Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Ngedate bareng



“Kenapa hanya melamun?” tanya Hero saat ia melihat Alina hanya diam dengan pandangan kosong.


“Ah, nggak Kak. Nggak ada apa-apa. Tumben nanya, biasanya diam terus seolah di sini nggak ada orang,” jawab Alina yang hanya direspon dengan tatapan datar dari Hero.


“Cie cie yang mulai peduli, apakah sudah ada rasa nih ceritanya?” tanya Alina dan Hero hanya diam tanpa berkata apa-apa.


“Kak,” panggil Alina yang hanya Hero abaikan. Tapi Alina yakin jika Hero mendengar panggilannya itu.


“Mengenai permintaan Alina yang tiga syarat itu. Alina ingin jika ngedate bareng kita lakukan malam ini, bisa 'kan?” tanya Alina dan Hero hanya diam.


“Ayolah Kak, demi gantungan kunci yang Kakak suka itu,” bujuk Alina dan Hero hanya diam seolah sedang berfikir.


Tapi tak lama kemudian Hero mengangguk seakan menjawab ucapan Alina itu. Hal itu sontak membuat Alina girang hingga ingin memeluk Hero.


“Hahahaha, maaf Kak, refleks. Lagian nggak masalah juga, toh nggak akan ada yang larang ini,” ungkap Alina dengan disertai gerutuan.


...*****...


Malam harinya.


Rencananya Alina dan Hero akan nonton bareng di sebuah bioskop yang terdekat. Tidak seperti layaknya pasangan normal, meski mereka terlihat cantik dan tampan tapi wajah itu harus mereka tutupi dengan masker.


Mereka tahu jika mereka tidak bisa sembarangan untuk menunjukkan jati diri mereka dihadapan publik. Itu tak lain karena pernikahan mereka rahasia dan hanya beberapa orang yang tahu saja.


Kemarin saja, saat Alina bersama Hero. Identitasnya saja sampai dipertanyakan, bahkan kedekatan dirinya dengan keluarganya saja menjadi pertanyaan.


Aneh memang, Alina bahkan tidak ingin terlalu menutup identitasnya. Ia akan membiarkan identitas dirinya terbuka dengan sendirinya.


“Kak, kita ke sini nggak sendiri. Aku ajak Belvita, bentar lagi dia sama Kak Bian juga dateng. Anggap aja kita ini sedang double date.”


Hero hanya mengangguk, ia membiarkan Alina menghubungi sahabatnya. Sedangkan Hero sendiri berjalan menuju ke tempat penjualan minuman dan popcorn yang ada di sekitar sana.


“Lama banget sih, apa mereka nggak jadi ya?” tanya Alina pada dirinya sendiri.


Padahal niat Alina ingin Belvita dan kakaknya menjadi dekat dan akrab. Melihat Hero yang membawa popcorn dan minuman ditangannya, tiba-tiba Alina langsung menatap heran.


“Ngapain Kak?”


“Beli jajanan,” jawab Hero. Seperti biasa nada suaranya selalu terkesan acuh.


Walau begitu Alina tahu jika Hero tidak seacuh dulu lagi, kini Hero sedikit memperlakukan Alina lebih baik.


“Kita pakai makser loh Kak, itu artinya acara ini bersifat rahasia. Karena kita nggak bisa seperti orang-orang pada umumnya,” ucap Alina mengingatkan.


Terlihat Hero yang baru menyadari akan hal itu, tapi walau begitu ekspresi wajah yang terlihat datar dan biasa saja, seolah ingin menyelamatkan harga dirinya.


“Nggak apa-apa Kak, nggak usah merasa malu. Alina bakal ngertiin kok Kak, ini pasti ngedate pertama Kakak, sama seperti Alina. Karena ini juga ngedate pertama Alina.”


Tatapan Alina terlihat jenaka, senyum yang ia tunjukkan seolah sedang bercanda dengan Hero yang hanya diam.


“Maaf, kami terlambat,” ucap seseorang yang tak lain adalah Belvita.


“Ya ampun Bel, kenapa bisa terlambat?” tanya Alina.


“Terus kenapa Kak Eron juga bisa ada di sini? mau ngapain?” tanya Alina heran. Seingat dia, Alina tidak pernah mengajak Eron untuk ikut.


“Ingat status dong Kak. Acara ngedate ini 'kan untuk pasangan. Terus Kakak mana pasangannya coba?”


Pertanyaan Alina terasa menohok, hingga Eron hanya bungkam karena itu tepat sasaran.


“Sialan!” batin Eron yang tidak berani mengumpat di depan Bian.


“Kalau begitu yang jomblo diam ya, nggak usah sok ngeluh kalau lihat para pasangan yang sedang bermesraan,” kata Alina terdengar meledek.


Tanpa diduga Alina langsung menggandeng tangan Hero, dan respon Hero hanya diam tanpa penolakan. Seakan ia tidak keberatan akan hal itu, padahal dulu Hero menolak Alina sekalipun dihadapan kedua kakaknya.


“Sabar ya Kak, ini ujian.”


Sepanjang perjalanan, Eron hanya bisa mencebik. Ia kesal, benar-benar sangat kesal. Jika tahu akan begini, lebih baik ia tidak memaksa ikut.


Apalagi sepanjang perjalanan tadi, Eron merasa jika dirinya hanya dianggap nyamuk pengganggu.


“Coba setidaknya kalau Kakak bisa buka masker sedikit aja, pasti banyak perempuan yang deketin Kakak,” kata Eron terdengar mengeluh.


“Tapi nggak bakal sepopuler Kak Bian, coba lihat aja, padahal Kak Bian masih pakai masker tapi banyak perempuan yang lihat ke arah dia,” ucap Alina yang kini berjalan mencari tempat duduk.


“Nggak sadar apa, suami kamu juga sangat populer. Lihat aja sekarang, banyak cewek yang lihat ke arah dia. Yang sabar ya dek,” kata Eron disertai ledekannya itu.


Alina yang mendengar itu sontak tersadar, jika kini banyak sekali perempuan yang melihat ke arah Hero.


Hal itu membuat Alina sedikit kesal, tapi ia sadar ia tidak bisa berbuat apa-apa. Alina berusaha terlihat tenang agar kakaknya Eron tidak terus meledeknya.


“Lebih sad mana, Kakak atau Alina? bukanlah harusnya Kakak sadar posisi Kakak sekarang. Coba lihat, apa di sini ada yang nggak punya pasangan sama sekali? apa di sini ada yang nggak punya gandengan sama sekali? jadi sadar 'kan dimana letak Sad sesungguhnya?”


Lagi-lagi Eron hanya diam, tapi tatapan kesal dan sedikit berdecih ia perlihatkan. Jika bukan adik sendiri mungkin Alina akan marahi habis-habisan.


Setelahnya mereka duduk di tempat masing-masing.


Sepanjang acara, Eron merasa ia harus gigit jari, ia yang sendiri hanya bisa melihat adik dan kakaknya yang sedang bermesraan. Dalam hal artian, Eron melihat Belvita yang terlihat memeluk Bian.


Begitupun dengan Alina yang juga memeluk Hero.


Eron sebenarnya adalah laki-laki yang sangat tampan, setara dengan kakaknya Bian. Tapi sikapnya yang sangat pemilih itu yang membuatnya kesulitan dalam mencari pasangan.


...*****...


“Ya ampun, seru banget tadi Ya bel, kamu lihat 'kan kalau tadi di adegan utamanya bikin kita melongo dan nggak bisa berkata-kata?”


“Iya seru banget Lin, lucu filmnya.”


“Seru apaan, film anak kecil Kok di tonton.”


Tadi Alina dan Belvita sempat menonton film horor selama beberapa menit, tapi karena mereka penakut. Mereka memilih menonton film kartun.


“Ye, tapi lucu 'kan? Kakak nggak lihat pas tokoh utamanya bisa terbang pakai payung.”


“Nggak, buat apa. Lebih baik juga Kakak nonton film di rumah dari pada akhirnya nonton kayak gini.”


“Dih, siapa juga yang ngajak.”