Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Kehamilan Alina



Alina yang kini merasa tidak enak badan akhir-akhir ini, ia bahkan kadang sering tidak masuk kerja karena hal itu. Berkali-kali Hanny yang khawatir meminta agar Alina diperiksa oleh dokter, bahkan Hanny sempat memanggil dokter kepercayaan keluarga Sanjaya.


Sayangnya Alina selalu menolak itu, ia hanya akan berkata jika mungkin itu masuk angin ataupun karena merasa kelelahan.


“Alina tolong, tolong kamu mau diperiksa ya. Bunda benar-benar tidak tega saat melihat kamu sakit seperti ini. Dan ini sudah seharian kamu sakit, Bunda juga tidak mungkin hanya akan diam melihat kamu seperti ini.”


“Alina baik-baik saja Bun, Bunda tidak perlu merasa khawatir. Alina benar-benar baik-baik saja kok, nanti juga baikan.” Seperti biasa, Alina yang kerasa kepala akan tetap pada keinginannya untuk membiarkan rasa sakitnya ini berlalu begitu saja.


Menurut Alina itu tidak terlalu parah, ia juga hanya mual sedikit dan di waktu tertentu. Meski kadang Alina juga merasa pusing, tapi pusing itu adalah hal yang wajar bagi Alina. Alina berfikir jika pusing itu karena dirinya terlalu sibuk bekerja.


“Sudahlah, kalau kamu memang tetap keras kepala. Lebih baik Bunda telepon Hero, dengan begitu kamu pasti akan mau diperiksa.” Tatapan Hanny sedikit melirik ke arah Alina, ia tahu jika sudah menyebutkan nama Hero', Alina pasti akan bereaksi karena ia tidak ingin merepotkan laki-laki itu.


Dan benar saja, terlihat helaan nafas berat dari Alina yang seakan dirinya mulai merasa tidak punya pilihan lain selain menurut pada Hanny.


“Baiklah Bunda. Lebih baik kita periksa sekarang saja, Alina takut jika Kak Hero kini sedang sibuk.”


“Kamu ini kebiasaan, selalu hanya mementingkan Hero dibandingkan diri kamu sendiri. Padahal seharusnya kamu lebih peduli pada diri kamu.”


*****


Hanny hanya diam menunggu diluar, ia menunggu di poli kandungan. Entah mengapa ada perasaan bingung saat dirinya harus menunggu di sana.


“Poli kandungan?”


Pertanyaan yang ingin Hanny ucapkan langsung pada Alina. Kenapa harus di poli kandungan? kenapa tidak di poli umum saja?


Melihat seorang suster ke luar dari ruangan, Hanny hendak bertanya tapi saat melihat Alina menghampiri kearahnya, akhirnya Hanny memilih bertanya langsung pada Alina.


“Kenapa sayang?” tanya Hanny. Ia bisa melihat jelas raut wajah sedih yang Alina tunjukkan.


“Duduk dulu.”


Mendengar itu Alina menurut, ia duduk tepat di samping Hanny. Alina hanya diam saja, tatapannya terlihat menerawang.


“Kenapa?” tanya Hanny lagi saat melihat Alina hanya diam.


“Alina hamil Bunda,” ungkap Alina pelan.


Kini Alina merasa jika dirinya sedang berada di posisi yang sama dengan Belvita sahabatnya. Alina yang tahu jika dirinya hamil, ia memiliki rasa kesedihan yang tak bisa diungkapkan saat ini juga.


“Hero tahu kamu hamil?” tanya Hanny.


Tidak ada tatapan curiga apalagi menuduh jika Alina berselingkuh. Hanny seakan percaya pada Alina dengan sepenuh hati, karena ia tahu betul bagaimana Alina sangat mencintai Hero.


“Mah, mungkin Kak Hero nggak akan senang saat mendengar kabar ini,” ungkap Alina menunduk.


“Kenapa?”


“Anak ini hadir tanpa diharapkan. Dan ini terjadi karena sebuah insiden yang tak terduga.”


Setelahnya Alina langsung menjelaskan pada Hanny mengenai insiden waktu itu. Insiden saat Hero diberi obat perangsang oleh salah satu pasiennya yang sangat terobsesi untuk memilikinya. Hingga malam pertama yang tertunda itu terjadi.


Hanny mengusap lembut punggung Alina yang sedikit bergetar seolah ingin menangis. Kenapa sesakit ini? apa perasaan seperti ini yang Belvita rasakan saat itu?


Rasa takut saat nanti Hero tidak bisa menerima anak itu, pandangan yang mungkin saja akan menjadi dingin saat tahu kebenaran itu. Entah mengapa itu muncul di pikiran Alina.


“Jangan berfikir seperti itu sayang, tidak ada yang tidak ingin kehadiran anak. Apapun alasannya anak ini ada, tetap akan menjadi kebahagiaan terbesar dari keluarga kita. Sudah jangan khawatir, ada Bunda di sini yang akan jaga dan rawat kamu selama kamu hamil.”


*****


Sementara itu.


Hero tak henti-hentinya memuntahkan makanan dari mulutnya. Ia bahkan sering bolak-balik ke kamar mandi karena muntah.


Farrel yang melihat itu bahkan heran. Sejak kapan si stamina listrik itu merasa lelah? bukankah stamina Hero selalu full seolah staminanya itu sumber listrik yang tidak perlu di ragukan lagi kekuatannya.


“Makanya jangan kerja terus, ada waktu buat istirahat setidaknya. Kamu 'kan juga manusia. Butuh energi untuk bisa kembali kerja,” ungkap Farrel.


Hero hanya diam, ia sedikit lemas tapi tetap dalam mode wajah datar. Hero sebenarnya merasa lemas karena seharian ia muntah-muntah.


“Mau aku ambilkan obat? makan? air?”


“Tidak perlu!” kata Hero yang lama kemudian kembali bangkit dan ke kamar mandi. Ia memuntahkan lagi sesuatu dalam mulutnya.


Mungkin karena muntah beberapa kali, jadi yang keluar hanya cairan bening. Melihat itu Farrel langsung minta suster mengambilkan obat.


Hero ini keras kepala, ia terlihat sok kuat dan berkata baik-baik saja. Tapi dari tadi dia muntah-muntah tak henti-hentinya.


“Jangan dipaksakan deh Bro, Lo itu sakit, perlu minum obat, tolong inget orang tua Lo yang pasti bakal merasa sedih ngelihat keadaan Lo yang kayak gini.”


Dengan segera Farrel menerima obat dan bubur yang dibawa salah seorang suster. “Apa perlu saya yang suapkan?” tanya suster itu terlihat khawatir.


“Inget dia sudah punya istri, jangan berani-berani goda laki-laki yang sudah punya istri ya. Nanti kamu sendiri yang akan sakit pada akhirnya.”


Ucapan Farrel membuat suster itu hanya diam, tapi tak lama suster itu pamit keluar. Sudah menjadi rahasia umum jika Hero memiliki seorang istri.


Hampir semua orang yang ada di rumah sakit Cendana itu tahu mengenai kebenaran tentang Hero yang telah memiliki istri. Dari dokter, perawat, bahkan satpam saja tahu akan hal itu, hanya saja mereka tak tahu seperti apa wajah istri Hero itu.


“Lo makan apa sih Bro? nggak biasanya Lo kayak gini.”


“Saya tidak tahu, saya tidak mungkin salah makan. Jelas sayang hanya makan makanan yang istri saya buat.”


Perkataan Hero membuat Farrel bungkam sejenak, ia terlihat berfikir dan menimang-nimang sejenak.


“Istri Lo racuni Lo mungkin, secara mana ada yang tahan punya suami modelan kayak gini.”


“Jangan bercanda! tidak ada yang lucu!” tegas Hero. Seakan ia membela istrinya secara tidak langsung.


“Hahaha, ya ampun Bro santai, sorry sorry gue minta maaf. Atau jangan-jangan istri Lo hamil?”


Kini mendengar ucapan Farrel Hero hanya diam dan tidak berkata apa-apa.