
Alina tidak tahu kemana Belvita akan membawanya pergi. Wanita itu bahkan tidak membawa anaknya dan telah menitipkannya pada ibu mertuanya yang tak lain adalah ibu Alina yaitu Amina.
“Aneh, padahal kamu sudah memiliki anak tapi masih saja terlihat muda,” komentar Alina yang langsung di jawab dengan senyuman oleh Belvita.
“Cantik itu harus, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Mungkin saja 'kan ada dokter yang lain yang terpesona olehku,” kata Belvita sedikit jenaka.
Mendengar ucapan Belvita, entah kenapa Alina merasa sedikit curiga. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi antara kakaknya dan Belvita.
“Ada apa? jika ada masalah kamu bisa ceritakan saja itu langsung padaku,” kata Alina yang menatap dalam ke arah sahabatnya itu.
“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan masalah aku ini, lebih baik kita santai sebentar. Aku sedikit lelah karena menghabiskan waktu dengan anakku. Kamu tahu 'kan kalau aku ini orangnya gampang lelah dan bosen, jadi temani aku jalan-jalan sebentar,” pinta Belvita yang tak berniat menjelaskan masalahnya pada Alina.
Alina yang tahu sahabatnya itu tidak ingin mengatakan masalahnya saat ini. Ia akhirnya mengalah dan ikut kemana sahabatnya membawanya pergi.
“Duh, rindu banget dengan suasana makan dipinggir jalan kayak gini, apa kita makan di tempat ini saja ya? aku yakin tempatnya bersih dan sehat,” kata Belvita yang dulu cukup sering makan di tempat seperti itu.
“Ayo hati-hati, ibu hamil harus diperlakukan dengan istimewa,” kata Belvita dengan candaanya itu.
Alina yang mendengar itu hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Ia turun dengan hati-hati dari dalam mobil.
“Ada yang aneh? kenapa mereka seperti melihat ke arah kita ya?” tanya Alina saat beberapa orang yang makan di kedai seolah menatapnya.
“Karena mereka terpesona dengan adanya ibu hamil yang sangat cantik dan menggemaskan tiba-tiba makan di tempat yang seperti ini,” kata Belvita yang hanya di balas gelengan.
“Ucapan kamu berlebihan,” komentar Alina yang pada akhirnya berjalan terlebih dahulu menuju meja kosong yang tersedia.
“Aku nggak bohong loh, kamu tahu 'kan sejak dulu kamu itu sudah terkenal? bahkan aku saja yang tak sekaya kamu merasa seperti pembantu saat bersama dengan tuan putri keluarga Angkasa ini.”
Mendengar guyonan dan candaan dari Belvita, Alina sedikit tertawa. Ia lalu meminta Belvita untuk memesan makanan yang di jual.
“Aku sarankan jangan makan-makan yang berminyak dan mengandung banyak karbohidrat, kamu tadi 'kan sudah memakan makanan berat,” kata Alina yang kini mengingatkan Belvita akan diet rutin yang setiap hari dijalankan wanita itu.
Seandainya Alina tahu jika Belvita bukan berdiet saat kuliah dulu, dia hanya sedang berusaha menghemat pengeluaran saja.
“Iya-iya ibu dokter,” jawab Belvita sedikit memutar matanya malas.
Sebenarnya mereka berdua adalah seorang pemilih makanan dan tidak makan di sembarang tempat, tapi entah kenapa mereka yakin jika tempat ini bersih dan nyaman, hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk makan di sana.
Untuk beberapa saat, suasana makan di kedai itu hening dan tidak terlalu ramai. Tapi tak lama kemudian datang seseorang yang tidak pernah Alina duga.
Hero.
“Bukankah itu Tuan Hero? tuan Hero Sanjaya?”
“Ya ampun, ternyata dia setampan itu juga dilihat dari jarak sedekat ini,” komentar perempuan dengan suara sedikit centil.
Hingga Alina yang mendengar itu entah kenapa merasa sebal dan tak suka dengan kehadiran Hero yang baginya sangat mengganggu.
“Apa yang Anda lakukan di sini?” bukan Alina yang berbicara, melainkan Belvita yang tidak suka dengan kehadiran Hero saat ini.
Belvita tidak mengerti mengapa bisa ada laki-laki yang memperlakukan Alina seperti ini. Menurutnya Alina itu sangat baik dan cantik, dari keluarga yang baik-baik dan yang paling penting Alina adalah wanita setia.
Belvita sangat tahu betapa Alina menjaga hati dan cintanya hanya untuk seseorang, dan saat tahu jika cintanya Alina itu untuk Hero, ada rasa marah saat mengetahui betapa laki-laki itu sok jual mahal.
“Setidaknya Anda harus punya rasa malu Tuan,” kata Belvita dengan sengaja menyindir Hero.
Hero seolah mengabaikan itu, ia hanya fokus pada Alina yang kini seolah sedang mengabaikan dirinya.
“Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kamu Alina. Beri Kakak kesempatan untuk bicara,” kata Hero yang untuk pertama kalinya terlihat penuh harap.
Alina yang memang terlanjur muak dan kesal dengan Hero. Ia yang juga masih tidak terima dengan sikap egois Hero yang menguncinya di apartemen, tanpa berkata apapun lagi Alina langsung bangkit dan ia berjalan menuju mobilnya.
“Apa kamu sebenci itu pada Kakak? Kakak mohon beri sedikit waktu Kakak untuk bicara dan menjelaskan hal yang ingin Kakak jelaskan,” mohon Hero dengan mata yang menatap dalam Alina.
Hero rela Alina memaki atau bahkan memukulnya dengan apapun itu, bahkan Hero tidak akan berani mengelak ataupun menghindar. Yang terpenting bagi dirinya adalah Alina tidak mengacuhkan dan terus mendiaminya seperti ini.
Beberapa kali Hero sempat berpapasan dengan Alina, ia juga sempat saling tatap menatap dengan Alina walau hanya untuk sejenak.
Karena Alina sendiri yang pada akhirnya akan memilih mengalihkan matanya dan bersikap acuh seolah ia tidak mengenal Hero.
“Jelasin apa lagi? Alina rasa semuanya sudah clear dan beres. Alina sudah tahu siapa orang yang kakak cintai itu, bahkan Alina pikir jika Kakak masih mencintai wanita itu. Tapi Alina tidak peduli lagi, itu keputusan Kakak, Alina hanya akan fokus pada diri Alina dan kedua anak Alina nanti,” kata Alina yang menatap datar seolah tak peduli lagi.
“Dia juga anakku 'kan? jadi beri aku kesempatan untuk bisa dekat dengan anakku,” pinta Hero yang kini tidak lagi memperhatikan sekitarnya.
Hero tak peduli jika publik tahu hubungannya dengan Alina, ia justru ingin menyebarkan berita tentang pernikahannya dengan Alina yang selama ini telah dirahasiakan.
“Tapi bagi Alina, kedua anak ini cuman milik Alina saja Kak. Kakak nggak mungkin lupa 'kan kalau selama ini Kakak sering buat Alina kecewa? bukan hanya Alina yang Kakak buat kecewa, tapi juga anak Kakak sendiri yang Kakak buat kecewa! sudahlah Alina lelah,” kata Alina yang langsung menepis tangan Hero yang sedang menahannya.
Alina masuk ke dalam mobilnya dengan Belvita yang juga ikut masuk ke dalam. Tak lama mobil itu berjalan meninggalkan Hero yang hanya diam menatap nanar ke arah mobil Alina yang sedang berjalan pergi.