Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Cemburu



Hero yang mendengar itu hanya diam, ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Hero merasa cemburu akan kedekatan Raihan dan Alina yang baginya tidak biasa.


“Hahaha ya begitulah. Sampai aku heran kenapa bisa aku tidak menyukai laki-laki sesempurna kamu ini,” ucap Alina tanpa sadar.


Alina tidak bermaksud untuk menyinggung Hero. Ia hanya sedang berfikir dan termenung. Kenapa bisa ia tidak menyadari jika selama ini ada laki-laki baik yang begitu sempurna yang berada disampingnya.


“Kamu berlebihan Alina,” kata Raihan.


Raihan sejak dulu sudah menyukai Alina, baginya Alina itu bukan hanya baik hati, tapi juga pintar dan di saat bersamaan Alina juga bodoh, wanita itu sering sekali dimanfaatkan, yang anehnya Alina justru merasa jika hal itu bukanlah hal yang penting untuknya.


Manusia itu hidup dengan cara saling memanfaatkan Raihan, mereka butuh apa yang aku miliki, dan aku butuh mereka agar mau menjadi temanku' kata-kata itu yang masih Raihan ingat hingga saat ini.


Tapi meskipun Raihan menyukai Alina, ia sadar jika Alina sudah menyukai laki-laki lain. Awalnya Raihan ingin menyerah, tapi melihat Alina sedih karena ia sering dikecewakan, membuat Raihan seakan ingin merebut Alina dari Hero.


“Ekhm,” saat Alina hendak buka suara justru deheman dari Hero membuat suasana menjadi hening seketika.


“Ayo makanlah,” kata Lossa yang akhirnya suasana hening karena mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.


Hero dengan pemikirannya yang tidak akan bisa untuk bersikap santai seperti sebelumnya saat berhadapan dengan Raihan.


Karena kini Hero tahu dengan niat Raihan.


*****


Makan bersama itu telah berakhir dengan cepat, dan kini Alina yang sedang berada di dalam mobil yang sama dengan Hero hanya diam dan tak bersuara.


“Apa sudah puas makan di sana?” tanya Hero yang kentara kesal dan tengah menahan rasa cemburunya yang seolah memuncak.


Alina yang mendengar itu hanya menoleh sekilas, ia tidak mengatakan apapun pada laki-laki itu. Karena Alina hanya fokus pada makanan yang ia bawa.


“Puas, siapa yang tidak puas jika diberi makan gratis. Apalagi makannya adalah makanan mahal dan sulit untuk didapatkan,” kata Alina acuh.


“Jika kamu ingin, katakan saja padaku! tidak perlu meminta pada mereka! aku akan memberikan semua yang kamu mau,” kata Hero.


“Alina tidak ingin berdebat,” kata Alina yang kalau sudah berkata seperti itu, Hero juga hanya bisa memendam rasa kesalnya itu.


Hero sengaja menghentikan mobilnya di tempat yang aman untuk berhenti, ia membiarkan Alina yang kini lahap memakan makanan yang dibawa dari rumah Raihan tadi.


Padahal baru beberapa menit yang lalu mereka selesai makan, mungkin karena Alina hanya makan sedikit karena segan padahal porsi makannya biasanya itu banyak, jadi Alina makan dua kali.


“Tante Lossa sepertinya paham kalau aku akhir-akhir ini banyak makan, ia bahkan memberikan semuanya yang ada di menu untuk aku bawa,” kata Alina yang melirik ke arah sisanya.


Alina sengaja memisahkan makanan untuknya dan untuk keluarganya, agar mudah saat diberikan nanti.


“Jika kamu memang sangat menyukai menu makan itu, maka aku akan mengirim menu itu pada kamu tiap hari jika kamu mau,” kata Hero yang awalnya ingin meraih anak rambut Alina untuk di usap.


Tapi begitu Alina menoleh, Hero merasa tangannya seakan tergantung di udara, hingga Hero hanya diam dan tidak mengatakan apapun.


“Jelas buatan sendiri lebih enak, karena terasa niat tulus dalam masakan yang dibuat,” kata Alina sedikit berkata sinis sambil mendengus.


“Tidak perlu,” entah kenapa Alina yang mendengar jika Hero akan belajar memasak demi dirinya, itu tidaklah membuat Alina senang, karena justru Alina kini malah ingat pada perkataan Alisa.


Hero menjadi dokter karena permintaan dari Alicia! dan itu membuat Alina berfikir jika Hero akan belajar memasak demi dirinya itu sama saja seperti dirinya yang tidak ada bedanya dengan Alicia.


“Kenapa?”


Pertanyaan Hero membuat rasa lapar Alina hilang seketika itu juga, rasa lapar Alina entah hilang kemana.


Kini yang ada Alina menatap ke arah Hero dengan tatapan matanya yang terlihat lelah dan tidak tahu harus mengatakan apa.


“Apa Kakak juga seperti ini pada Alicia?”


“Maksud kamu apa,” terlihat jika Hero tidak suka saat Alina membahas Alicia. Hero ingin fokus pada Alina dan kehidupannya, ia sedang melupakan sepenuhnya Alicia dari hidupnya.


“Kakak jelas tahu apa yang Alina katakan,” kata Alina menatap ke arah lain. Seolah Alina Engan untuk hanya menatap ke arah Hero.


“Jangan buat aku bingung Alina, pertanyaan kamu itu membuat aku merasa bingung. Letak kesalahanku itu dimana? tolong jangan terus acuhkan aku.”


Hero ingin Alina menatap ke arahnya seperti dirinya yang menatap dalam wanita itu. Tapi sayangnya wanita itu justru memilih menatap ke arah lain.


“Baiklah jika kamu enggan menjelaskan,” kata Hero yang pada akhirnya memilih melajukan mobilnya lagi.


Alina masih tetap diam, ia seolah bingung dan tidak tahu harus mengatakan apa pada Hero. Harus di mulai dari mana pertanyaan Alina itu? dan apa Alina akan siap dengan semua jawaban yang akan Hero berikan nantinya?


Hero yang melihat Alina tetap diam bahkan hingga dirinya menoleh beberapa kali, ia yang tahu jika Alina tidak akan buka suara jika memang wanita itu tidak menginginkannya, maka itu Hero hanya diam dan tak mengatakan apapun lagi.


Sesampainya di depan keluarga Angkasa, suasana masih terlihat sepi, karena kebanyakan keluarga Alina akan sibuk di rumah sakit.


“Jika memang aku salah, aku minta maaf. Tolong jangan terus abaikan aku seperti ini, dari beberapa waktu lalu kamu terus mengabaikanku,” kata Hero lagi-lagi terus menatap Alina dalam.


Setelah menghela nafas panjang, Alina pum langsung menatap ke arah Hero. Ia memantapkan hatinya untuk bertanya pada laki-laki itu langsung.


“Apa alasan Kakak menjadi dokter? setahu Alina dulu cita-cita Kakak ingin menjadi seorang pembisnis bukan? lalu kenapa tiba-tiba Kakak menjadi dokter?”


Hero yang mendengar pertanyaan itu terlihat menatap Alina dengan tatapan matanya yang terlihat heran.


“Aku rasa itu bukanlah pertanyaan yang harus aku jawab. Bukankah semua orang berhak menjadi apa semau mereka, jadi apa salahnya dengan aku yang menjadi seorang dokter?” tatapan mata Hero yang terlihat yakin seolah menjadi dokter itu adalah keinginan Hero langsung, membuat Alina menjadi tersenyum hambar.


Senyum yang benar-benar terasa penuh luka dan rasa sakit, hingga Hero yang menatap itu juga ikut merasa sakit juga.


“Apa yang salah? apa Kakak melukai kamu lagi? di mana Kakak menyakiti kamu?” tanya Hero berniat untuk mendekat.


Sayangnya Alina menolak.


“Bukankah keinginan kakak itu karena permintaan orang lain?” kata Alina membuat Hero terdiam.