
Alina kini sedang berdiri di sebuah bandara.
Sahabat baiknya, Belvita. Dia akan datang ke negara Z. Wanita itu akan menetap dan bekerja di rumah sakit milik keluarga Alina.
Mengingat jika dirinya tidak akan mengalami yang kesepian lagi karena memiliki teman curhat, Alina yang mengingat itupun menjadi senang.
Sama seperti Belvita yang menyayangi Alina, Alina juga sangat menyayangi sahabatnya itu.
“Alina sayang,” Belvita dengan lebaynya berteriak dan langsung memeluk Alina. Pelukan itu Alina terima dengan sangat erat, hingga Alina beberapa kali memukul Belvita agar melepaskan pelukannya itu, setelah melepaskan pelukan itu, justru kini Belvita mencubit pipi Alina dengan gemas, sesekali ia akan mengusel-ngusel pipi Alina menggunakan kedua tangannya.
Alina yang diperlakukan seperti itu tentu merasa tak nyaman, ia dengan segera melepaskan tangan Belvita dari pipinya.
“Kenapa sayangku? ada apa?” tanya Belvita dengan nada lebaynya. Ia kini terlampau senang karena bisa bertemu dengan Alina lagi, sahabat, teman curhat, dan sudah seperti keluarga bagi Belvita.
“Ini bukan dinegara kita yang dulu bel, orang-orang pasti akan berfikir yang tidak-tidak tentang kita,” ucap Alina menjelaskan. Ia sedikit malu karena kini dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang.
Untungnya setiap kemana-mana Alina akan selalu memakai topi dan masker, jadi Alina memang tidak terlalu peduli dengan tatapan orang lain yang akan membuatnya kadang merasa risih.
“Oh iya hehehehe. Maaf kesayanganku, aku hanya merasa sangat amat senang karena bisa bersama dengan kamu. Benar-benar sangat senang deh bisa bertemu lagi dengan sahabat yang sangat baik ini,” ucap Belvita masih dengan nada lebay, terdengar seolah sedang bersikap manja pada Alina.
Tidak ada yang tahu apa yang sudah Belvita lalui selain Alina, karena sepertinya hanya Alinalah yang Belvita percayai. Mungkin Alina bukanlah orang pertama yang dipercayai oleh Belvita, karena dulu Belvita juga pernah bercerita tentang kehidupannya pada orang lain, yaitu pacarnya sendiri.
Hanya saja, lelaki yang menjadi kekasih dari Belvita itu berkhianat, hingga membuat seorang Belvita tidak percaya lagi akan namanya laki-laki.
“Ayo kita pulang,” ajak Alina langsung.
...*****...
“Beb, rumah kamu kok bagus banget. Gila ya! ini sudah kayak istana di negeri dongeng tahu,” ucap Belvita yang sedikit pecicilan.
Berbeda sekali dengan ekspresi saat Alina pamit pada Belvita waktu itu, kini Belvita yang memang selalu bersikap seadanya dan selalu heboh sendiri mulai menunjukkan tingkahnya itu.
“Kamu juga 'kan anak orang kaya, kenapa harus seheboh itu?” tanya Alina tak mengerti.
“Iya, ayahku memang sangat kaya, tapi ibuku biasa saja. Kebetulan aku hidup dengan ibuku tapi tidak dengan ayahku, lelaki itu bahkan tidak pantas untuk disebut seorang ayah,” ucap Belvita yang sedikit menunjukkan wajah murungnya.
“Sudahlah, jangan bahas masalah itu,” ucap Alina yang hanya ditanggapi dengan sebuah senyuman.
Alina sempat meminta izin pada kedua orangtuanya tentang niatnya yang akan menyiapkan kamar untuk Belvita, selama beberapa hari ini rencananya Belvita akan tinggal di sini.
Tentu sebagai orang tua, Amina dan Setoni setuju. Selagi hal itu membuat anaknya nyaman dan tidak berpengaruh buruk, mereka akan setuju.
...........
“Kamar kamu di sini, tepat di samping kamarku,” ucap Alina yang langsung membuka pintu kamar itu. Karena Belvita menolak untuk tinggal di kamar Alina, maka Alina menempatkan Belvita di kamar tamu.
Untuk sejenak Belvita merasa tertegun, kamar yang akan ia tempati 3 kali lipat dari kamarnya yang dulu. Ini benar-benar berlebihan untuknya, tapi karena ini memang ukuran kamar tamu di rumah keluarga Angkasa, jadi Belvita tidak bisa untuk menunjukkan rasa sungkannya itu.
“Setelah aku mendapat tempat yang akan aku tepati, aku akan segera pindah,” ucap Belvita yang merasa tidak nyaman jika harus merepotkan Alina.
“Apa kamarnya kurang membuat kamu nyaman? atau ada sesuatu hal yang harus di rubah?” tanya Alina yang langsung dijawab dengan gelengan.
“Bukan begitu, hanya saja ini terlalu mewah untuk aku, jadi aku merasa agak kurang nyaman,” jujur Belvita.
“Santai saja, kamu mau istirahat dulu?” tanya Alina.
Belvita hanya menggeleng.
Akhirnya setelah merapikan barang-barang Belvita, Alina mengajak Belvita untuk ke ruang keluarga.
...........
Di hari kedua ini, Alina tidak bekerja lagi. Ia sedikit bingung untuk memikirkan alasan apa yang cocok untuk tidak bekerja di rumah sakit Cendana lagi.
Alina berniat untuk bekerja di rumah sakit Angkasa untuk sementara waktu, tapi alasan apa yang cocok untuk Alina katakan?
Sebenarnya Alina sedikit trauma dengan Hero, ia memang tahu jika Hero tidak mencintainya, tapi saat itu Alina berfikir jika Hero masih memberi Alina kesempatan untuk membuat lelaki itu mencintainya.
Tapi ternyata Hero justru menganggap Alina sebagai Adiknya?
Jadi apa yang harus Alina lakukan untuk saat ini?
“Lina,” panggilan yang sering Belvita ucapkan setiap mereka sedang berdua. Itu panggilan sayang Belvita pada sahabatnya Alina.
“Iya?”
“Apa tidak ada sesuatu yang harus aku kerjakan gitu? seperti cuci piring atau cuci baju?” ungkap Belvita serius tapi juga terlihat bercanda di saat bersamaan.
“Ada, cuci baju kamu ya,” jawab Alina yang ikut balas bercanda.
Setelahnya mereka berdua pun tertawa cukup kencang. Beberapa pelayan yang sedang lewat dan melihat itu, mereka tanpa sadar ikut tersenyum dengan kedekatan Alina dan temannya.
“Ada apa ini, kenapa pada ketawa?” tanya Eron yang tiba-tiba datang.
“Kamu siapa?” tanya Eron lagi. Ia merasa sedikit terpesona dengan sosok Belvita yang terlihat manis, sangat manis.
“Teman Alina,” jawab Alina dengan nada malasnya.
“Kenalin sama kakak dong,” pinta Eron tanpa rasa malu.
“Belvita namanya, udah nggak usah kenalan sama Kakak, tukang bawa pengaruh buruk” jawab Alina cuek. Ia tidak peduli dengan wajah Eron yang kini merasa kesal dengan ucapan Alina itu.
...*****...
Keesokan harinya.
2 hari sudah Alina tidak masuk kerja, ini memang keterlaluan. Seharusnya dia tidak seperti ini, karena walau tidak siap Alina harus menghadapi masalah ini. Dan Alina bertekad, jika ia akan mengundurkan diri secara langsung. Itu pemikiran sesat yang Alina pikirkan tanpa berfikir panjang lagi.
Memasuki ruangan Hero, Alina hari ini berniat untuk mengundurkan diri di rumah sakit Cendana. Tidak seperti biasanya, lelaki yang bernama Hero tidak berada di ruangannya. Padahal jelas sekali jika Alina telah datang tepat waktu.
“Dokter Hero sedang menangani pasien operasi,” ucap Syela terdengar sinis.
Wanita itu terlihat memandang Alina tak suka, ia seakan memandang Alina itu seperti musuhnya.
Syela adalah Dokter yang selama ini sangat mencintai Hero, dan selalu menganggap Alina sebagai saingannya sejak pertama kali Alina datang.
“Kalau begitu saya akan menunggu,” ucap Alina yang dijawab dengan alis bertaut dari Syela. Jelas, tatapan sinis Syela semakin kentara.
“Kenapa harus menunggu? bukankah kamu bekerja di sini?” tanya Syela heran. Ia sebenarnya merasa tidak suka dengan kehadiran Alina, karena dengan adanya Alina ia kesulitan untuk berdekatan dengan Hero.
“Lalu mengapa Anda di sini jika tidak memiliki kepentingan?” tanya Alina yang berhasil menohok Syela.
“Kata siapa aku tidak memiliki kepentingan? aku sengaja datang ke sini karena ingin membawa bekal makanan ini untuknya,” ucap Syela terdengar sombong, Syela langsung menaruh bekal itu begitu saja.
Sebelum meninggalkan ruangan Hero, Syela menatap ke arah Alina dengan tatapan tajamnya disertai senyum sinisnya.