Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#32 Menangani pasien yang terkena wabah



Hari ini, adalah hari dimana Alina akan membantu dan terjun langsung untuk mengecek keadaan di desa yang terkena wabah dan penyakit.


Jika ditanya kenapa mereka semua tidak berobat ke rumah sakit saja? jawabannya karena di desa itu tidak ada rumah sakit dan jarak rumah sakit dari desa itu sangat jauh, bahkan untuk pengobatan saja sangat kurang memadai.


Dokter? alasan Alina dan dokter yang lain di utus ke sini adalah karena dokter di sini sangat sedikit, sedangkan penyakit yang menyebar itu banyak.


“Sabar ya Bu, ibu pasti kuat, ayo akan saya antar untuk menemui dokter,” ucap Alina yang langsung membantu seorang ibu yang terlihat kesakitan karena ia terjangkit sebuah penyakit.


Dari gejalanya ibu itu terlihat memiliki bintik-bintik merah, dan terlihat jika ibu itu terus saja mengeluh gatal.


“Ayo dok, cepetan saya sudah nggak kuat ini,” ucap ibu itu terdengar memaksa.


Alina yang dipanggil dengan sebutan Dok' atau lebih tepatnya ia seolah menyandang status dokter, dan panggilan itu disebut langsung oleh salah satu pasien kepada dirinya, Alina yang mendengar itu merasa sangat senang, ada sesuatu hal tersendiri yang membuatnya merasa semangat semakin bersemangat untuk membantu.


...*****...


Hari berikutnya.


Alina terlihat hanya diam, ia memperhatikan seorang Hero yang kini sedang mengobati pasiennya.


Alina tidak menyangka jika Hero juga akan ikut ke desa terpencil ini. Apalagi dengan status Hero yang merupakan dokter bedah tidak seharusnya ada di sini, tapi lelaki itu memaksa untuk ikut membantu.


Dan ternyata benar, ada beberapa pasien yang memiliki ruam dan gatal, mungkin karena terlalu gatal dan terus mereka garuk hingga luka dan sedikit bernanah karena terinfeksi.


“Jangan sering digaruk, justru hal itu akan semakin membuat luka ini menjadi parah dan akan sangat lama untuk sembuh,” kata Hero memberikan saran layaknya Dokter profesional.


Hero memang terlihat mahir, seolah tidak kesulitan saat menangani banyaknya pasien. Padahal, dari tadi tak henti-hentinya pasien datang, tapi seolah tak merasa lelah, Hero masih terlihat segar dan tidak terlihat lesu sama sekali.


“Tapi dok, ini sangat gatal. Benar-benar gatal, saya nggak sanggup harus menahan rasa gatal ini,” ucap pasien itu menjawab dengan nada mengeluh.


“Anda bisa oleskan salep ini pada luka, jika terasa gatal harap tahan sedikit, beberapa menit kemudian akan merasa lebih mendingan,” ucap Hero lagi.


Berbeda sekali saat Alina melihat Hero yang sedang diam dan menatap laptopnya dengan Hero yang sekarang, lelaki itu kini terlihat sangat mempesona, hingga Alina bisa berfikir jika ia pasti akan merasa sangat sulit untuk melupakan lelaki itu.


Dan Alina telah membulatkan tekad untuk mengejar laki-laki itu secara terang-terangan.


Alina tidak peduli jika nanti orang-orang hanya menganggap Alina sebagai wanita yang sedang mengejar Hero, tanpa orang-orang tahu jika Alina dan Hero itu suami istri .


“Terima kasih dok,” ucap wanita itu.


Beberapa menit kemudian, datang seorang anak kecil yang terlihat bentol-bentol dan sedikit bernanah karena terluka akibat digaruk terus menerus.


Ibu dari Sang anak yang berusia 5 tahun itu terlihat berusaha menenangkan anaknya yang terus saja mengeluh sakit dan gatal.


“Ibu sakit Bu, bantu Caca. Caca nggak mau sakit kayak gini,” teriak anak kecil itu sambil menangis.


“Iya sayang, sabar ya. Kita periksa ya, makanya kamu juga jangan terus menggaruk bentolan itu,” ucap Si Ibu dengan nada lembutnya.


“Caca merasa gatal Bu, sangat gatal. Caca juga nggak mau diperiksa Bu, takut ...,” lirih anak kecil yang tak lain bernama Caca itu, ia melingkarkan kedua tangannya dileher ibunya seolah takut untuk turun.


Alina yang melihat itu, ia merasa terketuk. Ia juga ikut merasa sedih dengan keadaan anak itu, apalagi luka akibat bentol itu sedikit memprihatinkan.


“Adik, siapa nama kamu?” tanya Alina disertai senyum ramah.


Anak yang merengek itu mendadak berhenti merengek, ia lalu diam dan menatap wajah cantik Alina.


“Kakak dokter? mau suntik Caca 'kah? Caca nggak mau disuntik, Caca takut,” lirih anak kecil ini.


“Nggak bakal disuntik kok, Caca tenang aja. Kamu suka coklat?” tanya Alina yang langsung diangguki oleh Caca dengan semangat.


“Kakak mau kasih coklat ini ke kamu sebagai bentuk hadiah, asal dengan syarat kamu mau diperiksa ya, nggak akan sakit kok,” ucap Alina yang terus saja membujuk anak itu.


“Kalau nggak, Kakak temani kamu juga deh, ayo biar Kakak yang gendong kamu. Mau 'kan?” Alina lalu mengulurkan kedua tangannya ke arah Caca.


Awalnya Alina berfikir jika anak yang bernama Caca itu akan menolaknya karena tidak kenal dengan dirinya, tapi tanpa diduga. Justru anak bernama Caca itu langsung mengulurkan tangan dan meminta digendong padanya.


Tanpa ragu Alina langsung menggendong Caca, ibu dari Caca bahkan sampai heran dengan Alina. Tidak 'kah Alina merasa jijik atau takut tertular? tapi respon Alina yang terlihat santai itu seakan mengatakan Alina tidak mempermasalahkan hal itu.


Seakan sudah akrab begitu saja, Caca langsung merasa nyaman dekat dengan Alina.


Bahkan sepanjang proses perawatan yang dilalui, tak henti-hentinya Caca terus menjawab pertanyaan Alina yang seolah mengalihkan Caca dari rasa takut dan sakitnya.


“Selesai,” ucap Hero yang membuat kedua orang berbeda usia itu menoleh.


“Sudah selesai dok?” tanya Alina yang langsung Hero jawab dengan anggukan.


“Kenapa nggak sakit?” tanya anak yang bernama Caca itu. Ia bahkan tak sadar jika ia terlalu fokus mengobrol dengan Alina hingga tidak merasa sakit saat sedang ditangani.


Hero yang mendengar pertanyaan polos itu, ia hanya tersenyum. Senyum yang terasa kaku karena sudah sangat lama sekali ia tidak tersenyum, entah sudah berapa lama Hero tidak tersenyum bahkan dirinya tak ingat.


“Itu karena Caca kuat, Caca hebat karena tidak menangis saat sedang diobati,” ucap Alina yang tersenyum lebar.


Caca balas tersenyum senang.


Alina lalu membawa Caca kepada ibunya, ia memberi coklat pada Caca sesuai janjinya.


“Jangan terlalu banyak makan coklat ya sayang, usahakan untuk makan coklat sejarang mungkin,” ucap Alina memberikan coklat berukuran sedang pada Caca.


Caca menerima itu sambil tersenyum, ia lalu menatap Alina dan diam sejenak.


“Untuk Kakak, hadiah dari Caca. Terima kasih karena telah temani Caca.” Tanpa Alina duga sama sekali, anak yang bernama Caca itu memberikan kembali coklat itu pada Alina.


“Kalau Kakak nggak suka, Kakak bisa kasih coklat ini pada dokter tampan tadi,” kata Caca lagi saat melihat Alina hanya diam.


Alina diam karena ia tak menyangka Caca akan memberikan coklat itu lagi padanya.


“Kenapa Kakak hanya diam?” tanya Caca lagi yang langsung menyadarkan Alina dari lamunannya itu.


“Ah tidak. Terima kasih atas niat baiknya,” ucap Alina tulus. Caca yang mendengar itu hanya mengangguk semangat.


“Terima kasih juga dokter baik, Kakak cantik jangan lelah ya jadi orang baik,” kata-kata yang tanpa sadar akan menjadi hal yang Alina ingat seumur hidupnya.