
Setelah mencari Belvita kurang lebih 2 minggu.
Akhirnya Alina menemui Belvita di apartemen yang ternyata jaraknya tidak jauh dari rumahnya.
Alina tentu merasa heran, mengapa Belvita tidak memberi tahu sama sekali tentang keberadaannya, hingga Alina sendiri harus mencari keberadaan Belvita. Tapi meski begitu begitu, Alina tidak bisa marah atau kesal dan benci, ia tetap sayang dan peduli pada Belvita.
“Iya siapa?” tanya suara seseorang dari dalam.
Terdengar jelas ditelinga Alina jika suara itu adalah suara milik Belvita. Alina tidak menjawab, ia hanya diam dan membiarkan Belvita penasaran dan membuka pintu apartemennya.
“Siapa ya? kok nggak jawab?” tanya Belvita lagi.
Dan benar, karena penasaran Belvita membuka pintu, ia lalu langsung terkejut saat melihat jika orang yang ada dihadapannya adalah Alina.
Awalnya Belvita ingin menutup langsung pintu apartemennya, karena ia belum siap bertemu dengan Alina, tapi dengan sangat gesit Alina langsung mencegah itu.
“Apa kamu benci padaku?” tanya Alina dan Belvita langsung menggeleng.
“Lalu kenapa tidak kamu izinkan aku masuk? kenapa kamu tidak ingin bertemu dengan aku Bel?” tanya Alina dengan wajah yang terkesan murung dan sedih.
Belvita yang melihat itu, ia akhirnya pasrah dan membiarkan Alina masuk.
...........
Mereka berdua kini sedang berada di apartemen milik Belvita, tidak bisa dipungkiri jika Belvita kini bisa hidup mandiri karena hasil dari kerja kerasnya. Walau Belvita anak yang ditelantarkan, ia tetap bisa hidup layak dan menjadi orang yang sukses.
“Kenapa kamu hanya diam?” tanya Alina setelah keheningan yang cukup lama.
“Bel, kamu begitu benci padaku? bahkan menatap aku saja kamu seolah merasa enggan,” tanya Alina yang hanya direspon dengan keterdiaman Belvita.
“Jika memang kamu tidak suka dan merasa benci padaku, kamu bisa mengusirku. Usir aku saja Bel, tapi tolong katakan dengan jujur mengenai alasan kepergian kamu?” tanya Alina yang kini menatap Belvita dengan tatapan dalamnya.
Belvita lagi-lagi hanya diam dan tidak merespon ucapan Alina, merasa sangat terabaikan. Alina hendak bangkit karena berfikir jika Belvita sangat tidak menyukai akan kedatangan dirinya ke sini.
Baru Alina melangkah beberapa langkah, suara Belvita menghentikan langkahnya.
“Jangan pergi Alina,” ucap Belvita.
Alina sontak langsung menoleh, ia melihat jika Belvita kini sedang menangis, tatapan wanita itu terlihat sangat kosong. Seolah ia tidak memiliki keinginan lagi untuk bisa hidup.
“Kenapa?” tanya Alina yang merasa khawatir pada Belvita, apa Alina sudah bersikap keterlaluan hingga membuat Belvita menangis?
Itu yang ada dipikiran Alina saat ini.
“Maaf jika memang aku telah bersikap keterlaluan pada kamu,” ungkap Alina dengan raut wajah yang terlihat bersalah.
Gelengan cepat Belvita berikan, ia masih terus menangis dan belum bisa mengatakan apa-apa.
Alina yang melihat itu semakin dibuat bingung, tapi meski begitu ia hanya diam dan menunggu akan apa yang akan dikatakan oleh Belvita.
Alina dengan sabar menunggu sesuatu hal yang akan dikatakan oleh Belvita. Baru setelah tangisan itu reda, Belvita lalu menatap ke arah Alina dengan tatapan yang terlihat lama menatap Alina.
“Aku tidak pernah membenci kamu. Tidak pernah!” tegas Belvita seakan menolak tegas pemikiran Alina itu.
...*****...
“Lalu kenapa kamu menjauh seolah menghindar dari aku?” tanya Alina yang langsung menatap wajah Belvita secara langsung.
Untuk beberapa saat, Belvita hanya diam. Ia menunduk semakin dalam, buliran air mata dipelupuk mata yang telah mengering itu kembali keluar, hal itu membuat kelopak mata Belvita basah kembali.
Alina hanya diam, ia menyalurkan ketenangannya untuk Belvita melalui elusan tangannya dipunggung Belvita, terlihat jelas jika Belvita kini sedang menangis tersedu-sedu.
“A-aku, aku nggak tahu harus memulai dari mana, aku bingung mau memulai cerita ini seperti apa ...,” lirih Belvita yang terlihat tak sanggup untuk bercerita.
Alina yang melihat jika memang Belvita kesulitan untuk bercerita, ia yang melihat itu lalu mengusap punggung Belvita dan tersenyum dengan menenangkan.
“Jika memang kamu belum siap untuk bercerita, jangan dipaksakan, aku akan tetap sabar dan menunggu kamu untuk siap bercerita,” nada menenangkan Alina katakan kepada Belvita.
“Beneran nggak membenci aku?” tanya Belvita lagi, dan Alina lagi-lagi menggeleng.
“Aku awalnya marah sama kamu, kesal tentu ada. Itu saat dimana kamu pergi tiba-tiba tanpa kabar, tapi aku akui rasa, jika kesal dan marah aku didasari oleh rasa khawatir, aku hanya merasa takut kamu kenapa-napa,” jelas Alina.
Belvita hanya mengangguk. Tatapan terharu Belvita berikan pada Alina. “Maaf,” kata itu yang hanya mampu Belvita ucapkan.
...*****...
Di restoran.
Tidak seperti biasanya, kini Bian untuk pertama kalinya mengajak Farah untuk makan siang di sebuah restoran.
Biasanya, harus Farah yang menawarkan lebih dulu, karena kesibukan dari Bian menyebabkan lelaki itu sangat fokus pada pekerjaannya hingga sering lupa makan.
“Kita akhiri saja hubungan ini,” ucap Bian tiba-tiba ditengah acara makan itu.
Farah yang terlihat memakan dengan lahap, ia lalu menatap Bian dengan tatapan tersenyum tak percaya.
“Jangan becanda kayak gini, ini nggak lucu. Kalaupun mau bikin surprise, setidaknya harus ada hari spesial dan aku rasa hari ini bukan hari ulangtahun aku atau hari jadian kita,” ungkap Farah yang kembali memakan makanannya.
Farah yakin, meski dirinya sangat menyebalkan dan sering sekali bersikap dengan seenaknya, Bian tidak akan pernah untuk memutuskan hubungan mereka. Apalagi secara sepihak, lelaki itu terlalu baik dan memiliki hati yang tulus.
“Aku nggak becanda,” kini nada serius Bian ucapkan.
“Jangan ngaco! akhiri apa? apa yang perlu diakhiri? toh hubungan kita selama ini baik-baik aja 'kan?” dengan masih santainya Farah makan makanannya itu. Ia seolah menganggap jika Bian kini sedang membuat sebuah lelucon lucu.
“Farah,” panggil Bian.
Bian memang bukan tipe laki-laki romantis, nama panggilan yang ia gunakan pun terdengar biasa dan tidak ada hal spesialnya sama sekali.
Tapi, harus diketahui bahwa Bian adalah tipe orang yang tidak akan pernah mengingat nama orang itu jika tidak penting baginya, siapapun itu, akan Bian abaikan kecuali jika orang itu sangat penting baginya.
Farah yang menatap ke arah makanannya lalu menatap Bian. Tatapan serius yang terlihat tidak bercanda kini Bian ucapkan.
“Jadi alasan kamu meminta makan siang bareng itu karena ingin mengakhiri hubungan kita ini?” tanya Farah dengan tatapan tak percayanya.
Bian hanya diam, ia menatap Farah cukup lama lalu mengangguk.
“Jika tahu begini, lebih baik kamu nggak usah ajak aku makan. Dan alasan apa yang menjadi penyebab kamu ingin mengakhiri hubungan ini? apa karena dokter itu?”
Dengan tatapan marah dan tak terima, Farah terus saja berkata tanpa henti.
“Kenapa? apa karena dia lebih baik dari aku? atau karena dia lebih cantik dari aku? tapi aku rasa aku sangat cantik, jauh diatasnya.”
Selalu, setiap kesal Farah selalu menyombongkan diri. Tapi entah mengapa Bian tidak pernah marah ataupun ilfil selama ini, hanya saja karena suatu alasan Bian meminta untuk mengakhiri hubungan itu.
“Kamu nggak perlu tahu alasannya,” ucap Bian. Ia hendak bangkit dan membayar tagihan belanja.
Lalu saat Bian hendak pulang ke rumahnya, Farah langsung mencegahnya dengan menggenggam tangan Bian.
“Kenapa? apa aku masih kurang introspeksi diri? apa aku masih terlihat salah di mata kamu?” tanya Farah kini mendongkak menatap ke arah Bian yang jauh lebih tinggi darinya.
“Kamu tidak bersalah, karena di sini jelas aku yang bersalah,” akui Bian. Tapi ia tidak bisa menjelaskan alasan mengakhiri hubungan ini.
Bian seolah belum siap untuk mengatakan itu. Lagipula Bian juga mencintai Farah, ia memiliki perasaan cinta pada wanita itu yang tak lain adalah Farah. Perasaan yang Bian miliki untuk Farah itu nyata dan tulus.
Tapi, jika Bian memang mencintai Farah, mengapa ia tega memutuskan Farah?
“Bian,” Farah lalu menggenggam tangan Bian erat.
“Please, jangan putusin aku, aku mohon..., aku benar-benar nggak bisa hidup tanpa kamu,” lirih Farah.
...*****...