
“Kak, Raihan mengajak berjabat tangan. Bukankah tidak sopan jika harus mengabaikannya begitu saja?”
“Bunda menyuruhku mencari kamu, dia khawatir karena tidak biasanya jam segini kamu belum pulang.”
“Maaf Kak, Alina nggak tahu kalau akan membuat Bunda khawatir. Ini juga salah Alina karena tidak izin pada Bunda lebih dulu.”
Raihan yang sadar jika dirinya diabaikan, ia hanya bisa menarik uluran tangannya itu. Raihan tersenyum ramah yang terlibat bisa membuat orang-orang meleleh saat melihat senyumnya itu.
“Sangat senang bisa bertemu dengan suami Alina. Dari dulu padahal saya sangat penasaran tentang orang yang Alina sukai sejak SMP. Ternyata Anda orangnya,” kata Raihan yang sepertinya tak digubris oleh Hero.
“Kak, Raihan sedang bicara dengan Kakak.”
“Saya tahu, tapi saya tidak peduli.”
Sikap acuh Hero membuat Alina berfikir jika Hero sedang cemburu. Tapi saat berfikir ulang, rasanya itu tidak mungkin. Bagaimana Hero cemburu sedangkan ia saja tidak memiliki perasaan padanya.
“Raihan, kami pulang ya,” pamit Alina yang hanya dijawab anggukan oleh Raihan.
“Tolong jaga baik Alina tuan Hero, karena banyak sekali orang yang menginginkan dirinya. Hanya saja, dia tidak pernah sadar akan hal itu.”
Secara terang-terangan Raihan mengatakan itu, tapi respon Hero hanya mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan acuhnya.
“Genggamlah selagi masih ada, jangan sampai sesuatu yang telah Anda genggam ini lepas karena kesalahan Anda.”
Hero yang mendengar Raihan banyak berkata-kata, ia langsung menunjukkan tatapan datar yang terlihat tajam.
Tanpa diduga, Hero langsung meraih tangan Alina dan membawanya pergi dari hadapan Raihan.
“Suatu saat, ada fase dimana kamu menerima cinta dari orang yang kamu sayang Alina.” Tatapan yakin dan sedikit terluka Raihan perlihatkan. Setelahnya ia lalu tersenyum dengan tulus.
****
Alina yang kini sedang berada di mobil yang sama dengan Hero. Alina tidak berani berkata apa-apa, suasana mobil sangat dingin dengan Hero yang tanpa sadar menunjukkan ekspresi tak bersahabatnya.
“Kak,” panggil Alina.
Hero hanya diam dan fokus menyetir, sesekali Hero melirik seakan bertanya pada Alina.
“Kakak marah pada Alina?”
“Tidak!” tegas Hero.
“Terus kenapa hanya diam saja?”
“Bukankah saya memang orang yang seperti itu?”
“Tuh 'kan, Kakak sampai menggunakan kata-kata formal saat ini.”
“Saya tidak marah, saya hanya tidak suka saat melihat orang yang banyak berkata-kata.”
“Maaf, Raihan memang orang yang seperti itu. Tapi dia baik, mungkin karena khawatir dia sampai berbicara seperti itu.”
Hero tidak berkata apa-apa, ia hanya diam dan fokus menyetir.
*****
“Sayang, kemana saja?” tanya Hanny yang terlihat menatap Alina dengan tatapan khawatirnya.
“Bunda, Alina lupa untuk kabarin Bunda tadi. Maaf,” ungkap Alina merasa bersalah.
Alina sangat tidak menyukai saat orang yang ia sayang merasa khawatir padanya. Itu akan membuatnya merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, yang terpenting kamu baik-baik saja.”
“Ayo makan, Bunda baru selesai siapkan makan malam untuk kita.”
Alina dan Hanny langsung berjalan menuju ruang makan, tapi beberapa langkah Alina berjalan, ia mendadak menghentikan langkahnya itu.
“Kak ayo kita makan!” ajak Alina pada Hero yang hanya diam.
Hanny yang sadar jika lupa untuk mengajal anaknya sendiri, ia sampai tepuk jidat saking hanya fokus pada menantunya itu.
Sepanjang acara makan malam itu, suasana hening. Bahkan setelah acara makan malam selesai, suasana masih hening.
“Mau ke mana?” tanya Hanny heran saat melihat Hero bangkit dan hendak melangkah.
“Ada beberapa dokumen yang harus Hero cek hari ini.”
Melihat jika raut wajah Hero sedang kurang baik. Hanny hanya mengangguk sebagai respon mengerti.
Melihat jika anaknya telah memasuki kamarnya, Hanny sontak menatap Alina dengan tatapan heran seakan sedang bertanya.
“Ada apa?” tanya Hanny yang dijawab gelengan.
“Mungkin karena tadi Kak Hero sempat bertemu dengan Raihan yang banyak bicara padanya. Hal itu membuat Kak Hero tak suka dengan perkataan Raihan itu.”
Alina menjelaskan kejadian tadi, ia bahkan sampai Hero abaikan. Lelaki itu hanya diam dan tidak berkata apa-apa sepanjang perjalanan.
“Atau jangan-jangan dia sedang merasa cemburu?”
“Tidak mungkin Bunda, Alina jelas bisa melihat jika tatapan Kak Hero masih sama. Tidak ada Alina di mata Kak Hero, hanya ada orang yang ia cintai di masa lalu.”
“Kamu ini sayang, jangan berfikir seperti itu. Mungkin saja Hero memang telah memiliki perasaan untuk kamu. ”
*****
Keesokan harinya.
Alina berjalan memasuki rumah sakit Cendana. Di tengah jalan, ia langsung dihadang oleh Andrean yang berdiri tepat dihadapan Alina.
“Alina,” panggil Andrean yang langsung menatap ke arah Alina.
“Kata dokter baru itu kamu sudah menikah? apa itu benar?” tanya dokter Andrean dengan tatapan yang kentara berharap jika ucapan Raihan padanya waktu itu hanyalah candaan belaka.
“Dokter Andrean, maaf saya tidak mengerti dengan apa yang Anda katakan.”
“Dokter baru bernama Raihan itu mengatakan pada saya jika Anda telah menikah dan menjadi istri seseorang. Tapi saya yakin jika itu tidak benar, dan mungkin saja itu hanya karangan dari dia saja.”
“Raihan?”
“Karena saya suaminya,” ucap seseorang yang langsung membuat Alina dan Andrean menoleh.
Melihat jika yang mengatakan itu adalah Raihan, Alina hanya menatap datar pada sahabatnya itu.
“Omong kosong apa ini! jelas-jelas Anda hanya dokter baru, Anda tidak mengena betul Dokter Alina. Jadi bagaimana kalian menikah? kapan dan dimana?”
“Itu urusan saya pribadi, lalu mengapa Anda yang terlihat repot.”
“Kamu!!”
“Sudahlah Raihan, berhenti bercanda. Dokter Andrean, Raihan ini sahabat sekaligus teman masa kecil saya, dia orang yang memang sangat suka bercanda. Jadi saya harap jika Anda tidak akan menganggap serius kata-katanya ini.”
Perkataan Alina entah mengapa membuat Andrean lega, ia langsung pamit begitu ingat jika ada yang harus ia kerjakan.
“Kenapa kamu harus mengatakan jujur. Bukanlah tadi sangat lucu ekspresinya itu? benar-benar tidak pernah terbayangkan akan jadi seperti apa saat dia tahu kalau kamu memang sudah menikah.”
“Tapi bukan kamu suaminya.”
“Aku juga nggak berharap kamu yang bakal menjadi istrinya.”
“Kak,” panggilan suara yang langsung menghentikan acara perdebatan itu.
Alina dan Raihan sontak langsung menoleh. Ternyata yang memanggil mereka dengan sebutan Kak' itu tak lain adalah Caca.
Tentu panggilan itu hanya ditunjukkan pada Alina dan bukan itu Raihan.
“Sayang, kamu ada di sini?” tanya Alina heran.
Caca hanya mengulurkan tangan seolah meminta untuk segera digendong. Alina yang melihat itu langsung tersenyum dan menggendong Caca langsung.
Terlihat jika Alina menatap sayang dan perhatian pada Caca. Alina sangat menyukai anak itu, tidak peduli jika orang-orang menganggap Caca nakal