Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#21 Ada masalah apa?



“Kak,” panggil Alina pada kakaknya yang terlihat sedang membaca sebuah majalah.


Majalah yang kakaknya, Bian baca tidak jauh dari hal yang menyangkut tentang kesehatan. Hari ini Alina sengaja meluangkan waktunya menemui Bian langsung di rumah mereka, karena kini Bian tidak memiliki jadwal, tentu lelaki itu pasti hanya akan berada di rumah sambil membaca sebuah majalah.


“Kakak kenapa sangat jarang makan bersama?” tanya Alina menatap ke arah Bian.


Bian menoleh, ia menatap ke arah Alina lalu menutup majalah yang tengah dibacanya begitu saja.


“Apa kamu tidak makan dengan baik karena kakak tidak ikut makan bersama?” tanya Bian, cara bicara yang selalu terkesan datar dan tegas. Tapi satu hal yang tidak semua orang ketahui, dalam ucapan Bian terkandung rasa sayang dan kekhawatiran pada orang yang dia sayang.


“Bukan begitu, Alina hanya merasa heran dengan ketidakhadiran Kakak saja. Alina khawatir Kakak tidak makan dengan baik,” jelas Alina. Ia sedikit bersimpati pada Sang kakak yang kini sedang mengalami masalah yang cukup serius dengan kekasihnya, Farah.


Farah adalah wanita egois dan tidak ingin disalah 'kan, seakan ia selalu benar, itulah sifat Farah yang kini Alina ketahui.


Alina tidak tahu alasan Sang Kakak mau menerima wanita seperti itu, tapi apapun keputusan dari Sang Kakak akan Alina dukung, asal hal itu yang terbaik untuk kakaknya.


“Kakak makan dengan sangat baik,” jawab singkat Bian.


“Kakak ke kamar dulu,” ucap Bian yang langsung bangkit, ia seakan sedang berusaha menghindar dari Alina.


...*****...


Keesokan harinya.


Hari ini, Alina mengantar makanan untuk keluarganya. Meskipun Alina belum pandai memasak dan hanya bisa masak beberapa menu, tapi dengan semangat Alina membuat makanan itu.


Sebenarnya Alina baru saja mengantarkan makanan untuk Hero, entah makanan itu akan Hero makan atau tidak. Yang jelas Alina tidak tahu, ia setidaknya sudah berusaha keras membuat makanan itu.


“Masakan siapa?” tanya Amina.


“Masakan koki rumah Mah, tapi mungkin karena Alina ikut bantu jadi masakan itu kurang enak,” ungkap Alina yang memang tahu jika tidak pandai memasak.


“Jangan memasak kalau memang tidak perlu, makan di sini saja kalau mau,” ucap Eron yang tak suka saat adik yang ia sayang terlihat kesusahan, walau dalam hal memasak


Alasan Alina tidak jujur jika itu masakan buatan dirinya, itu tak lain karena tidak ingin membuat keluarganya merasa khawatir.


“Kak, mau ke mana? kenapa tidak sarapan bareng?” tanya Alina saat melihat Bian yang seakan hendak keluar dengan membawa jas putih kebanggaan miliknya.


“Kamu makan saja, kakak memiliki jadwal yang lebih pagi hari ini,” jawab Bian yang hendak melangkah. Tapi sayangnya ucapan Alina berhasil membuat langkah Bian terhenti sejenak.


“Kok jadwal Kakak pagi terus?” tanya Alina. Ia sempat melihat jadwal Sang Kakak, dan menurut apa yang ia baca, jadwal kakaknya itu siang hari.


“Kamu bisa makan, kakak sedang ada urusan,” jawab Bian yang setelahnya ia langsung berjalan menjauh dari meja makan.


Alina yang melihat itu tentu merasa bingung, ia lalu menatap ke arah ibunya yang terlihat hanya diam. Tidak seperti biasanya, wanita lemah lembut itu kini banyak diam dan terlihat selalu memasang wajah murungnya.


Menatap ke arah sebelahnya, kakaknya Eron juga sedang memakan makanannya dengan terlihat tidak bersemangat.


“Kenapa Kak?” tanya Alina menyenggol bahu kakak keduanya.


“Tidak! hanya merasa kenyang saja, tapi sayangnya kakak sudah di ajarkan untuk tidak membuang makanan,” jawab Eron yang memakan dengan tidak berselera makanannya.


Alina menatap kembali ke depan, ia melihat ekspresi ayahnya yang biasanya selalu tersenyum. Tapi senyum yang biasanya sering Alina lihat setiap pagi hari, kini untuk pagi ini ia tidak melihat senyuman itu sama sekali.


Justru wajah yang sedikit murung yang terlihat, sama seperti Eron yang terlihat tak bersemangat. Ayahnya pun terlihat tidak bersemangat.


Hal itu membuat Alina heran, ia ingin bertanya tapi tidak berani. Alhasil Alina hanya memakan makanan yang ia buat dengan pikiran bertanya-tanya.


...*****...


Di rumah sakit.


Alina hari ini bekerja dengan suasana hati yang menurutnya benar-benar tidak bersahabat.


“Padahal aku sudah dewasa, dan tidak seharusnya mereka terus menyembunyikan masalah yang mereka hadapi ini,” gumam Alina.


Seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan, keluarganya tidak akan pernah bercerita tentang kesusahan yang sedang mereka alami. Karena mereka akan bercerita saat kesusahan itu telah benar-benar dilewati, seakan mereka benar-benar melindungi Alina agar tidak ikut merasa terbebani. Hal itu terus terjadi, dan di satu sisi Alina merasa terharu dengan betapa besar kasih sayang mereka pada dirinya, tapi di sisi lain ia juga merasa jika dirinya tidak berguna karena tidak bisa membantu keluarganya.


“Kenapa?” tanya Santi menepuk bahu Alina.


Alina yang sedikit melamun sontak merasa terkejut, tapi ia langsung meredakan rasa terkejutnya itu. Sebisa mungkin Alina hanya menggeleng sambil tersenyum.


“Tidak apa-apa,” jawab Alina langsung.


“Yakin?” tanya Santi memastikan dan Alina mengangguk yakin.


“Jika ada masalah, kamu bisa menceritakan hal itu pada aku. Apapun itu, kamu bisa menjadikan aku sebagai teman curhat kamu,” ucap Santi menawarkan.


Alina yang mendengar itu hanya mengangguk, hal itu yang membuat Santi tidak ingin memaksa agar Alina bercerita terlalu banyak padanya.


“Kalau begitu selamat bekerja, semangat!”


“Semangat juga untuk kamu!” ucap Alina dan diangguki oleh Santi.


Alina memasuki ruangannya, ia melihat jika di mejanya sudah ada makanan. Melihat itu Alina menatap ke arah Hero yang terlihat sedang mengerjakan pekerjaannya.


“Dok, ini makanan dari siapa?” tanya Alina menatap Hero.


Lelaki yang awalnya sedang fokus pada pekerjaannya itu, ia lalu menatap ke arah Alina dengan tatapan yang selalu mampu membuat Alina terhanyut.


Mata laki-laki itu terlihat sangat dalam, seakan selalu berhasil membuat Alina terhanyut dalam pesonanya.


“Bunda,” jawab singkat Hero.


Alina yang mendengar itu sontak mengangguk, ia lalu melihat sekelilingnya seolah sedang mencari keberadaan Hanny.


“Bunda sedang tidak ada di sini, kamu makan saja makanan yang telah Bunda berikan untuk kamu,” seakan tahu jika Alina sedang mencari Hanny, Hero langsung menjawab pertanyaan dalam otak Alina.


“Kapan Bunda ke sini 'kak? maaf, maksud saya kapan Bunda datang ke tempat ini dok?”


“Sudah makan saja. Bunda hanya mengirim pesan agar kamu menjaga kesehatan kamu dengan baik, dan Bunda juga mengatakan agar kamu tidak terlalu lelah dalam bekerja,” ucap Hero yang tentu langsung dijawab anggukan oleh Alina.


Alina lalu menaruh makanan itu di tempat yang aman, ia hendak mengerjakan pekerjaannya. Tapi ucapan Hero berhasil membuatnya menghentikan aktifitasnya.


“Makan, Bunda memintaku agar kamu memakan makanan itu.”


Alina yang mendengar itu, mau tak mau ia langsung menatap Hero dengan tatapan herannya. “Tapi saya sudah sarapan pagi ini, Dok,” jawab Alina. Ia bukan tidak menghargai kebaikan Hanny, tapi karena suasana hatinya yang tidak baik, belum lagi Alina memang benar-benar sudah sarapan walau ia tidak terlalu banyak memakan sarapannya itu.


“Itu terserah kamu,” nada acuh dan tak peduli kini Hero ucapkan.


Alina ingin memakan makan itu siang hari saja, tapi karena ia tiba-tiba teringat jika mungkin makanan itu dibuat dengan penuh antusias dari Hanny. Maka Alina memilih memakan makanan itu walau hanya sedikit, setidaknya Alina berusaha untuk menghargai kebaikan Hanny.


“Jika memang kamu sudah merasa kenyang kenapa kamu memakannya?”


“Saya hanya ingin menghargai jerih payah dari orang yang telah berniat baik dan tulus pada saya. Dan tolong sampaikan terima kasih saya pada Bunda Dok,” jawab Alina yang ucapannya seakan tidak bisa untuk dibalas oleh Hero lagi.


Tapi beberapa saat kemudian, Hero angkat suara.


“Kenapa tidak kamu katakan langsung saja rasa terima kasih kamu itu?”


“Baiklah.”


#####