
Sudah lebih dari 3 minggu berlalu mereka ada di desa terpencil itu. Dan hari ini adalah hari terakhir dimana mereka di sana.
Sebenarnya tidak hanya Alina dan Hero yang diminta untuk ke desa itu, ada total 5 dokter yang pergi ke desa terpencil itu.
Syela, Farrel, dan satu lagi dokter Andrean yang tak lain adalah wakil di rumah sakit, sekaligus anak dari pemilik rumah sakit itu juga ikut.
Mereka semua di tempat di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, fasilitasnya tidak selengkap saat mereka sedang berada di kota tempat tinggal mereka.
Alina bahkan tinggal sekamar bersama Syela, sedangkan Reno, Andrean dan Hero berada di kamar yang sama.
Hero lebih sering tidur di ruang tamu karena sering mengerjakan pekerjaan yang belum selesai dan harus segera diselesaikan. Dan selama itu juga, Alina dan Hero sering bertemu.
Alina memberikan beberapa perhatian kecil pada Hero, walau ada dua orang yang tak senang saat melihat itu.
Syela dan Andrean.
...*****...
Saat itu, di malam hari.
Alina yang merasa jika dirinya sedang merasakan sesuatu hal yang tak nyaman di bagian perutnya. Ia merasa sangat mulas dan ingin buang air besar.
Melihat ke arah jam di dinding, Alina melihat jika jam kini telah menunjukkan pukul dua belas lebih tiga puluh menit, dan di waktu itu Alina yakin seisi rumah sudah tidur.
“Gimana ini, apa aku ke kamar mandi sendiri aja?” tanya Alina.
Harus Alina akui jika dirinya ini penakut, sangat penakut. Ia bahkan tidak pernah sendirian ke kamar mandi jika kondisi lampunya tidak terlalu terang.
Melirik ke arah Syela yang membelakanginya, Alina pun hanya bisa menghela nafas panjang, padahal Alina sudah berusaha keras agar bisa akrab dan dekat dengan Syela, tapi wanita itu tetap saja bersikap sinis dan menganggap dirinya sebagai musuhnya, atau lebih tepatnya saingan cinta.
Padahal walau mereka bersaing, Alina tetap ingin berteman dengan Syela.
...........
Awalnya Alina ingin meminta antar pada Syela, tapi ia yakin jika Syela akan menolak itu. Lagipula siapa juga yang akan mau mengantar atau menunggu di luar kamar mandi jika orang itu bukan orang terdekat kita?.
Alina berusaha tidur, ia berfikir untuk buang air besar esok pagi saja. Ia tahu benar jika itu tidak baik untuk kesehatan, tapi rasa takut seakan membuat dirinya merasa tidak memiliki pilihan.
“Tahan sebentar ya, semoga bisa. Untuk hari ini saja, tidak ada lain hari,” ucap Alina pada dirinya sendiri.
10 menit kemudian.
Saat dirasa rasa mulasnya tidak bisa ditahan lagi, Alina terpaksa memberanikan diri untuk meminta bantuan pada Syela.
“Dokter Syela, dok,” panggil Alina beberapa kali.
Syela tidak menggubris seolah berpura-pura tidak mendengar. Alina yang melihat itu lalu menyentuh pundak Syela seolah berusaha meminta bantuan.
“Dok, bisakah anda membantu saya. Tolong, saya sangat butuh bantuan Anda.”
Dari panggilan mereka yang terlihat berjarak saja, itu sudah meyakinkan kalau hubungan mereka berdua memang tidak dekat.
“Apaan sih, ganggu orang lagi tidur aja,” kesal Syela yang langsung bangun dan menatap Alina dengan tatapan tajamnya.
Sebenarnya dari awal Alina terjaga, Syela juga sudah bangun karena ia hendak mengambil air minum. Tapi Syela sengaja menunggu Alina tidur baru ia akan keluar untuk mengambil air minum.
“Boleh saya minta antar pada Anda,” cicit Alina pelan.
“Nggak, apaan minta antar. Sana pergi sendiri, gila aja Lo ya! nggak kenal sok minta antar,” sinis Syela yang langsung membuat Alina bungkam.
Saat Syela kembali tidur, Alina yang memang merasa perutnya bertambah sakit.
Seolah itu bukan hanya karena alasan ingin buang air besar, tapi Alina yakin jika mungkin itu salah satu tanda ia akan datang bulan.
Alina bahkan membawa senter untuk membuat jalannya terlihat terang agar tidak kesulitan.
“Mau kemana?” tanya seseorang yang langsung mengagetkan Alina yang memang penakut.
“Akh!” teriak Alina yang langsung menunduk sambil membawa senter ditangannya.
Hero yang memang sedang menyelesaikan tugasnya di ruang tamu, ia yang melihat Alina ketakutan langsung mendekat.
“Kenapa?” tanya Hero yang langsung menyentuh pundak Alina.
Alina yang sedang menutup mata rapat-rapat dengan kedua tangan yang ia tempelkan ke kedua telinganya itu. Ia sontak langsung menepis sebuah tangan yang hendak menyentuh pundaknya.
“Tuhan ..., Tuhan ..., tolong lindungi Saya. Saya tahu saya penakut, tolong lindungi ...,” lirih Alina dengan mata yang menutup semakin rapat.
Hero yang melihat itu, ia hanya menyernyit heran. Tapi saat melihat ekspresi Alina, entah mengapa ia ingin tertawa. Dan sekali lagi Hero mengulurkan tangannya itu, lalu lagi-lagi Alina tepis.
“Ya Tuhan ..., ujian apa ini! manusia ini adalah yang paling penakut diantara jutaan penakut di dunia, tolong jauhkan manusia ini dari setan-setan pengganggu,” lirih Alina terdengar pula nada kesalnya saat ia berfikir jika yang menggangunya adalah setan gentayangan.
“Tolong pergi! jauh-jauh sana! jangan ganggu karena saya nggak berniat ganggu kamu!”
Alina terus saja memejamkan matanya dan berkata tanpa henti. Ia sebenarnya ingin lari dan kembali ke kamarnya, tapi karena rasa takut yang bercampur dengan rasa sakit diperutnya, membuat ia tidak bisa bergerak sama sekali.
Kedua kaki Alina terus saja bergetar tanpa henti, menandakan jika kini ia sedang merasa ketakutan.
Hero yang melihat itu, ia lalu memegang pundak Alina dan mengarahkan Alina agar menatap kearahnya.
“Saya ini bukan setan? apakah memang saya terlihat seseram itu hingga kamu merasa sangat ketakutan?” datar Hero yang langsung membuat Alina membuka mata seketika itu juga.
Alina melihat jika dihadapannya adalah Hero, lelaki itu kini sedang menatap ke arah dirinya dengan tatapan datarnya. Itu terlihat jelas saat senter itu berhasil sedikit menerangi wajah Hero.
Hal itu membuat Alina berfikir jika Hero sedang merasa tersinggung dengan ucapannya.
“Maaf, maaf dok. Saya nggak bermaksud untuk mengatakan itu pada Anda,” ucap Alina dengan nada bersalahnya.
Hero hanya diam, ia tidak mengatakan apapun.
“Maaf, saya benar-benar tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu,” ucap Alina lagi dengan permintaan maafnya.
...*****...
Keesokan harinya.
Di hari ini, tugas mereka di desa yang terpencil itu telah selesai. Para warga yang banyak terkena penyakit yang diakibatkan oleh air yang kotor dan kurang bersihnya lingkungan, membuat warga sekitar akhirnya sadar dan peduli akan pentingnya kebersihan lingkungan.
Di hari terakhir mereka ada di sana, mereka membantu warga dan bergotong royong dalam membersihkan lingkungan. Beberapa tumbuhan dan tanaman yang bermanfaat dicoba untuk di tanam di tanah yang sangat subur itu.
“Kak,” panggil seorang anak yang tak lain adalah Caca.
Kondisi Caca saat Alina lihat sudah lebih baik, anak itu terlihat ceria dan senang.
“Caca dengar jika sore nanti Kakak akan kembali ke tempat tinggal Kakak,” terdengar nada sedih yang Caca ucapkan.
Karena selama 3 minggu lebih Alina berada di sana, ia kadang sering bermain bersama anak bernama Caca saat waktu senggang.
“Jangan lupain Caca ya Kak, Caca sayang banget sama Kakak. Semoga Caca bisa bertemu lagi dengan Kakak,” ucap anak yang berumur lima tahun itu.
Tapi melihat sikap Anak itu yang terkesan dewasa, Alina berfikir jika mungkin kini anak itu berusia 8 tahun.
“Kakak nggak akan lupa, dan kamu juga jangan lupa jaga kesehatan ya,” ungkap Alina yang langsung diangguki oleh Caca.