
Beberapa hari berlalu.
Alina kini sering bersikap canggung pada Hero, ia memang sering sekali memasak makan untuk Hero walau masakannya masih tidak seenak ibu dan mertuanya.
“Apa makanannya tidak enak Kak?” tanya Alina saat melihat Hero tidak memakan makanan yang dibuat olehnya.
“Apa kamu membenci saya karena penolakan saya waktu itu?” tanya Hero dan langsung dijawab gelengan.
“Lalu mengapa kamu selalu bersikap canggung seolah sedang menjaga jarak dengan saya?” tanya Hero lagi.
Kini bukan Hero yang menjaga jarak dengan Alina, karena justru wanita itu yang justru menjaga jarak dengan Hero.
Alina hanya menggeleng, ia sedikit menunduk karena mengingat hari sial itu. Memang itu atas permintaan dari Hanny, tapi ia juga berharap jika dirinya bisa segera mengandung anak dari Hero. Karena mungkin dengan itu Hero akan lebih perhatian padanya.
Alina tidak yakin jika hanya karena insiden itu ia akan mengandung, walau ini baru 2 Minggu sejak insiden itu terjadi. Dan belum ada tanda-tanda kehamilan yang terlihat sama sekali.
“Hanya sedang berfikir. Mungkin sampai kapan pun Kakak nggak akan pernah bisa mencintai Alina,” kata Alina yang menunduk.
Akhir-akhir ini Alina sering merasa jika perasaannya gampang berubah. Ia tahu jika niat awalnya adalah untuk membuat laki-laki itu mencintainya, dengan begitu Hero bisa memiliki alasan untuk tetap bertahan hidup.
Tapi kini Alina berfikir, jika keputusan yang telah ia ambil itu salah. Memaksa Hero itu bukanlah sesuatu hal yang benar, tapi apakah kini ia harus menyerah?
Tidak!
Rasanya Alina tidak bisa menyerah untuk saat ini, walau kadang ia bertanya-tanya, kenapa cintanya serumit ini? kenapa bisa ia masih mau bertahan dengan laki-laki yang jelas-jelas tidak mencintai dirinya.
“Saya tidak mengetahui alasan kamu memaksa agar menikahi kamu waktu itu.”
“Tapi saya pikir jika itu adalah keputusan kamu dan pilihan kamu sendiri.”
kata-kata Hero kadang berkata informal atau formal sesuai pembahasan apa yang sedang mereka bahas.
“Apa Kakak merasa benci pada Alina? apa Kakak merasa muam?”
Entah mengapa Alina justru tidak pernah mengatakan tentang tujuannya itu.
“Muak? entahlah, kata-kata itu seakan tidak cocok untuk dikatakan pada kamu.”
Meskipun Alina memaksa Hero untuk menikahinya, tapi Hero tidak pernah berfikir jika Alina itu terlihat memuakkan.
Laki-laki itu memang tidak pernah bersikap kasar atau jahat pada Alina, mungkin hal itu yang membuat Alina sangat sulit untuk melupakan Hero.
Kadang Alina sering berfikir, mungkin ada baiknya Hero bersikap dingin dan acuh padanya terus menerus. Mungkin dengan begitu perasaannya ini akan pupus. Tapi, mengingat jika sikap Hero itu karena ia sedang terpuruk dan putus asa, Alina jadi tetap ingin mencoba membuat laki-laki itu mencintainya.
Karena Hero tak lebih dari seorang laki-laki yang ingin menyerah akan hidupnya, hanya saja ia memakai topeng acuh dan dingin itu demi menutupi betapa lemahnya dirinya.
...*****...
Alina hanya diam saat Hanny terus saja menjelaskan tentang desain sebuah produk rancangan yang baru ia buat.
“Bunda terinspirasi dari karakter kamu sayang. Kamu anak yang terlihat diam tapi juga pemberian, ada kesan misterius dalam diri kamu saat orang lain melihat sikap diam kamu. Belum lagi kamu suka dengan hal-hal yang simpel, jadi Bunda sengaja merancang gaun yang terkesan simple tapi anggun dan berani di saat bersamaan.”
Tak henti-hentinya Hanny menjelaskan mengenai karakter yang ia buat ini. Karakter gaun yang seakan sedang mendeksripsikan tentang sosok menantunya itu.
“Bunda, Alina rasa Alina tidak terlihat sesempurna yang Bunda lihat. Dan mungkin itu hanya pandangan Bunda tentang Alina. Masih banyak hal dalam diri Alina yang kurang,” ungkap Alina.
Jujur saja, cara mendeksripsikan Hanny tentang dirinya, membuat Alina merasa sangat tersanjung. Tapi Alina tidak merasa jika dirinya seperti yang Hanny deskripsikan
“Jangan karena Hero tidak mencintai kamu, kamu berfikir jika ada sesuatu hal yang kurang dari diri kamu. Itu sama sekali tidak sayang. Nggak ada yang kurang dari diri kamu. Bagi Bunda setiap orang itu punya ciri khas dan kelebihan masing-masing, mungkin Hero saja yang tidak menyadari akan hal itu. Ia kini masih fokus dengan bayang-bayang masa lalu.”
“Bunda,” panggil Alina saat melihat Hanny sedang fokus pada desain gaun yang akan ia rancang.
“Iya sayang?” tanya Hanny yang langsung menatap ke arah Alina.
“Apa Bunda tahu mengenai siapa yang menjadi cinta pertama Kak Hero?” tanya Alina.
Sampai sekarang saja, ia tidak tahu siapa wanita uang hero cintai. Alina tidak mengetahui wanita di masa lalu Hero.
“Kamu bisa tanyakan langsung hal itu pada Hero. Bunda tidak bisa mengatakan itu,” jawab Hanny yang seakan bingung harus berkata apa.
“Apa Bunda memang tidak tahu tentang siapa yang Kak Hero cintai?” tanya Alina yang hanya dijawab sebuah kebungkaman dari Hanny.
“Bunda ingat, jika nanti akan ada seorang model dari luar negeri yang akan memakai gaun rancangan Bunda nanti. Gaun ini akan dikenakan oleh model internasional yang sedang naik daun itu. Kamu tahu 'kan tentang model dari negara kita yang kini sedang terkenal itu?”
Seolah mengalihkan topik, Hanny memberitahu acara yang mana. Gaun buatan Hanny akan muncul di televisi dengan dikenakan langsung oleh model internasional.
“Kapan acara itu akan terjadi?” tanya Alina yang sadar jika Hanny tidak ingin mengatakan masalah itu padanya.
“Nanti Bunda akan kabarin mengenai hal itu.”
...*****...
Alina yang kini sedang berada di sebuah restoran. Ia hanya diam, ekspresi wajah yang tidak semangat dan terlihat bingung kini ia perlihatkan.
“Kenapa hanya diam?” tanya Belvita yang merasa penasaran.
Tidak biasanya Alina hanya akan diam saja jika sedang bersama dengan dirinya. Ia adalah tipe anak yang akan terlihat aktif jika sedang bersama Belvita.
“Jika kamu ingin mengetahui sebuah kebenaran. Tapi kebenaran yang ingin kamu ketahui justru sedang di tutupi oleh orang yang kamu sayang, lantas apa yang akan kamu lakukan?” tanya Alina menatap Belvita.
Belvita hanya diam, ia seakan mencerna apa yang Alina katakan. Kebenaran apa yang Alina maksud?
“Kadang hidup dalam kepalsuan dan sebuah kebohongan itu ada baiknya. Karena kebenaran itu terlalu menyakitkan untuk kita yang tidak bisa menerima kebenaran itu.
“Tapi bukankah itu percuma? jika kamu hidup dalam sebuah kebohongan yang tak berujung. Bukankah kamu hanya hidup dalam bayang-bayang kepalsuan. Untuk apa hidup seperti itu, lebih baik kejujuran yang kita dapatkan meski itu menyakitkan,” jawab Alina seakan menjawab apa yang Belvita katakan.
Mendengar itu Belvita hanya diam dan tidak berkata apa-apa.