Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Mengabaikan



“Lebih baik kita jangan ribut di sini, kita bicarakan di tempat lain!” Hanny tidak ingin jika obrolan mereka terdengar oleh Alina. Ia takut jika Alina akan sedih saat mendengarnya hingga membuatnya banyak pikiran.


...*****...


Di ruang keluarga.


Hanny hanya diam, ia tidak menatap sedikitpun ke arah Hero yang benar-benar telah mengecewakan dirinya.


“Bund, Hero hanya berniat untuk merawat wanita yang sedang sakit itu! lagipula Alisa adalah adik kesayangan Alicia,” jelas Hero lagi.


“Kamu tahu Hero? Alina selama dua hari ini terus memikirkan kamu, ke mana kamu pergi, dan apa yang kamu lakukan. Alina khawatir dengan kamu, beberapa kali Bunda lihat dia berniat ke rumah sakit untuk memberikan bekal makanan untuk kamu, tapi bunda larang karena Bunda khawatir pada Alina. Dan kamu? justru malah dengan tidak tahu dirinya sedang bersama dengan kembaran dari kekasih kamu di masa lalu?” sinis Hanny yang berbicara panjang lebar.


“Bund, Hero tidak mengecek ponsel Hero hari itu, karena memang selama seharian Hero sibuk di rumah sakit, dan di hari kedua Hero hanya berniat mengunjungi Alisa yang sedang sakit.”


Penjelasan Hero tetap Hanny abaikan.


“Itu urusan kamu! Bunda lelah Hero, kadang bunda berfikir, mengapa anak bunda seperti ini? menjadi seorang laki-laki yang tidak tahu diri? seolah dia itu sangat mengagungkan cintanya di masa lalu. Kamu harus ingat satu hal Hero! Alicia adalah masa lalu kamu, dan Alina itu masa depan kamu! anak kamu juga butuh kamu, tapi kamu terlalu sibuk dengan dunia kamu.”


Sebagai seorang ibu, Hanny ingin yang terbaik untuk anaknya, ia ingin melakukan segala cara yang akan buat anaknya bahagia. Dan karena menurut ia Alina adalah wanita yang tulus mencintai Hero, ia pikir Hero akan berubah dan menjadi luluh, tapi nyatanya justru permintaannya pada Alina, malah membuat wanita itu sakit dengan begitu dalam.


“Satu hal lagi Hero, alasan kenapa Alina memaksa menikah dengan kamu, itu tentu karena permintaan Bunda,” akui Hanny.


Meski Hanny tahu jika Alina sangat mencintai Hero, tapi jika tidak ada dukungan dan permintaan Hanny, mungkin Alina tidak akan berani berbuat hal segila itu. Apalagi ditentang dengan sangat hebat oleh keluarganya.


“Bunda nggak tahu jika Alina mau maafin kamu atau tidak, yang jelas itu bukan Bunda yang bisa tentukan.”


Hanny hanya akan menggertak Hero saat ini, ia ingin melihat bagaimana Hero akan meminta maaf dan menjelaskan kebenaran yang sebenarnya.


“Bund, Hero benar-benar tidak melakukan itu, Alina hanya salah paham.”


“Hero,” tatapan serius kini Hanny berikan pada anak lelakinya itu. Seakan ia ingin mengatakan sesuatu yang penting pada anaknya.


“Seandainya Alina sedang tidak hamil, mungkin ia tidak akan pernah bertahan selama ini. Dan itu bukan berarti Alina tidak benar-benar tulus dalam mencintai kamu! Karena, mana ada seorang wanita yang mau menjadi kedua jika dibandingkan dengan pekerjaannya? kamu terlalu mengecewakan Bunda Hero! terutama Alina, dia jauh lebih kecewa sama kamu dibandingkan Bunda.”


...*****...


Beberapa hari kemudian.


Hero banyak bekerja di rumah selama beberapa hari kebelakang. Berkali-kali Hero berusaha agar bisa meminta maaf pada Alina. Ia terus berusaha menjelaskan jika apa yang Alina lihat waktu itu bukan seperti yang Alina pikirkan. Dan Hero ingin menjelaskan dengan benar pada Alina.


“Kenapa Kakak harus berusaha sekeras ini untuk menjelaskan pada Alina? apa kini Kakak sudah bisa membuka hati untuk Alina?” pertanyaan yang acuh setiap kali Hero berniat menjelaskan pada Alina mengenai apa yang Alina lihat waktu itu.


Kebungkaman dari pertanyaan Alina itu, membuat Hero terus diabaikan oleh Alina sekalipun jika ia berpapasan dengan wanita itu.


“Sedang apa?” tanya Hero saat melihat Alina sedang duduk di ruang makan.


“Tidak sedang apa-apa.”


Seperti biasa, Alina kini menunjukkan sikap yang sangat berbeda pada Hero. Ia terkesan acuh dan sedikit cuek juga dingin.


“Sudah minum susu hari ini?” tumben sekali Hero bertanya tentang hal yang tidak pernah ia tanyakan.


“Nanti, nunggu Bunda. Dia masih ada perlu hari ini,” jawab Alina masih dengan acuhnya.


Walau ini bukan pertama kalinya Hero lakukan, karena Alina juga sering minta dibuatkan susu padanya dengan alasan ngidam.


“Tidak usah! biar Bunda saja yang buatkan, rasanya akan berbeda jika bukan Bunda yang buat.” Alina sebenarnya senang saat laki-laki itu berniat untuk membuatkan susu untuknya.


Tapi, jika Alina langsung memaafkan laki-laki itu begitu saja, rasanya itu terlalu mudah, dan Alina kini tidak ingin dengan mudah memaafkan laki-laki itu.


“Apa yang berbeda? jelas-jelas susu yang Bunda dan Kakak buatkan itu sama, jadi kenapa bisa berbeda?”


“Jelas yang Bunda buatkan itu terasa sangat lezat, karena dia buat itu pakai hati, pakai ketulusan dan pakai kasih sayang. Itu yang membuat apa yang ia buatkan untuk Alina, menjadi terasa lebih berharga.”


“Oh Alina, Bunda dengar apa yang kamu katakan sayang, kalau begitu akan Bunda buatkan untuk kamu secara langsung sayang,” kata Hanny yang langsung memeluk Alina.


Jika seharusnya Hanny mendukung anaknya agar ia bisa dimaafkan oleh Alina. Justru apa yang Hanny lakukan itu berbeda, ia malah membantu Alina yang memang terus mengabaikan Hero selama kurang lebih satu Minggu.


Bukan karena Hanny tak sayang dengan Hero, tapi ia ingin Hero tahu, bagaimana rasanya diabaikan dan tidak dipedulikan.


“Makasih Bunda,” senyum senang Alina tunjukkan saat itu juga.


“Rasa apa?”


“Coklat.”


“Baik.


Melihat kepergian ibunya itu, Hero memilih untuk duduk, walau tidak bisa berdekatan dengan Alina karena ia masih mengabaikan Hero hingga saat ini.


“Tidak ada sesuatu yang ingin kamu dibelikan oleh Kakak?” tanya Hero lagi. Ia ingat dan merasa bersalah karena waktu itu sempat melupakan permintaan Alina.


“Tidak ada!”


“Benar tidak ada?”


“Iya, tidak ada! karena berharap sama Kakak itu menyakitkan dan juga mengecewakan, jadi Alina enggan untuk meminta sesuatu,” kata Alina berani.


“Padahal aku sudah memesan martabat dengan selai kurma seperti yang kamu inginkan waktu itu, dan sebentar lagi akan sampai.”


“Tidak ada ketulusannya sama sekali, untuk apa makanan itu diterima. Seharusnya Hero lebih bisa menunjukkan ketulusannya,” kata Hanny yang ikut menimpali.


“Habiskan ya sayang, Bunda mau bersih-bersih setelah ini. Kalau ada sesuatu kamu bisa katakan langsung pada Bunda!”


“Iya Bunda.


Ting tong


Suara bel berbunyi, tanpa banyak kata lagi, Hero langsung berjalan menuju pintu. “Beneran kamu tidak mau?” tanya Hero yang dengan sengaja membuat Alina tergiur dengan martabat yang ia bawa.


Bahkan Hero menunjukkan bagaimana bentuk martabat yang ia bawa, selai kurma itu meluber kemana-mana. Seakan bisa membuat siapa saja yang melihatnya meneteskan air liur.


“Makan saja sendiri,” acuh Alina yang langsung pergi begitu saja.