Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#80 Rasa sayang Kakak



Alina hanya diam saat kakak keduanya Eron, sedang menatapnya dalam diam. Alina tidak peduli, Alina akan tetap mengabaikan kedua kakaknya yang menurutnya sudah tahu akan kebenaran ini tapi tetap saja menyembunyikan kenyataannya ini darinya.


“Alina,” panggil Eron untuk kesekian kalinya tapi tetap saja Alina abaikan.


“Kamu benar-benar tidak mau bicara dengan Kakak kamu sendiri?” tanya Eron menatap Alina dalam.


“Alina kecewa sama Kakak! Alina juga benci sama Kakak! kenapa? kenapa kalian bohongi Alina? apa Mamah dan Papah juga ikut bohongi Alina?”


“Tidak! Mamah dan Kakak tidak tahu apa-apa tentang kenyataan itu! Mereka sama sekali tidak tahu mengenai orang yang Hero cintai,” jelas Eron lagi.


“Jadi kenapa kalian berdua tega bohongi Alina? apa kalian tega membuat Alina kecewa? kenapa?”


“Bukan begitu, justru karena kita sangat sayang pada kamu. Kita rasa itu yang terbaik untuk kamu,” jujur Eron.


“Kamu ingat 'kan Alina, betapa Kakak kamu sangat posesif dan melindungi kamu, terlebih lagi dengan Kak Abian, ia sangat protektif dalam menjaga kamu,” jelas Eron.


“Jadi apa alasan kalian memilih menyembunyikan ini? dan kenapa Kak Abian tega mengirim Alina ke luar negeri saat itu?” tanya Alina.


“Alina, kakak akan menjelaskan ini nanti, dan apa kamu lupa dengan kejadian masa lalu? betapa posesif dan protektif kedua Kakak kamu ini dalam menjaga kamu?”


Mendengar itu, Alina mau tak mau ingat dengan hal yang sangat berbekas dalam ingatannya itu.


Flashback


Alina, anak kesayangan keluarga Angkasa. Mutiara dan Permatanya keluarga Angkasa. Ia akan selalu diperlakukan baik dan dilindungi dengan disertai sikap overprotektif dari kedua kakaknya.


Mungkin, bagi orang itu terlihat jika hidup Alina sangat baik, walau itu memang kenyataannya. Hanya saja, ada hal yang mana Alina merasa jika dirinya tidak memiliki yang namanya kebebasan.


Saat itu,


Alina yang baru berusia tujuh tahun, ia terlihat diam-diam akan mencuri makanan kesukaannya. Apalagi kalau bukan yang namanya coklat.


Dari cemilan hingga desert, hal yang Alina sukai yaitu coklat. Ia yang diam-diam akan mengambil desert yang berbahan dasar coklat, tiba-tiba ia terhenti karena ada seseorang yang menatapnya.


“Mau apa lagi?” tanya Bian yang sudah dari tadi memperhatikan gerak-gerik Alina.


“Alina, Alina ...,” Alina kesulitan untuk menjawab, ia tahu jika kakaknya tidak akan mengizinkan dirinya untuk memakan desert yang ia inginkan.


“Ini sudah malam bukankah sudah seharusnya kamu untuk tidur? apa kamu sering diam-diam mengambil desert yang disimpan di kulkas?” tanya Bian yang dijawab gelengan.


...........


Saat itu,


Alina dikunci di kamar karena memaksa untuk ikut dengan teman-temannya yang ingin hang out bareng. Tapi, Alina tidak diizinkan oleh kedua kakaknya jika mereka tidak diizinkan untuk ikut bersama Alina.


“Kak, Alina sudah besar. Alina bukan anak kecil lagi, kenapa kalian masih memperlakukan Alina seperti anak kecil?” kesal Alina mengetuk-ngetuk pintu keras.


“Kamu masih umur 15 tahun, itu masih kecil Alina,” kata Eron yang menjawab dibalik pintu.


“Sejak kapan kamu di rumah terus Alina? kamu setiap hari pergi jalan-jalan bersama dengan kita, ke tempat yang katanya pernah teman-teman kamu kunjungi, jadi kapan kamu terus di rumah?” balas Eron yang memang benar kenyataannya.


“Tapi itu beda, Alina ingin bareng teman, nggak bareng kalian Mulu, Alina bosen bareng kalian terus!” kesal Alina merasa jika kakaknya terlalu protektif padanya.


“Apa bedanya? tempat yang kamu kunjungi itu dengan yang teman-teman kamu kunjungi? Lagipula kami nggak akan izinkan jika kamu tidak membiarkan kami ikut dengan kamu. Di sana pasti banyak laki-laki yang akan mengganggu kamu,” kata Eron yang masih saja menjaga Alina di depan pintu.


Maksud mengganggu dari Eron ya tentu saja hanya alasan, yang sebenarnya Eron takutkan jika ada anak laki-laki yang akan mendekati Alina. Mereka berdua takut jika Alina akan terpengaruh oleh pergaulan yang buruk jika tidak mereka awasi.


“Ish, Alina kesal! padahal Kakak juga harus kuliah 'kan? kenapa masih ganggu Alina sih! ” kesal Alina yang tak suka dengan sikap kakaknya yang terlalu menjaga dirinya.


“Kakak bisa izin pada dosen untuk hari ini, lagipula kuliah Kakak nggak sepenting kamu yang harus Kakak jaga dengan hati-hati,” kata Eron, saat diakhir kalimat terdengar sangat pelan hingga Alina tidak mendengar apa yang Eron katakan.


Pada akhirnya, Alina mengizinkan salah satu kakaknya untuk ikut secara bergantian setiap ia akan keluar dari rumah. Dan setiap ada acara, pasti keluarga Angkasa membayar biaya itu, asal jika setiap ada acara itu akan dilakukan di rumah keluarga Angkasa.


Seperti halnya, pesta kecil-kecilan atau kumpul secara bereng-bareng. Alhasil, karena hal itu, Alina hanya memiliki beberapa teman saja, dan hanya Raihan saja teman laki-laki Alina, karena laki-laki itu sudah sangat dekat dengan Alina sejak kecil.


Flashback end


“Bagaimana Alina bisa lupa jika saat kecil dulu kalian sangat protektif pada Alina. Hingga Alina merasa jika sikap kalian keterlaluan,” ungkap Alina yang hanya di jawab anggukan.


“Maaf, tapi itu demi kebaikan kamu.”


Obrolan itu terhenti saat Amina datang dan mengatakan jika Alina harus segera makan.


...*****...


Sepanjang acara makan itu, tidak ada siapapun yang berbicara, tidak ada yang bertanya tentang masalah Alina. Seolah mereka tahu jika Alina tidak ingin ditanya.


“Mah, Pah, Kak, Alina ingin kembali ke luar negeri. Ke tempat Alina dulu kuliah, Alina ingin tinggal dan akan menetap di sana,” ungkap Alina yang sudah sangat membulatkan tekadnya itu.


“Tidak!” tegas Bian yang seolah tidak menerima keputusan Alina itu.


“Kamu sedang hamil, dan kita tidak ingin jika harus mengambil resiko pada kehamilan kamu. Jika Hero yang kamu takut 'kan, akan Kakak pastikan jika dia tidak bisa untuk bertemu kamu lagi,” bukan Bian yang menjawab, tapi Eron.


Seperti yang Eron ketahui, jika apa yang mereka lakukan untuk Alina adalah demi kebaikan Alina, hanya saja ia tidak pandai untuk mengungkapkan apa tujuannya. Jadi di sini Eron ingin menjelaskan agar Alina tidak semakin salahpaham pada kakaknya.


Alina yang mendengar itu bungkam, ia ingat jika kini ia sedang hamil dalam kondis yang sebentar lagi akan melahirkan.


Jadi, pantas jika kedua kakaknya tidak akan mengizinkannya, karena mereka tidak ingin mengambil resiko untuk Alina.


“Apapun masalah kamu, kita tidak akan bertanya. Tapi, tolong jangan berbuat hal yang nekat lagi sayang, kita ini adalah keluarga. Masalah kamu, masalah kita juga, apapun masalah itu kamu bisa ceritakan pada kamu, jangan hanya dipendam.”


Perkataan Amina yang seakan sedih jika anaknya lebih memilih untuk pergi hanya demi menjauh dari Hero.


Amina akan mendukung keputusan Alina itu, yang terpenting Alina bisa menjelaskan keinginannya dan juga menjelaskan apapun itu masalahnya itu, Amina tidak ingin jika Alina juga menjauh darinya dan keluarganya.