita tentang anak Emas keluarga Angkasa? bukankah anak emas itu katanya sangat amat cantik. Jadi apakah Anda masih tetap ingin membanggakan diri Anda sendiri?”


Pernah ada yang merumorkan jika anak perempuan dari keluarga Angkasa itu amat sangat cantik, tapi sampai sekarang tidak ada yang tahu bahkan tidak pernah sekalipun foto Alina sampai muncul diberita


Setoni seakan melindungi anaknya, Bian dan Eron pun sama.


“Itu hanya karangan orang saja demi uang, beritanya pun paling cuman mengada-ngada. Nggak ada yang benar dari berita itu, itu pastikan cuman rumor uang ditambah-tambahkan. Toh kamu juga bukan anak dari keluarga Angkasa,” sini Syela dengan tatapan tak suka.


Sebagai dokter kecantikan yang tahu tentang standar kecantikan, ia tahu jika Alina amat sangat cantik. Hal itu membuatnya kesal sekaligus iri, tapi saat berfikir jika Alina itu hanya manusia biasa tanpa status apa-apa, hal itu seakan membuatnya merasa unggul.


“Apa memang seperti itu? tapi sayangnya saya kenal baik dengan orangnya. Dia baik dan terlihat cantik seperti yang dirumorkan, dan menurut saya orang cantik tidak perlu untuk menunjukkan dirinya kedunia Maya secara langsung.”


Alina tahu, dunia Maya tidak sebaik yang dipikirkan dan tidak seburuk pula yang kita duga. Hanya saja, dunia Maya terlalu berbahaya. Maka itu, Alina berterimakasih saat Setoni sangat melindungi dirinya agar tidak ada satupun berita yang muncul tentangnya.


“Hahahaha, suka ngarang kamu. Nggak mungkin orang kayak kamu bisa kenala dengan nona Angkasa,” ucap Syela. Ia tak tahu nama asli dari anak perempuan keluarga Angkasa.


“Ya sudah kalau nggak percaya, toh saya juga nggak berniat untuk membuat Anda percaya pada saya”