
Hanny yang berada di ruangan Hero, ia langsung mengambil obat p3k yang tersedia.
Hanny membersihkan dan mengobati luka Hero yang terlihat cukup banyak. Meskipun tubuh Hero hampir dipenuhi goresan memar dan beberapa luka yang mengeluarkan darah, tapi sepanjang di obati ekspresi wajah Hero masih sama dan tidak berubah sama sekali.
Wajah laki-laki itu terlihat lesu dan tidak bersemangat, ia seolah kehilangan semangat hidupnya sama seperti saat Hero kehilangan cinta pertamanya.
“Meskipun Alina akhir-akhir ini selalu mengacuhkan dan mengabaikan kamu, tapi bunda tahu bagaimana sikap Alina. Jika dia melihat kamu yang saat ini pasti Alina akan khawatir,” kata Hanny mencoba untuk mencairkan suasana.
Ekspresi wajah Hero tetap tidak berubah, tapi sesekali Hero akan merespon dengan lirikan mata yang akan terus menatap ke arah ibunya jika ia sedang berbicara mengenai Alina.
“Hero,” Hanny memangil Hero kembali dengan di sertai helaan nafas yang panjang.
Sebenarnya Hanny bingung antara harus mengatakan hal ini atau tidak pada Hero. Tapi Hanny rasa ia tidak bisa menyimpan lebih lama lagi kebenaran ini, Hero berhak tahu masa lalu yang selama ini Hanny dan juga Alina simpan sejak lama.
“Sebenarnya bunda sudah janji pada Alina untuk tidak mengatakan hal ini pada kamu. Tapi karena bunda rasa kamu juga berhak tahu mengenai kebenaran ini, maka bunda rasa tidak ada alasan lagi untuk bunda terus menyimpan kebenaran ini,” kata Hanny menatap ke arah anaknya dengan tatapan dalam.
Hero yang mendengar itu hanya diam, ia menatap ke arah ibunya dengan tatapan penasaran tapi terlihat lelah dan juga lesu.
Bagaimana bisa Hero baik-baik saja di saat seperti ini? ia tentu mengkhawatirkan istri dan anaknya. Ia tidak bisa membayangkan betapa marahnya Alina nanti saat Hero lebih menyelamatkan Alina dibandingkan kedua anaknya.
Sebagai dokter yang memiliki prestasi yang luar biasa, Hero merasa dirinya kini tidak lebih dari seorang yang penakut.
“Bunda yakin kamu akan bisa melalui semua ini, bunda yakin dengan keterampilan kamu dan keahlian kamu. Hero adalah seorang dokter yang luar biasa, bukankah kamu telah melakukan banyak operasi yang dikatakan nyaris mustahil berhasil tetapi bisa berhasil dengan sempurna saat kamu tangani? jadi bunda yakin kamu juga akan bisa menyelamatkan Alina dan kedua cucu bunda,” kata Hanny menguatkan.
Hero yang mendengar itu hanya mengangguk lemah, ia lalu menatap ke arah ibunya seolah bertanya mengenai apa yang akan ibunya katakan tadi.
“Ini kejadian yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Saat itu bunda ingat keluarga kita tengah di landa situasi yang sulit. Apa kamu ingat moment itu?” tanya Hanny yang langsung Hero angguki pelan.
Sebenarnya Hero tidak ingin membahas momen itu lagi, momen yang mana ia saat itu masih belum bisa menerima keadaan.
Moment yang bagi Hero dirinya berada di kondisi yang sangat terpuruk.
Flashback.
Saat itu, perusahaan Sanjaya yang selama beberapa generasi selalu bersinar dan sangat jaya tiba-tiba mengalami keterpurukan yang luar biasa.
Perusahaan itu mengalami pengkhianatan dari orang yang dipercayai. Bram yang saat itu menjabat telah gagal memimpin perusahaan karena terlalu percaya kepada rekan bisnisnya.
Hingga perusahaan Sanjaya nyaris tidak bisa bangkit lagi, keluarga Bram yang memiliki saham di perusahaan Sanjaya menyalahkan Bram sebagai pemimpin.
Hutang dimana-mana, kondisi yang sulit membuat Bram mengalami tekanan hingga harus masuk rumah sakit. Beruntungnya saat itu, ayah dari Alina yang juga merupakan sahabat baik Bram berniat membantu dengan merawat Bram sepenuhnya di rumah sakit Angkasa.
Saat itu rumah sakit Angkasa bukanlah rumah sakit terbaik pertama di negara itu, tapi meskipun begitu cukup banyak yang berobat di sana karena cukup banyak dokter ahli di sana.
Meskipun kondisi Bram masih bisa ditangani, tapi kondisi perusahaan yang terus menurun membuat Hero yang saat itu baru berusia 16 tahun merasa harus ambil adil untuk membangkitkan perusahaannya.
Yang membuat Hero kuat selama menjalankan tugasnya bukan hanya karena dirinya pintar dan jenius, tapi ada seseorang misterius yang menguatkan Hero.
Hero sendiri bahkan tidak tahu siapa orang misterius itu, orang yang setia hati akan menguatkan Hero lewat surat sederhana yang berhasil membuat Hero bahagia.
“Tuan, ada surat dari orang yang tidak dikenal lagi,” kata seorang asisten yang tak lain adalah asisten Bram.
“Siapa sebenarnya si pengirim surat tanpa nama ini?” tanya Hero.
Sudah tiga tahu berlalu, hampir setiap hari si pengirim surat itu akan memberikan surat pada Hero secara rutin.
Meskipun bagi orang itu tidak akan berpengaruh banyak, tapi tidak bisa dipungkiri jika surat-surat itu berhasil menguatkan Hero dan membuat Hero merasa terhibur.
Hingga suatu hari, si pengirim surat yang tak lain adalah Alina, berniat mengirimkan surat lewat pos seperti biasanya.
Sayangnya sebelum surat itu akan ia kirimkan, Alicia sahabatnya melihat surat itu.
“Surat? surat untuk siapa Alina?” tanya Alicia yang terus menatap ke arah surat itu.
“Jangan-jangan ini surat cinta kamu untuk seseorang ya?” kata Alicia dengan candaan yang sedikit meledek.
Alina yang mendapat godaan dari sahabatnya hanya tersipu malu. Bagaimana Alina bisa berkata jujur jika dirinya memang sering mengirim surat berisi kata-kata semangat untuk Hero.
Mungkin bagi orang itu tak ada bedanya dengan surat cinta. Karena isinya penuh dengan ungkapan untuk menyemangati seseorang.
“Sejak kapan kamu mulai mengirim surat?” tanya Alicia.
Alina hanya diam dan tak berani mengatakan apapun, bagaimana Alina bisa jujur jika surat itu Alina buat sejak dirinya masih berusia 13 tahun?
Awalnya hanya rasa suka biasa yang Alina rasakan untuk Hero, tapi lambat Laun perasaan itu semakin bertambah hingga saat ini.
“Untuk siapa? biar aku kirim ya?” kata Alicia yang berniat membantu kisah cinta sahabatnya.
Sementara itu, di sebrang sana Hanny yang berniat untuk sekalian mengunjungi Alina setelah menjenguk asrama Hero tinggal. Ia yang melihat surat itu tahu jika selama ini yang sering memberikan Hero surat tidak lain adalah Alina.
Sayangnya saat Hanny akan pergi untuk mengatakan kebenaran itu pada Hero, Alina yang melihat kedatangan Hanny langsung memanggilnya dan menghampirinya.
“Tante,” panggil Alina.
Alina yang saat itu bisa menebak jika Hanny akan mengatakan kebenaran tentang surat yang sudah bisa ditebak jika itu surat yang sering Hero terima.
Dengan tatapan memelas Alina menggeleng.
“Tolong jangan katakan mengenai kebenaran ini Tante, Alina belum siap,” kata Alina meminta.
“Sampai kapan? apa kamu tidak ingin dekat dengan Hero secara terbuka? Tante tahu kamu suka Hero Alina? bukankah akan semakin mudah jika lebih terbuka?” tanya Hanny yang sedikit melirik ke arah Alicia yang penasaran dengan isi surat itu.
“Alina senang seperti ini, lagipula Alina tidak ingin jika hal itu akan membuat kak Hero kepikiran. Bukankah saat ini kak Hero sibuk kuliah dan mengurus perusahaan? mungkin akan Alina katakan nanti setelah Alina lulus SMA, lagipula Alina baru masuk SMA.”
“Apa kamu percaya pada sahabat kamu? apa kamu yakin jika dia benar-benar setulus itu sama kamu? satu hal yang harus kamu tahu Alina, hati manusia sangat sulit di tebak,” kata Hanny memperingati Alina untuk tidak terlalu mempercayai Alicia.
“Alina percaya pada Alicia, Alina yakin Alicia tidak akan pernah mengkhianati Alina,” yakin Alina.
Flashback end.