Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Permohonan Hero



Tiga hari sudah berlalu.


Dan selama itu juga Heo berusaha untuk mencari Alina, tapi laki-laki itu juga gak kunjung mendapatkan kabar dimana Alina berada.


Hero frustasi dan marah pada dirinya sendiri, ia kini sadar jika dirinya sudah mulai membutuhkan Alina. Alina yang selalu menyambutnya setiap ia pulang ke rumah. Alina yang akan selalu menawarkan bantuan untuk sekedar menyiapkan makanan ataupun air untuk mandi. Dan masih banyak lagi perhatian dari Alina yang Hero sering abaikan. Ia pikir Alina akan tetap bersamanya, bagaimanapun sifatnya pada Alina, Hero pikir Alina tidak akan pernah meninggalkannya.


Tapi kini? kenyataan seolah sedang menampar Hero.


...*****...


Hero memasuki apartemennya.


Apartemen yang terakhir kali Hero lihat Alina di sana. Ia terpaksa mengurung wanita itu, ia sebenarnya tidak tega untuk berbuat seperti itu. Tapi, rasa takutnya itu telah membuatnya terlihat egois di mata Alina.


“Kamu dimana Alina? apa kamu baik-baik saja?” tanya Hero dengan pandangan menerawang jauh.


Hero berjalan dengan langkah lesu, tidak ada gairah ataupun semangat hidup saat Alina meninggalkannya. Semangat hidupnya yang tersisa seolah sudah di bawa pergi oleh Alina.


Dulu Hero memang sering berfikir untuk mengakhiri hidupnya. Tapi ia masih bisa bertahan hingga saat ini, karena ia rasa masih ada hal yang harus ia lakukan demi kedua orangtuanya. Dan kini, entahlah rasanya semangat hidup yang tersisa itu telah sirna.


“Ku mohon Alina kembalilah..., Kakak akan berusaha untuk memperlakukan kamu dengan baik, seperti apa yang kamu mau selama ini,” lirih Hero. Ia yang sudah berada dikamarnya, tempat dimana Alina sempat ia kurung. Hero mencium bau seprai, seolah ia sedang mencari sisa aroma tubuh Alina.


“Wangi aroma mint, bahkan aku tidak mengganti seprai ini karena di sini aku masih bisa mencium aroma tubuh kamu,” kata Hero.


Wajah tampan yang biasanya selalu terlihat rapi dan wangi, kini wajahnya dipenuhi dengan lingkaran hitam, Hero yang biasanya hanya tidur beberapa jam, kini ia malah seperti mayat hidup yang tidak tidur selama hampir lebih tiga hari.


Bukankah itu aneh? mana ada orang tidak bisa tidur selama tiga hari? tapi memang Hero tidak bisa tidur sama sekali. Setiap kali ia berusaha memejamkam mata, wajah Alina yang menatapnya kecewa dan marah itu selalu teringat dalam benak Hero.


“Maaf, maafkan aku Alina. Ini kesalahanku yang terlalu egois, aku yang terlalu menganggap jika cinta yang aku miliki tidak akan pernah hilang pada Alicia, tapi justru aku kini sadar jika cinta itu telah beralih pada kamu, mungkin rasa cinta ini lebih besar dibandingkan rasa cintaku pada Alicia. ”


Karena lelah, Hero tertidur, ia memimpikan masa lalu.


Flashback


Terlihat seorang wanita yang tengah membujur kaku di atas kasur rumah sakit. Wanita itu berwajah pucat dan terlihat lemah.


Wanita itu tidak lain adalah Alicia, dia mengindap penyakit gagal ginjal. Ginjalnya sempat di operasi tapi tidak ada kemajuan atupun perkembangan mengenai kesehatan Alicia. Justru kesehatannya semakin turun dan turun terus menerus.


“Alicia, kamu pasti bisa bertahan. Aku yakin sebentar lagi kamu pasti akan sembuh, percayalah.” Hero yang terus berada disamping Alicia, ia terus saja menguatkan wanita itu. Tidak peduli dengan dokter yang terus saja mengatakan jika umur Alicia tidak akan lama.


“Dokter hanya bisa mendiagnosa saja, karena umur manusia hanya tuhan yang tahu,” kata Hero terus saja menguatkan wanita itu.


“Kak Hero,” panggil Alicia setelah ia hanya diam dengan pandangan yang seolah sedang menerawang jauh.


“Maaf,” kata Alicia lagi.


“Kenapa harus minta maaf?” tanya Hero heran.


“Aku salah Kak Hero, aku egois karena telah menyukai orang yang dicintai sahabat aku sendiri, dan mungkin ini adalah karma untukku karena dengan teganya aku mengkhianati kepercayaan yang dia berikan padaku,” kata Alicia dengan disertai wajah sendunya itu.


“Sahabat? sahabat yang mana?” karena Hero mengenal Alicia sebagai orang yang mudah bergaul dan berteman dengan siapa saja. Ia tidak berfikir jika Alina adalah sahabat baik dari Alicia.


“Kamu pasti akan tahu,” kata Alicia dengan disertai senyuman hambar miliknya. Alicia sadar, ia tidak bisa mencegah rasa sukanya pada sosok Hero yang baginya sangat sempurna.


Alicia sadar, jika tidak ada penyakit ini, mungkin sampai kapanpun ia tidak akan pernah bisa untuk merelakan Hero yang baginya terlalu baik dan berharga.


“Orang yang sangat mencintai kamu pasti akan muncul dan membuat hidup kamu lebih bahagia lagi. Dan di saat itu, aku harap kamu bisa mencintainya, tolong sampaikan juga permintaan maaf ku padanya,” kata Alicia panjang lebar. Ia sadar jika waktunya hanya tinggal beberapa hari.


“Hei, kamu ngomong apa! tidak ada siapapun yang bisa membuat aku bahagia lebih dari kamu. Aku akan jauh lebih bahagia dibandingkan siapapun jika hanya dengan kamu, tolong bertahanlah.”


“Tidak. Dia pasti akan membuat kamu bahagia, banyak hal yang dia korbankan demi kamu. Dan banyak hal juga yang telah dia lakukan demi kamu,” kata Alicia yang sayang tidak memiliki tenaga untuk menceritakan lebih jauh.


“Sudah! berhenti berbicara, kamu istirahat. Dan ingat ini, aku hanya akan mencintai kamu, hanya kamu dan tidak akan ada yang lain!” tegas Hero keras kepala dan dengan kukuhnya berfikir jika ia hanya akan mencintai wanita itu saja, tanpa pernah berfikir untuk mencintai orang lain.


Flashback end.


Sinar matahari yang menembus tirai, membuat tidur Hero terganggu. Merasa jika hati sudah pagi, Hero akhirnya membuka matanya. Hero berusaha untuk membiasakan matanya yang merasa silau dengan sinar matahari karena baru bangun tidur.


Hero terduduk, ia termenung dan tidak berkata-kata. Mimpi itu, mimpi terakhir kali yang ia ingat saat bersama dengan Alicia.


Wanita yang sangat ia cintai, dan Hero pikir jika hanya akan ada wanita itu saja dihatinya. Tapi ternyata, itu tak lebih dari egonya yang terlalu mengagungkan rasa cinta yang ia miliki pada cinta pertamanya itu.


Nyatanya, meskipun Hero berusaha untuk menutup hati dan tidak berniat untuk mencintai Alina sekalipun. Tapi kebaikan wanita itu membuatnya sadar, jika ia sudah mencintai Alina.


“Maaf, maafkan aku Alina. Ku mohon pulanglah ..., aku benar-benar akan memperlakukan kamu dengan baik, aku akan mengatakan kata cinta seperti yang kamu mau, aku juga akan sering berada di rumah seperti yang kamu inginkan.” Tatapan Hero terlihat menyesal, ia tidak tahu harus mencari Alina ke mana lagi. Hanny tidak mengatakan dimana Alina berada.