Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Alina sayang ..., bertahanlah



Alina yang merasa sangat pusing hanya bisa menatap ke atas untuk sekedar melihat siapa penyelamat dirinya tadi. Dan ternyata orang itu tidak lain adalah Hero.


Suaminya.


Terlihat wajah Hero yang panik dan khawatir saat melihat Alina seolah akan pingsan.


“Alina, bertahanlah sayang,” kata Hero dengan panik dan khawatir.


Hero tidak tahu harus bagaimana saat ini, ia yang melihat darah mengalir cukup deras dari arah bawah tubuh Alina membuatnya bergetar ketakutan.


Keluarga Alina yang menyaksikan hal itu sontak segera menghampiri Alina.


“Sebaiknya kita segera bawa Alina ke rumah sakit,” kata Antonio dengan wajah yang tidak bisa disembunyikan lagi jika ia khawatir dan gelisah.


Sebagai seorang ayah yang biasanya selalu terlihat berwibawa dan tenang. Kini saat melihat anaknya yang bersimbah darah, sudah hilang ketenangan Antonio.


*****


Di ruang operasi


Alina yang sedang berada di ruang persalinan itu, terlihat tidak sadarkan diri saat dipindahkan ke ruang operasi.


Hero yang juga merupakan dokter ahli bedah, ia kini berniat untuk membantu dokter yang ada di sana melakukan operasi. Itu dikarenakan rumah sakit itu dokter bedah yang biasa menangani operasi sedang melakukan operasi di ruang lainnya.


Meskipun ada juga seorang dokter di sana yang akan membantu persalinan Alina, tapi karena Hero sangat ahli dan sangat berpengalaman hingga keahliannya sudah tidak diragukan lagi, maka ia dipercaya untuk membantu melakukan operasi.


Demi apapun, selama Hero melakukan operasi. Tidak pernah ada yang namanya takut atau gugup, tapi saat mata ini melihat bagaimana istrinya terbaring kaku tak sadarkan diri, rasanya dunianya ini benar-benar berhenti berputar.


“Alina, bertahanlah sayang,” kata Hero yang terus membisikan itu di telinga Alina.


Untuk pertama kalinya seorang Hero takut untuk melakukan operasi. Masalahnya yang sedang terbaring saat ini bukanlah orang lain, melainkan istrinya sendiri.


“Dok, kuatkan diri anda. Saya sudah mendengar dari atasan jika yang akan di operasi adalah istri anda sendiri. Tapi dengan kemampuan dan keterampilan Anda, saya yakin jika itu bukanlah masalah untuk anda.”


Seorang dokter perempuan berusaha menghibur Hero. Dokter itu juga salah seorang penggemar berat Hero. Dokter itu telah mendengar mengenai bakat dan juga keterampilan Hero.


Selama melakukan operasi, tidak pernah ada yang namanya kata gagal, sekalipun skala keberhasilannya sangatlah kecil bahkan nyaris tak mungkin.


Tapi di tangan Hero si tangan terampil, tidak pernah ada yang namanya gagal.


“...”


Hero hanya diam, entah apa yang harus dijawab oleh dirinya. Mungkin jika yang ada dihadapannya ini orang lain, ia masih bisa bersikap santai dan tenang.


Tapi sayangnya ini istrinya sendiri.


Bagaimana Hero bisa tenang? apalagi Hero hanya bisa menyelamatkan satu orang nyawa saja. Lalu bagaimana dengan kedua anaknya nanti? bagaimana respon Alina saat Hero memilih untuk menyelamatkan dirinya tanpa kedua anak mereka?


“Operasi akan kita lakukan dua jam lagi dok, untuk memulihkan energi sebaiknya anda istirahat sejenak.”


*****


Sementara di ruang tunggu.


Keluarga Alina sedang menunggu Alina dengan cemas.


Antonio yang kini juga mengkhawatirkan Alina, ia tak henti-hentinya menatap ke arah Abian dengan tatapan marah dan menyalahkan.


Jika saja Amina sebagai istri tidak menengahi pertengkaran antara suaminya dan anaknya, mungkin tak akan bisa di elak jika Abian akan menjadi samsak ayahnya.


Abian yang tahu kesalahannya itu hanya diam, setegas apapun dan sekeras kepala apapun Abian, ia tidak akan pernah lepas dari tanggungjawabnya.


Abian tahu jika ini kesalahannya, ini juga akibat dirinya yang terlalu teledor. Dan Abian akan siap jika ayahnya akan memarahi dirinya.


“Dasar-”


“Mas, ini rumah sakit, kita jangan ribut kasihan Alina yang sedang berjuang di dalam. Tolong ..., untuk saat ini jangan saling menyalahkan. Kita harus fokus untuk keselamatan Alina dulu,” kata Amina memohon.


Hanny dan Bram yang mendengar menantunya mengalami kecelakaan, ia langsung datang.


“Apa Alina baik-baik saja?” tanya Hanny khawatir.


“Alina sedang di ruang operasi, dan Hero yang akan menangani operasi itu nanti,” jawab Antonio.


Meskipun hubungan antara dua keluarga itu masih kurang baik, tapi mereka tidak saling memusuhi.


“Bagaimana bisa? bukankah katanya Hero telah menyelamatkan Alina?” tanya Hanny lagi.


Tidak ada yang berani menjawab, mereka bungkam juga sedang menyalahkan diri sendiri.


Belvita yang mendengar pertanyaan itu langsung maju dan mendekat ke arah Hanny. “Hero memang telah berhasil menyelamatkan Alina Tante, tapi tidak di sangka saat mereka hendak menghindar, Hero yang tengah memeluk dan melindungi Alina terserempet mobil itu, hingga mereka berdua berguling cukup jauh. Bahkan meskipun Hero berusaha melindungi Alina, tapi kondisi Alina yang memang kurang baik sangat rentan keguguran,” jelas Belvita.


Belvita dan keluarga Alina yang lain bahkan tidak tahu jika akhir-akhir ini Alina sedang banyak pikiran, hal itulah yang membuat kondisi Alina sangat rentan mengalami keguguran.


Cklek


Hero yang terlihat sedang dalam kondisi kurang baik dan cukup memprihatinkan terlihat berjalan gontai ke arah keluarganya dan keluarga Alina berkumpul.


Hero hampir tidak menyadari jika pelipis dan kedua tangan dan kakinya memar dengan cukup parah hingga berdarah. Darah itu sudah mengering tapi masih ada beberapa yang masih menetes.


“Ya ampun nak,” Hanny langsung mendekat ke arah anaknya.


Hampir enam jam Hero berada di dalam ruang itu, operasi tidak bisa dilakukan begitu saja tanpa di setujui keluarga.


Dan yang Hero lakukan hanyalah memberikan alat bantu untuk Alina agar kondisinya tidak semakin menurun.


Selain itu, Hero bingung apakah nanti keluarga Alina akan setuju dengan keputusan Hero yang memilih untuk menyelamatkan Alina?


“Hanya ada satu nyawa yang bisa di tolong, dan Hero sudah mengambil keputusan untuk menyelamatkan Alina,” kata Hero lalu berjalan menuju ruangan yang disediakan untuknya.


Hanny yang melihat itu langsung mengikuti anaknya, ia khawatir dengan keadaan anaknya yang terlihat sangat syok.


Sementara keluarga Alina yang mendengar itu, mereka langsung terduduk lemas. Antonio bahkan tidak bisa menahan rasa marahnya dan memukul Abian hingga beberapa security masuk untuk mencegah perkelahian.


“Dasar! lihat gara-gara keegoisan kamu Alina jadi seperti ini kan?!!” marah Antonio.


Abian yang hampir babak belur tidak mengatakan apapun. Ia hanya bisa menerima kemarahan ayahnya.


Amina yang melihat suami dan anaknya bertengkar hanya bisa menangis dan berusaha menahan agar suaminya tidak memukul anaknya lagi.


“Cukup! apa kita hanya bisa menyalahkan satu sama lain saja? saat ini kondisi Alina yang lebih utama. Ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan ataupun membuat keributan!” kata Amina sedikit bergetar karena berteriak bercampur tangis.