
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Abian Angkasa, ia harus bersikap tegas pada Alina yang sangat ia sayangi itu.
“Kak, kamu yakin akan mengirim Alina ke luar negeri? itu sangat berbahaya dan akan membuat Mamah kita merasa sedih,” komentar Eron saat mendengar Abian yang telah memutuskan untuk mengirim Alina ke luar negeri.
“Tidak ada pilihan lain, itu yang terbaik untuk Alina. Dia pantas mendapatkan hal yang jauh lebih baik dari apapun di dunia ini, termasuk dalam kriteria seorang pendamping!”
Bukan Bian namanya jika ia tidak tahu apapun tentang adiknya yang sangat ia sayang. Bian bahkan layaknya seorang stalker yang mengintai dan memata-matai adiknya itu.
Kekhawatiran Bian pada Alina itulah yang membuat dirinya berbuat seperti itu. Tak ada alasan lain kenapa Bian berbuat seperti itu kalau bukan karena ia yang terlalu mengkhawatirkan adiknya.
“Tapi Kak, meskipun kita tahu jika Hero menyukai sahabat baik Alina, tetap saja itu berlebihan bukan?”
Tatapan mata Eron kini menyiratkan bahwa ia tidak setuju dengan keputusan Bian yang ingin mengirim Alina berkuliah di luar negeri.
“Apa yang berlebihan? menurut Kakak itu adalah hal yang wajar kita lakukan. Kamu tahu jika kita sangat menjaga Alina layaknya dia sebuah berlian bukan?”
Mendengar apa yang Bian katakan Eron hanya diam. Mereka berdua memang sangat menyayangi Alina dan memperlakukan Alina layaknya berlian.
Diam-diam mereka juga melindungi Alina dari orang yang menurut mereka berbahaya untuk Alina. Oleh karena itu, Eron yang tahu jika tujuan Bian mengirim Alina ke luar negeri tidak lain agar Alina melupakan Hero.
Tapi nyatanya, cinta Alina begitu dalam pada Hero, hingga pada akhirnya pernikahan itu terjadi begitu cepat tanpa bisa mereka cegah.
Flashback end.
*****
Alina yang saat itu sedang mengobrol dengan ibunya mengenai apa saja yang harus ia lakukan selama masa kehamilan, tapi tiba-tiba saat Alina melihat kedatangan kakaknya Bian, ia langsung menatap acuh.
“Mah, Alina ngantuk, Alina ingin tidur,” kata Alina beralasan. Bian yang mengetahui jika adiknya sedang menghindari dirinya, ia hanya menghela nafas.
“Ada yang ingin Kakak bicarakan dengan kamu,” kata Bian masih mendapatkan tatapan acuh dan tidak peduli dari Alina.
“Alina ngantuk, Kak Bian bisa bicara dengan Alina nanti besok saja,” jawab Alina dengan nada acuhnya.
Bian yang mendengar itu hanya menghela nafas, sepertinya apa yang dikatakan oleh Eron benar.
Terlalu banyak kesalahpahaman yang terjadi hingga ia tidak bisa abai dan tidak menjelaskan kebenarannya itu pada Alina.
“Hanya sebentar, Kakak janji hanya sebentar menyita waktu tidur kamu,” kata Bian dengan tatapan yang terlihat tegas dan yakin.
Jika sudah seperti itu, Alina tidak ada pilihan selain setuju dan mengikuti kemana kakaknya pergi. Dan mereka akhirnya sampai di taman yang ada di depan rumah mereka.
“Maaf,” kata Bian dengan rasa sesal yang berusaha ia sembunyikan dari Alina.
Bian menyesal tidak bisa mencegah pernikahan itu, ia juga menyesal telah membuat Alina merasa terkhianati. Tapi Bian memang tipe kakak yang misterius dan tak pandai menunjukkan kasih sayangnya pada adiknya.
“Maaf untuk apa?” tanya Alina dengan menatap ke arah lain. Ada rasa kecewa saat tahu jika kakaknya menyembunyikan kenyataan ini.
Alina tidak habis pikir, kenapa harus sahabatnya yang menjadi cinta pertama Hero? kenapa sahabatnya yang baik dan sangat ia sayangi itu yang mengkhianatinya? Apa tidak ada wanita lain yang menjadi cinta pertama dari Hero? setidaknya Alina tidak ingin membenci sahabatnya sendiri.
“Tapi kenapa Kakak juga harus ikut membohongi Alina? kenapa Kakak tidak jujur dari awal? apa ini alasan Kakak mengirim Alina ke luar negeri?”
Bian diam, laki-laki itu terlihat lemah dan merasa bersalah. Dua kali dirinya melihat Alina menangis dihadapannya langsung, dan itu menyakiti hatinya sebagai seorang kakak.
Bian sudah berjanji menjaga Alina sepenuh hati, ia berjanji untuk membahagiakan adiknya yang begitu ia sayangi. Tapi nyatanya dirinya telah gagal membuat adiknya bahagia.
“Kamu tidak gagal membuat Alina bahagia,” tiba-tiba sebuah suara yang tak lain berasal dari Eron terdengar dengan jelas.
Seakan menebak apa yang sedang dipikirkan oleh kakaknya itu, dengan cepat Eron menepuk pundak kakaknya dan menggeleng.
“Kamu seorang Kakak yang luar biasa, bahkan aku yang juga seorang Kakak untuk Alina merasa tidak sebanding dengan pengorbanan kamu.”
Sejenak Eron menghela nafas, sepertinya tidak akan ada kemajuan apapun jika Alina dan Bian terus berbicara, itu hanya akan membuang waktu.
Bian seakan sangat sulit menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi, alhasil Eron mengambil alih untuk bisa menjelaskan pada Alina.
“Biar Kakak yang jelaskan ...,” untuk beberapa menit suasana hening dengan Alina yang hanya diam dan mendengarkan apa yang kakak keduanya katakan.
Tidak ada rasa benci dan marah lagi di mata Alina, justru yang ada adalah rasa bersalah dan terharu atas pengorbanan kakaknya untuknya.
“Maaf,” kata Alina yang seolah kehabisan kata-kata.
Mungkin untuk berterima kasih saja Alina tidak akan pernah bisa, terlalu banyak kebaikan yang kakaknya lakukan untuknya.
“Harusnya Alina sadar diri. Sejak awal kalian memang sudah menolak pernikahan ini semenjak perjodohan itu ditolak. Ini salah Alina,” kata Alina sedikit sesenggukan.
Eron yang biasanya jahil dan sering berdebat, ia lantas merangkul adiknya itu. Sedangkan Bian hanya diam dan sesekali mengusap rambut adiknya pelan.
Mungkin dalam usapan dan juga pelukan dari kedua kakaknya itu, mereka seakan ingin mengatakan betapa sayangnya mereka pada Alina.
*****
Keesokan harinya.
Jika biasanya suasana makan akan hening dan suram seperti dua Minggu belakang ini. Tapi berbeda dengan hari ini yang di selimuti dengan suasana tenang dan diselingi sedikit canda tawa.
“Kak, makan yang banyak, Alina tidak ingin kalian sakit.” Mendengar itu, kedua kakaknya memakan makanan yang diberikan oleh Alina.
Suasana tenang yang kini terasa di meja makan, tanpa sadar membuat Belvita, Amina, dan Setoni sedikit heran dengan apa yang mereka lihat.
Tapi meskipun begitu ada rasa senang karena suasana suram yang mencekam dari kemarin sekarang sudah hilang.
“Ada apa ini? apa ada yang dapat lotre?” tanya Amina diselingi candaan yang langsung di sambut tawa oleh Belvita dan Setoni.
“Tidak ada yang mendapatkan loter Mah, Alina hanya merasa senang saja. Apa memang harus kita merasa senang saat mendapatkan lotre? lagipula Alina tidak bermain seperti itu!”
Tak lama setelah acara makan selesai. Obrolan antara keluarga itu terus berlanjut karena hari ini mereka tak sedang sibuk.