Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Kekesalan Alina



“Lo juga nggak usah marah lah Lin, gue 'kan cuman ngomong seadanya. Lagipula gue 'kan lagi ngomong dengan Belvita. Terus kenapa Lo yang kesal?”


“Jelas gue kesal, dia itu sahabat Lo sendiri. Sahabat kita berdua, dan dengan teganya Lo ngomong seenaknya tanpa lihat tempat.”


Sebenarnya Alina bukan orang yang gampang marah apalagi merasa tersinggung. Tapi sebagai orang yang sangat menyayangi sahabatnya, ia jelas langsung membela sahabatnya itu.


Meski Melisa juga sahabatnya, tapi wanita itu benar-benar keterlaluan.


“Gue nggak bermaksud buat dia malu. Gue cuman berbicara sesuai dengan apa yang gue pikirkan. Lagipula kenapa juga Belvita hanya diam saja kalau memang yang gue bilang itu salah.”


“Belvita sekarang istri Kakak gue, dan dia sedang mengandung anak Kakak gue!” kesal Alina.


“Kok bisa, apa yang terjadi. Jadi Lo jodohin Kakak Lo sama teman Lo sendiri gitu?”


Alina kini hanya diam, ia berfikir mengapa dulu ia bisa menganggap jika Melisa adalah sahabatnya. Lagipula kini Alina baru sadar jika alasan wanita itu sering mengajak berdebat karena mungkin wanita itu tidak pernah menganggap dirinya sebagai sahabat.


“Sudahlah jangan bahas hal itu lagi, gue kenyang. Ayo Kak aku antar kamu pulang,” ajak Alina yang langsung menggenggam tangan Belvita. Ia membantu Belvita berjalan dan mereka langsung menuju mobil Alina.


Saat Alina hendak masuk ke dalam mobilnya. Ia yang melihat Sang Kakak keluar dari mobil dengan seorang wanita yang tak lain adalah Farah.


Melihat itu, Alina kesal bukan main. Melepaskan pegangan tangannya itu, Alina lantas berjalan mendekat ke arah Sang Kakak.


“Kok bisa ya ada seorang suami yang pergi bersama dengan wanita lain disaat istrinya sendiri yang tengah mengandung itu tidak didampingi olehnya,” ucap Alina yang kentara menyindir.


Tatapan Alina juga ia tunjukkan pada kakaknya yang hanya diam. “Apalagi orang itu adalah Kakak saya sendiri,” lanjut Alina yang langsung ditatap oleh Bian.


“Yang kamu lihat belum tentu yang terjadi,” jawab Bian singkat.


Jelas meski disindir langsung oleh adiknya, tidak ada rasa marah atau kesal di wajah Bian. Ia tetap terlihat santai dengan wajah datar dan tegas miliknya.


“Alina,” panggil Belvita yang menghampiri.


“Kakak nggak lihat jika Belvita terlihat kesulitan saat kemana-mana dengan membawa kandungannya ini?”


Alina merasa kecewa jika sampai kakaknya berubah menjadi orang yang tak berhati hanya demi wanita yang juga tak memiliki hati.


“Kakak ke sini karena Kakak datang untuk menjemput Belvita pulang,” ujar Bian langsung.


Meski tidak tahu apa yang terjadi hingga kini wajah Alina terlihat sangat kesal. Jelas Bian yang sangat peka dan jeli tahu jika kini adiknya sedang merasa kesal dan marah.


“Kamu juga ikut pulang dengan Kakak,” tegas Bian langsung.


“Kenapa Alina juga harus ikut? harusnya 'kan Kakak pikirkan istri Kakak saja lebih dulu.”


“Emosi kamu tidak stabil, jangan mengambil resiko hanya demi sebuah ego,” kata-kata tegas Bian membuat Alina bungkam.


...*****...


Akhirnya Alina masuk ke dalam mobil Bian. Untuk mobilnya Bian telah menyuruh seseorang untuk mengantar mobil Alina ke rumahnya.


“Kenapa bisa Kak Farah ada di sini?” tanya Alina yang hanya dijawab keterdiaman dari Bian. Lelaki itu hanya fokus menyetir, ia tak ingin konsentrasinya akan terganggu dan membahayakan orang-orang yang ia sayang.


“Kami bertemu secara tak sengaja, mungkin karena merasa peduli dan iba, Bian menawarkan untuk mengantar pulang,” jelas Farah yang duduk tepat di samping Alina.


Sedangkan Belvita duduk tepat disamping Bian.


“Kenapa Kak Farah setuju dan tidak menolak?” jika emosi Alina sedang tidak baik, ia akan terus kesal dan akan melampiaskan kekesalannya itu pada orang yang ada di dekatnya.


Itu jelas yang Bian tahu.


Hingga Alina yang melihat perubahan itu merasa heran dengan hal itu. Kenapa selama beberapa bulan tidak bertemu Farah berubah. Bukankah wanita itu dulu merasa sangat tinggi, hingga ia akan selalu bersikap seenaknya. Tapi kini?


“Harusnya Kak Farah menolak saja, Kakak tahu 'kan sekarang Kak Bian suami dari Belvita. Bisa saja karena Kakak ada di sini, itu akan menimbulkan kecemburuan dari Belvita. Itu juga yang akan membuat mereka berdua ribut.”


“Seharusnya Belvita itu mengerti dimana posisinya, karena sebagai wanita yang dinikahi karena sebuah insiden, dia pasti lebih tahu dimana tempatnya berada,” balas Farah dengan kalimat menusuk tapi disertai senyum ramah.


“Alina,” panggil Belvita saat melihat Alina hendak buka suara.


Mendengar itu Alina bungkam.


“Kakak akan antar kamu lebih dulu,” ucap Bian pada Alina.


“Nggak, Alina nggak mau. Alina masih ingin bersama dengan Belvita, Kakak antar Kak Farah aja lebih dulu!”


Alina dengan keras kepala menolak keinginan kakaknya, hal itu membuat Bian yang merasa tidak dihargai.


“Pulang langsung atau turun ditengah jalan!” Bian tidak suka saat Alina membantah dirinya.


Mendengar nada tegas Bian, Alina pun bungkam dan tidak berani untuk berkata-kata.


...*****...


Tak lama mobil milik Bian sampai di rumah milik Alina.


Alina yang merasa kesal dengan itu, ia turun dengan ekspresi yang sedikit merajuk.


“Tetap di rumah, jika ada apa-apa kamu hubungi Kakak,” ucap Bian mengelus rambut Alina.


Alina yang masih memasang raut kesalnya hanya bisa mengangguk. “Kak, jangan kecewakan Alina ya. Kakak ingat janji Kakak yang tidak akan menyakiti perasaan perempuan, karena bukan 'kah jika kakak menyakiti perempuan secara nggak langsung Kakak menyakiti aku dan Mamah,” kata Alina pelan.


Itu janji yang Bian ucapkan beberapa tahun yang lalu pada Alina, entah karena apa lelaki itu mengucapkan janji itu padanya.


“Ya, masuk sana!”


Alina lagi-lagi mengangguk, ia yang berada di depan rumah hanya diam menunggu mobil kakaknya keluar dari rumahnya.


“Ingat ya Kak, jangan pernah sakiti Belvita. Kalau sampai hal itu terjadi, Alina bakal marah besar sama Kakak,” teriak Alina tanpa peduli jika nanti kakaknya akan merasa malu.


Melihat jika mobil kakaknya tidak berada di gerbang rumahnya, Alina langsung berbalik. Belum melangkah Alina sudah dikagetkan dengan Hero yang ternyata berada tepat didepannya.


“Kak Hero?”


“Kenapa Kakak ada di sini?”


“Iya, pekerjaan hari ini sangat sedikit.”


Sebenarnya pekerjaan Hero sengaja dikurangi atas perintah ibunya Hanny, alhasil kebanyakan pekerjaan Hero itu dikerjakan oleh asistennya.


Reza, kini telah resmi menjadi asisten dari Hero.


“Sudah makan?”


Hero menjawab dengan gelengan, ia baru saja datang dan memang belum ada makanan di atas meja. Itu karena Alina belum sempat masak.


“Akan Alina buatkan!” putus Alina yang langsung berjalan menuju dapur untuk membuat makanan untuk suaminya.