Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#40 Sepasang gantungan kunci



Hari ini, Alina memasak menu makan kesukaan Hero. Menurut yang Alina dengar dari Hanny. Hero sangat menyukai pasta buatan ibunya.


Maka itu, Alina dengan berusaha keras memasak pasta untuk Hero. Walau Alina tidak tahu apakah Hero akan menyukai pasta itu atau tidak. Yang jelas kini Alina sudah berniat untuk memberikan itu langsung.


Tidak seperti biasanya Alina selalu menitipkan menu makan yang ia buat untuk Hero, itu tak lain karena Alina ingin memberikan waktu untuk Hero bisa bebas sementara waktu darinya.


Untuk sekarang, jangan harap Hero akan bebas dari bayang-bayang dirinya.


“Mau ke mana Nyonya Muda?” tanya seorang supir yang biasanya selalu mengantar Alina kemanapun ia pergi


Supir itu bernama Pak Broto, lelaki yang hampir berkepala lima. Tapi terlihat sangat energik seakan ia selalu semangat bekerja demi mencari uang untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya.


“Mau ke rumah sakit Cendana Pak. Bapak tahu 'kan dimana rumah sakit suami saya?” tanya Alina yang langsung diangguki oleh Broto.


“Alina kira bapak nggak tahu dimana tempat Kak Hero kerja,” ungkap Alina disertai dengan senyum ramahnya.


Entah mengapa, semenjak menikah raut wajah dan aura Alina terlihat dewasa, ia juga kini semakin mempesona. Seakan Alina bisa saja membuat orang-orang yang melihatnya akan merasa terkesiap.


“Nggak mungkin Nyonya Muda, masa saya nggak tahu tempat kerja majikan saya sendiri,” ujar pak Broto dengan senyum khasnya yang ramah.


“Hahaha, benar juga.”


Setelahnya obrolan itu terhenti, dengan Broto yang fokus pada aktivitasnya mengendarai mobilnya.


Sedangkan Alina hanya diam dengan pandangan yang tak lepas dari kotak makan yang sedang ia bawa.


Alina tidak tahu Hero akan menyukai masakannya atau tidak, karena jujur saja Alina sangat lambat dalam memasak. Padahal Alina sudah belajar pada guru profesional yang ahli, tapi nyatanya ia masih saja lambat dan tidak pandai memasak. Itu tak lain karena dalam segala hal, Alina memerlukan lebih banyak waktu agar bisa dan mahir.


Sebelum ke perusahaan, Alina yang melihat beberapa aksesoris yang sering dijual dipinggir jalan. Ia yang melihat itu merasa ingin membelinya.


“Pak, boleh berhenti sejenak?” tanya Alina yang langsung membuat Broto terheran.


“Ini masih ditengah jalan Nyonya Muda, kenapa meminta untuk berhenti?” tanya Broto yang terkesan sangat heran.


“Berhenti saja Pak, ada yang ingin saya beli,” ucap Alina yang langsung diangguki oleh Pak Broto.


Saat Alina keluar, terlihat jika ia langsung menjadi perhatian karena keluar dari mobil mewahnya. Penampilannya yang nampak anggun seakan bisa menghipnotis siapa saja, tapi sayangnya penampilan itu belum bisa membuat Hero juga terhipnotis.


“Ini berapa?” tanya Alina yang langsung membuat pedangan aksesoris itu menoleh.


Baru pedagang itu lihat secara langsung jika ada seorang wanita cantik dan kaya datang membeli dagangannya. Setidaknya meski ada yang ingin membeli dagangannya, kebanyakan akan menyuruh pelayan atau supirnya.


“Itu tiga puluh ribu,” ujar pedagang itu.


“Ada pasangannya juga? Alina ingin beli satu lagi,” ujar Alina yang langsung dijawab anggukan oleh si pedagang itu.


“Ada, sebentar akan saya cari.”


Beberapa menit kemudian, ditemukan pasangan dari gantungan tas atau bisa juga untuk gantungan kunci.


Sebenarnya gantungan itu tidak terlalu penting untuk Alina, karena Alina juga tidak bersekolah lagi. Hanya saja Alina sangat suka mengoleksi barang-barang yang menurutnya terlihat lucu dan menggemaskan. Jadi barang itu bisa saja Alina kaitkan dibarang yang menurutnya penting.


“Yang pasangannya ini harganya lima puluh ribu, tapi jika Anda mau beli tiga, akan saya beri diskon menjadi seratus ribu,” ucap pedagang itu.


Alina yang tertarik akan gantungan itu, ia langsung saja mengangguk tanpa protes apapun. Alina tidak bisa menawar, ia bahkan tidak pernah menawar dagangan.


Tapi sepertinya pedagang itu baik dan memberi Alina sebuah diskon.


“Terima kasih,” ucap Alina yang langsung diangguki oleh pedagang itu.


Menatap ketiga gantungan yang ia beli, Alina tersenyum dengan sangat senang.


Motif gantungan tas yang Alina beli ada tiga jenis, dan setiap jenis itu memiliki karakter tersendiri.


Melihat ke salah satu aksesoris, Alina mengingat tentang sahabatnya yang telah tiada. Alicia.


Flashback


Saat itu, terlihat jika dua remaja yang duduk di bangku SMA. Mereka kini terlihat baru saja akan pulang dari sekolah.


“Cia, itu bukannya pedagang aksesoris? ayo kita ke sana!, di sana pasti ada gantungan tas yang cantik,” ajak Alina pada sahabatnya itu.


“Boleh, tapi kamu yang bayar ya, uang aku habis,” canda Alicia tapi langsung diangguki oleh Alina.


“Nggak, becanda kok. Untuk beli aksesoris, aku masih memiliki uang. Jadi tidak perlu untuk kamu yang membayar itu,” ucap Alicia sambil tersenyum.


“Nggak apa-apa, uang itu tabung saja buat kamu nanti, aku ada sisa dari uang saku kok,” jawab Alina yang langsung diangguki oleh Alicia.


Alina dan Alicia lalu membeli sebuah gantungan. seperti biasa, Alina selalu membeli gantungan yang berpasangan.


Dua buah gantungan itu, satu yang bermotif beruang berwarna coklat dan satu lagi berwarna putih. Hal itu seakan menandakan jika Alina selalu ingin bersama dengan pasangan hidupnya.


“Kenapa tidak kamu beli yang berpasangan saja?” tanya Alina menatap heran.


“Tidak, aku sangat suka dengan rubah, menurut aku itu lucu dan menggemaskan.”


“Oh ya sudah, aku bayar ya,” ucap Alina yang tentu hanya dijawab anggukan.


Saat mereka hendak pulang, tiba-tiba Alicia menatap Alina dan bersuara. “Aku sangat suka gantungan boneka yang berpasangan tadi, boleh aku memintanya dari kamu?” tanya Alicia


“Kenapa tidak kamu ambil gantungan yang tadi saja, bukankah ada yang berpasangan lagi?” Alina seakan tidak rela jika benda yang ia sukai harus diberikan begitu saja.


Mungkin Alina terlihat sudah dewasa, tetapi pemikiran polosnya itu belum hilang. Masih ada ego dimana ia tidak ingin memberikan begitu saja barang miliknya.


“Aku nggak suka dengan gantungan pasangan tadi, karena yang tersisa hanya sapi dan kambing saja,” ujar Alicia menjelaskan.


“Baiklah.”


Alina memilih mengalah, lagipula ia tidak ingin jika harus bertengkar hanya karena barang sepele. Alina berfikir ia masih ada kesempatan untuk membeli itu lagi.


“Kenapa hanya satu?” tanya Alina saat melihat Alicia hanya mengambil satu gantungan miliknya saja.


Beruang coklat yang merupakan pasangan dari Si Beruang putih betina.


“Nggak, itu kamu bisa simpan saja. Biar aku yang akan menyimpan gantungan beruang yang ini. Boleh 'kan?” tanya Alicia yang hanya bisa Alina angguki.


Jadi, setelah itu Alina hanya menyimpan gantungan beruang putih yang biasanya selalu identik dengan beruang betina. Sedangkan Beruang coklat sering diidentikkan dengan beruang jantan.


“Makasih Alina, kamu benar-benar sangat baik,” ujar Alicia dengan tatapan yang terlihat menatap Alina dengan tak lepas.


Itu bukan tatapan benci atau marah, tapi entahlah, apa maksud dari tatapan itu hanya Alicia saja yang tahu.


Flashback end.


“Kita nggak jadi ke rumah sakit Cendana Nyonya?” tanya Broto yang langsung membuat lamunan Alina tersadar.


“Ah ya, tentu saja jadi. Ayo pak, maaf Alina lupa.”


Broto tidak berkomentar, ia hanya mengangguk, mereka lalu langsung berjalan menuju rumah sakit Cendana.