
Beberapa hari kemudian.
Saat datang ke rumah Hanny, Alina langsung disambut oleh Hanny yang menunggunya. Sesuai dan kemarin Hanny minta, kini Alina datang berkunjung ke rumah Hanny.
“Sudah makan?” tanya Hanny yang dijawab gelengan.
“Ayo makan, Bunda sudah siapkan menu makan favorit kamu,” ujar Hanny yang langsung membawa Alina menuju ruang makan.
“Kak Hero nggak pulang ke sini Bun?” tanya Alina yang dijawab gelengan oleh Hanny.
“Nggak, dia tidak terlibat batang hidungnya sama sekali. Sepertinya dia memang orang yang sangat sibuk akhir-akhir ini,” jelas Hanny.
Hanny sedikit curiga jika Hero menjaga jarak lagi dengan Alina. Pembicaraan yang Alina dan Hero lakukan sebelum kedatangan Hanny, padahal hanya mereka berdua yang tahu. Tapi sebagai seorang ibu, Hanny seakan peka dengan perubahan sikap anaknya itu.
Hanny juga merasa benar-benar kesal pada anaknya itu, Hero seolah mengabaikan mengabaikan menantu kesayangannya ini.
Padahal Alina sudah memberi tahu pada Hero tepat di depan Hanny mengenai kunjungannya ini, tapi lelaki itu justru tidak berniat mengantar Alina langsung ke rumah mertuanya yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri.
“Bisa-bisanya punya istri secantik ini diangguri, kalau Bunda jadi dia. Bunda bakal ajak kamu kemana-mana dan liburan bareng terus.”
“Nggak apa-apa Bun, mungkin Kak Hero memang sedang sibuk,” jawab Alina yang berusaha memaklumi hal itu.
“Jangan sering-sering memaklumi kesibukan suami kamu itu, biasakan untuk sering berkomunikasi. Kamu juga pasti merasa kesepian dan butuh suami kamu, apalagi semenjak menikah kalian belum melakukan bulan madu.”
Memang benar, sejak 5 bulan pernikahan. Hannya tidak melihat Hero dan Alina bulan madu. Ia sangat tahu jika Alina dan Hero belum merencanakan bulan madu sama sekali.
Tapi yang tidak Hanny tahu adalah, tentang insiden malam pertama yang disebabkan oleh obat perangsang.
Hanny yang selalu berbicara seolah Hero menantunya dan Alina itu anak kesayangannya, itu tak lain karena Hanny sudah merasa sangat kesal dan jengah dengan kesibukan anaknya. Selain itu, Alina sudah Hero anggap sebagai anaknya sendiri.
“Iya Bund, Alina bakal sering komunikasi dengan Kak Hero.”
“Bunda juga dengar katanya Hero batal meluangkan waktunya untuk kamu?” tanya Hanny yang nada bicaranya seperti ia sudah mengetahui hal itu.
“Bunda tahu dari siapa?” tanpa sadar Alina justru bertanya.
Seperti yang pernah terjadi, janji tentang Hero yang akan melakukan me Time berdua dengan Alina selama sebulan. Justru harus gagal diacara yang ketiga, karena me Time itu hanya dilakukan seminggu sekali. Alina juga masih punya kesempatan dua kali untuk me Time dengan Hero.
“Hero, dia yang mengatakan hal itu pada Bunda. Makanya kini bunda dimintai untuk menemani kamu,” jelas Hanny yang entah mengapa perkataannya itu terdengar sangat membahagiakan untuk Alina.
*****
3 hari kemudian.
Hari ini, Alina telah membereskan semua pakaian miliknya dan Hero. Mereka akan pindah ke rumah Hanny selama 2 Minggu ke depan mereka. Itu tak lain karena Bram memiliki pekerjaan ke luar negeri lagi
“Akhirnya Bunda punya temang ngobrol selama 2 Minggu ke depan,” ucap Hanny yang terus saja menempel pada Alina.
“Kamu juga Hero, jangan sering berada di rumah sakit, usahakan untuk sering-sering pulang ke sini. Awas saja jika kamu justru pulang ke apartemen,” ancam Hanny yang hanya dijawab gelengan oleh Hero.
...*****...
Alina memasuki kamar yang akan ia tempati dengan Hero. Kamar yang terlihat sangat besar, jauh lebih besar dibandingkan kamar yang lainnya.
“Kak,” panggil Alina yang melihat Hero hanya diam dan memperhatikan sekitar.
“Kita nggak akan pisah kamar layaknya film dan novel yang pernah Alina baca 'kan?” tanya Alina yang hanya direspon dengan Hero yang menatap Alina dengan alis terangkat.
“Terlalu banyak nonton film dan baca novel jadi kayak gini,” jawab Hero. Ia kini sedikit demi sedikit bersikap lembut pada Alina, walau sikap datar dan acuh itu masih ada, tapi tidak seacuh dan sedingin dulu.
Entah mengapa Alina berkata seperti itu, padahal selama ini Alina tinggal bersama dikamar yang sama dengan Hero. Walau tidak ada kejadian apa-apa, karena justru lelaki itu hanya fokus pada pekerjaannya.
“Auch sakit Kak!” kesal Alina saat Hero menyentil jidatnya sedikit keras.
“Maka itu jangan kebanyakan nonton film yang buat kamu jadi banyak berfikir. Lagipula bukankah kita sudah pernah melakukan hal yang dilakukan suami istri pada umumnya, jadi mengapa kamu justru bertanya seolah kita tidak pernah sekamar?”
“Iya tapi itu 'kan karena sebuah kecelakaan,” lirih Alina yang tidak berani mengatakan itu denga suara tinggi.
“Tapi kita tetap nggak pisah kamar 'kan Kak?” tanya Alina dengan tatapan berharap.
“Jika kamu ingin kita pisah kamar boleh aja,” jawab Hero sedikit acuh. Ia mulai merapikan barang-barang miliknya dan menaruh di lemari pribadi miliknya.
“Nggak, Alina nggak minta kaya gitu loh Kak!”
“Ya sudah nggak usah banyak ngomong. Cepat sana bereskan baju kamu!” perintah Hero yang memang nadanya sudah terbiasa terdengar acuh.
“Biarkan Alina saja yang bereskan Kak,” ucap Alina yang langsung membuat aktifitas Hero itu terhenti.
Jika biasanya Hero tidak akan mempercayai siapapun kecuali kedua orangtuanya. Ia tidak akan membiarkan hal yang bersangkutan dengan dirinya dikerjakan oleh orang lain. Tapi saat ini yang ingin membantu dirinya bukan orang lain, melainkan istrinya sendiri.
Lagipula, Hero sedang berada di fase untuk berusaha percaya lagi pada yang namanya manusia.
“Silahkan!” jawab Hero tanpa mengatakan apapun lagi langsung membiarkan Alina mengerjakan tugasnya.
...*****...
Malam harinya.
Alina terlihat gugup, ia tak henti-hentinya menatap penampilan dirinya di cermin. Alina terpaksa memakai pakaian yang diperintahkan oleh Hanny untuk ia pakai.
Sebuah pakaian yang sedikit transparan tapi tidak terlalu mencolok. Awalnya Hanny meminta dirinya untuk memakai pakaian yang jauh lebih transparan. Tapi Alina menolak, alhasil Alina dibujuk untuk setuju memakai pakaian ini.
Padahal mereka pernah melakukan yang namanya malam pertama, tapi Alina yang tidak cerita tentang kejadian itu membuat Hanny berfikir jika malam pertama itu belum terjadi. Hingga Hanny meminta Alina untuk memakai pakaian yang dipilihnya.
Hero yang tak lama masuk ke dalam kamar, dengan segelas susu coklat ditangannya itu. Ia yang melihat pakaian Alina langsung tersedak.
Alina menoleh, ia dengan segera menghampiri Hero. Mengambil air putih miliknya, karena panik Alina langsung memberikan itu pada Hero.
“Minum dulu Kak,” ucap Alina yang langsung memberikan air minum itu pada Hero.
Hero meminumnya hingga tandas, lalu ia meletakan gelas itu pada meja kecil disampingnya.
“Alina,” tatapan dalam Hero tunjukkan hingga membuat Alina menunduk malu.
“Jangan memaksakan untuk melakukan itu jika kamu tidak nyaman. Karena aku juga sebenarnya belum siap untuk itu. Jika saja tidak ada pengaruh obat perangsang waktu itu, mungkin malam itu tidak pernah terjadi” ujar Hero.
Sebenarnya Hero belum siap karena tidak memiliki perasaan pada Alina, ia bisa melakukan hal itu' tanpa cinta. Tapi apakah Alina siap?
“Apa Alina terlihat memalukan atau terlihat rendahan di mata Kakak?” entah kenapa, kini Alina merasa jika ia terlihat rendahan dan begitu memalukan saat mendapat penolakan dari Hero.
“Yanh dimaksud manusia rendahan itu, adalah manusia yang menganggap manusia lain itu lebih rendah dari dirinya. Itu yang namanya manusia rendahan,” ungkap Hero.
Secara tak langsung ia mengatakan, jika orang sombong itu adalah orang rendahan karena menganggap orang lain lebih rendah darinya.
“Tapi Alina merasa saat ini, Alina terlihat memalukan.”
*****