
Memarkirkan mobilnya begitu saja. Hero lantas segera turun dari mobilnya. Ia menghampiri salah satu pelayan yang bekerja di rumah Alina.
“Apakah Alina ada di rumah?” tanya Hero pada pelayan itu.
Pelayan itu hanya diam dan terlihat berfikir. Ia ingat pesan dari Bian agar tidak mengatakan apapun tentang keberadaan Alina pada laki-laki yang ada dihadapannya ini. Tapi meskipun pelayan itu tahu jika hubungan Hero dan Alina sedang buruk, ia merasa tidak tega untuk tak menjawab pertanyaan Hero.
Pelayan laki-laki itu jelas tahu bagaimana seringnya Hero datang dan terus menunggu Alina hanya demi bisa melihat dan menemui Alina.
“Tu-an, maaf saya tidak tahu,” kata pelayan itu sedikit ragu tapi berusaha bersikap seolah ia benar-benar tidak mengetahui keberadaan Alina.
“Tolong jangan mengabaikan pertanyaan saya, saya hanya ingin mencari tahu keadaan istri dan anak saya.”
Hero terus meminta agar pelayan itu mengatakan sebenarnya dimana keberadaan Alina saat ini.
Suasana hatinya bertambah kalut dan gelisah, ia merasa khawatir dan benar-benar takut jika Alina kenapa-napa.
“Tu-tuan sa-saya-”
“Saya hanya menanyakan keberadaan istri saya, apa itu salah? meskipun kalian menyembunyikannya dari saya demi kebaikan istri saya apa kalian tidak memikirkan perasaan anak kami nanti?”
Kini Hero yakin jika dirinya sengaja dipisahkan dari Alina. Lebih tepatnya Alina sedang dijauhkan dengan dirinya.
“Istri saya sedang hamil, apa sebagai suami saya tidak berhak untuk melihat anak saya?”
Biasanya Hero bukanlah orang yang berbasa-basi atau banyak bicara. Tapi entah kenapa ia kini menjadi lebih banyak bicara.
“Sa-saya ...”
*****
Di tempat lain.
Alina yang kini berada di mobil hanya diam. Ia merasa bingung dan tak tahu harus mengatakan apa. Alina bingung karena tiba-tiba saja kakaknya Abian mengajak dirinya dan keluarganya untuk tinggal di desa terpencil.
Desa yang mana merupakan tempat kelahiran ibunya, di sana Alina dan keluarganya akan tinggal bersama dengan neneknya dari pihak ibu.
Meskipun bingung, Alina tidak mengatakan apapun. Ia hanya diam dan lelah untuk berdebat lagi.
Flashback.
Saat itu di malam hari.
“Kak, ada apa? kenapa tumben malam-malam kita kumpul di sini?” tanya Alina saat melihat kedua kakaknya ada di rumah.
Meskipun keluarganya sering berkumpul, tapi mereka juga sangat sibuk, hingga akhir-akhir ini Alina jarang melihat kedua kakaknya berkumpul bersama.
“Kita akan tinggal di rumah nenek,” kata Abian yang tiba-tiba mengambil keputusan.
“Di rumah nenek? nenek kita yang ada di desa?”
Jika nenek itu dari pihak ayahnya tentu Alina tahu tempatnya, karena itu hanya berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya.
“Iya, kita akan tinggal di desa sementara waktu.”
“Kak, apa Kakak gila?” kata Alina dengan wajah terkejutnya.
Wajah Alina terlihat kesal dan marah, biasanya Abian adalah orang yang selalu mementingkan keselamatan keluarganya. Ia juga selalu mementingkan keselamatan Alina dan bayinya. Kini secara tiba-tiba kakaknya justru mengajaknya untuk tinggal di desa terpencil itu?
“Apa maksud kamu Alina?”
Terlihat Abian merasa kesal dan tidak suka dengan apa yang baru saja adiknya itu katakan. Alina bukan anak yang seperti itu hingga berani mengatakan kakaknya gila.
“Alina saat ini sedang hamil kak, dan dalam waktu dekat Alina akan melahirkan. Apa kakak lupa itu?”
“Tidak”
“Alina kakak tahu kekhawatiran kamu, kakak akan mengurus itu. Kamu tenang saja,” kata Bian.
Amina serta suaminya hanya diam. Mereka juga sudah membujuk agar Bian membatalkan niatnya itu. Tapi jika sudah memutuskan sesuatu, Abian sangat sulit untuk di bujuk.
“Kak!” Alina bahkan tidak tahu lagi harus mengatakan apa.
“Ini demi kebaikan kamu Alina,” kata Abian tegas.
Flashback end.
*****
Dan kini karena merasa lapar dan lokasi perjalanan masih cukup jauh, Abian mengajak keluarganya untuk makan dan berisitirahat sejenak.
Mereka makan di sebuah restoran yang mereka temui.
“Kak Eron, Alina tahu jika Kak Abian berniat untuk menjauhkan Alina dari kak Hero, tapi kenapa harus dengan cara seperti ini?” tanya Alina berbisik pada telinga kakak keduanya itu.
“Kamu kayak nggak tahu sifat kakak kamu aja, dia kalau sudah memutuskan sesuatu tidak bisa di ganggu gugat. Bukankah kita sudah tahu bagaimana sifat dia?”
Hero hanya melirik sebentar ke arah Abian yang terlihat sedang menggendong anaknya. Eron bahkan tidak berani untuk melawan kakaknya itu.
Meskipun tindakannya ini terlihat beresiko, tapi Abian sepertinya sudah memperhitungkan segalanya.
Abian menatap ke arah Alina.
“Kita akan menginap di hotel ini sebentar, Kakak juga tahu kamu mengkhawatirkan anak kamu. Jadi lebih baik kita menginap untuk istirahat sejenak. Kita tidak akan buru-buru ke rumah nenek, Kakak dan yang lain sudah mengambil cuti untuk dua Minggu ke depan.”
Alina yang mendengarkan itu hanya terbelalak sejenak. Cuti sebanyak itu? setahunya kakaknya adalah orang yang rajin. Bahkan tidak pernah Alina lihat kakaknya mengambil cuti sekalipun.
“Sepertinya memang sudah direncanakan, jadi Alina tidak bisa berkomentar apapun,” kata Alina sedikit acuh dan tidak peduli.
Bian dan yang lainnya yang mendengar itu hanya diam dan tidak ada yang mengatakan apapun lagi.
Di satu sisi mereka tahu kekhawatiran Abian, Bian takut jika Alina akan memaafkan Hero lagi. Bian hanya tidak ingin adiknya terus di sakiti.
Sebagai seorang kakak, patah hati terbesar dalam hidupnya adalah harus melihat adiknya menderita.
*****
Pada akhirnya Alina dan keluarganya menginap di salah satu hotel terdekat selama dua hari. Setelahnya mereka berniat untuk kembali melanjutkan perjalanan.
“Alina, jangan jauh-jauh ya, entah kenapa perasaan aku nggak enak,” kata Belvita pada Alina.
Alina yang mendengar itu hanya tersenyum, ia tak terlalu menghiraukan ucapan Belvita yang memang selalu mengkhawatirkan dirinya akhir-akhir ini.
“Iya, aku akan jaga diri baik-baik bel. Sebentar ya, aku mau ambil barangku yang tertinggal.”
“Bi-” baru saja Belvita akan menawarkan diri untuk mengambil barang itu, sayangnya Alina langsung memotongnya.
“Tenang saja aku akan jaga diri kok,” kata Alina.
Alina lalu mengambil barang miliknya dan kemudian berniat menyebrang untuk mendekati mobil keluarganya yang berniat untuk melanjutkan perjalanan.
Tapi entah kenapa, tiba-tiba sebuah mobil berjalan dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan. Alina yang baru menyadari itu bahkan tak tahu harus merespon seperti apa.
Tubuhnya kaku, ia tidak bisa bergerak sama sekali.
Srett
Sebuah tangan besar langsung menggapai dan menari dirinya begitu saja di detik-detik terakhir. Melindungi Alina dengan memeluk tubuh Alina erat-erat.
Sayangnya mereka berdua sedikit berguling-guling karena mobil tadi berhasil menyerempet seseorang yang menyelamatkan Alina.