
Hero dan Alina hanya diam saat mereka akan kembali ke rumah keluarga Angkasa. Hero diam dengan apa yang sedang ia pikirkan saat ini, dan Alina juga diam dengan apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
Mereka berdua sama-sama terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Dan di tengah suasana yang hening itu, tiba-tiba Alina buka suara.
“Kakak bisa membawa salah satu dari mereka, kita akan membawa masing-masing satu, jadi bukankah itu adil?” tanya Alina pada Hero yang langsung di tolak oleh Hero.
“Apa maksudnya itu dengan adil? itu tidak ada adilnya sama sekali. Apakah dengan memisahkan kedua saudara kembar itu adalah hal yang adil?” ungkap Hero yang seolah tidak setuju dengan perkataan Alina.
“Jadi bagaimana? apakah memang Kakak ingin agar mereka berdua bersama Kakak?” kata Alina yang kini menatap ke arah Hero.
“Tidak, bukan seperti itu. Kita masih bisa merawat mereka bersama-sama, bukankah lebaik kita harus menghentikan rencana perceraian ini? Anak-anak butuh kita, mereka butuh kita berdua, bukan hanya kamu atau aku saja,” jelas Hero.
Hero berharap Alina akan memikirkan ulang mengenai masalah perceraian itu, selain dirinya yang tidak setuju dengan perceraian itu, ia juga tidak ingin kedua anak yang belum lahir akan mengalami pahitnya sebuah perceraian.
“Alina nggak bisa,” kata Alina lemah.
Alina tidak yakin jika dirinya masih bisa menerima Hero setelah apa yang sudah terjadi. Rasanya akan sulit menerima laki-laki yang jelas-jelas sudah menyakiti dan membohonginya.
Mungkin Hero tidak bermaksud berbohong mengenai hubungannya dengan Alicia sahabat baik Alina. Tapi tetap saja Alina merasa terkhianati.
“Pikirkanlah baik-baik,” meskipun Hero tidak bisa marah apalagi kesal dengan penolakan Alina. Tapi dirinya merasa sedikit terluka dengan Alina yang seolah-olah menolak dirinya terus-menerus.
Alina yang mendengar itu hanya diam dan tak berkata apapun. Ia fokus pada pemikirannya sendiri, sampai Alina lupa jika dirinya sudah sampai di depan rumah keluarga Angkasa saking terhanyutnya dirinya dalam lamunan itu.
“Sayang, sudah sampai,” kata Hero langsung mendapat tatapan heran sekaligus tak percaya dari Alina.
Sayang? apa Alina tidak salah dengar? kenapa bisa laki-laki itu tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan sayang?
“A-aku turun,” kata Alina hendak membuka pintu mobil, tapi Hero langsung membantu Alina turun begitu saja tanpa perlu Alina minta.
“Kak,” kata Alina yang menatap sekeliling.
Hero yang tahu apa yang sedang Alina khawatirkan hanya tersenyum, ia mengusap perut Alina santai saat Alina telah turun dari dalam mobil.
“Jaga Bunda baik-baik ya sayang, ayah pergi dulu, nanti saat waktunya tiba kita akan bersama-sama, jangan buat Bunda repot apalagi kesusahan ya, yang anteng di sana, ” kata Hero mengusap perut Alina lembut.
Alina yang diperlakukan seperti itu bahkan tidak tahu harus berkata seperti apa. Ia tentu terkejut dan tidak percaya dengan apa yang sedang Hero lakukan.
“Aku pulang,” kata Hero langsung mengecup kepala Alina dengan lembut, hingga membuat wanita itu berkali-kali merasa terkejut dengan apa yang sedang dilakukan oleh Hero.
“Jaga diri baik-baik, aku benar-benar merasa sedih harus meninggalkan kalian bertiga seperti ini,” kata Hero menatap Alina dalam.
“Kamu sedang apa sayang?” tanya Amina yang turun dari dalam mobil dan menghampiri anaknya.
Setoni yang melihat anaknya sedang berada di luar rumah keluarga mereka pun ikut menghampiri anak dan istrinya itu.
“Kenapa di luar? ayo masuk nanti kalian merasa kedinginan,” kata Setoni yang langsung diangguki kedua orang itu.
Amina dan Alina masuk ke dalam terlebih dahulu, lalu di susul dengan Setoni yang ikut masuk ke dalam rumah itu. Mereka bertiga masuk dengan di sambut oleh Eron yang terlihat sedang bersantai.
“Heran, kenapa dokter yang lain pada sibuk tapi yang satu ini nggak ada sibuk-sibuknya sama sekali. Curiga ini dokter makan gaji buta,” sinis Alina mengejek pada kakaknya yang sedang bersantai itu.
“Gaji buta apanya? siapa yang makan gaji buta? jelas Kakak makan gaji Kakak sendiri. Kamu aja yang tak mengerti dengan pekerjaan kakak, bukankah sudah Kakak katakan jika kakak memiliki pasukan di klinik kecantikan Kakak, jadi Kakak tidak usah repot-repot.”
Eron dengan santai membalas ucapan Alina itu, ia hanya menatap ke arah televisi. Sebenarnya Eron bukanlah seorang dokter yang senggang seperti ini, hanya saja dirinya sedang berada di fase yang tidak fokus untuk bekerja.
“Iya-iya deh, enak banget ya yang katanya punya klinik sendiri, bisa kerja seenaknya,” acuh Alina sinis.
Alina memilih duduk dan tidak mengatakan apapun lagi, begitupun dengan kedua orangtuanya yang juga memilih duduk dekat dengan Alina.
“Apa Alina pulang bersama dengan Mamah dan Papah tadi?” tanya Eron yang langsung membuat kedua orang tua Alina saling menatap satu sama lain.
“Memang Alina habis dari mana? bukankah Alina tadi hanya di rumah?” tanya Amina langsung membuat Eron yang berbaring itu terduduk.
“Alina melakukan cek kandungan rutin, setiap akan melakukan cek kandungan ia akan memilih untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit lain. Coba kalian tanya kenapa Alina lebih memilih memeriksa kandungan di rumah sakit lain, jelas-jelas rumah sakit kita adalah rumah sakit terbaik dengan fasilitas yang lengkap dan memadai.”
Alina yang mendengar ucapan panjang lebar dari Eron hanya menatap jengah ke arah kakaknya itu. “Emang apa masalahnya dengan memeriksa kandungan di lain tempat? kenapa terdengar seolah itu sangat berlebihan? jadi dimana letak kesalahannya itu?” kata Alina yang langsung menatap kakaknya dengan tatapan kesalnya.
“Ucapan Kakak kamu benar Alina, itu terdengar masuk akal, kenapa kamu memilih untuk melakukan sebuah pemeriksaan jika di rumah sakit kita juga bisa?” tanya Amina dengan suara lembutnya itu.
Jika ibunya yang bertanya, Alina tidak bisa marah atau bersikap kurang ajar seperti dirinya yang sering sekali meledek kakaknya Eron.
Jangan salahkan Alina bersikap seperti itu pada Eron, tapi sikap Eron yang menyebalkan dan terlalu santai membuat Alina kadang kesal dibuatnya. Meskipun begitu Alina menghormati kakak keduanya itu.
“Tidak ada hal yang penting Mah, hanya saja Alina tidak suka dengan perlakukan khusus di rumah sakit Angkasa setiap Alina datang ke sana,” ungkap Alina langsung mendapatkan tatapan meledek dari kakak yang menyebalkan itu.
“Diperlakukan istimewa kok nggak suka, padahal banyak loh yang suka diperlakukan istimewa dan berbeda. Ini malah nggak suka, aneh banget.”
Mendengar itu Alina hanya mendengus dan tidak mengatakan apapun lagi. Ia malas jika harus berdebat dengan kakaknya itu.