
Hero tahu jika ibunya semakin hari semakin acuh dan datar padanya, dan itu tak lain karena ibunya masih marah padanya.
Hanny marah pada Hero karena tidak bisa membujuk menantunya untuk kembali. Selain itu, meskipun dia kadang bersikap lunak pada anaknya, masih ada rasa marah yang terlihat di wajah Hanny setiap ia menatap ke arah Hero.
“Sayang sekali, saya kira Tuan Hero belum memiliki seorang istri,” komentar seorang rekan bisnis Bram.
“Kamu ini gimana sih Shin, kamu kira kamu bakal bisa dibandingkan dengan keluarga Angkasa? tidak bukan?! jadi jangan berkhayal terlalu tinggi bisa berdampingan dengan keluarga Sanjaya,” komentar rekan bisnis Bram yang lain.
“Sialan kamu Ron! aku tahu aku tidak sebanding dengan keluarga Angkasa apalagi dengan keluarga Sanjaya, tapi setidaknya itu akan jadi keberuntungan bagi keluarga kami jika Tuan Hero tertarik pada anak perempuanku.”
Bram yang mendengar perdebatan sengit dengan di sertai candaan itu, ia hanya tersenyum formal tanpa berkata apapun.
Sementara itu, Hero hanya diam dengan tatapan yang tak lepas dari seseorang yang terus ia perhatikan sejak tadi.
Orang itu tak lain adalah Alina, wanita itu sepertinya terlihat tak nyaman berada di acara ini. Entah siapa yang membuat Alina datang, tapi ada rasa senang saat dirinya bisa melihat wajah Alina yang manis itu.
Tapi tunggu! manis? sejak kapan Hero mulai merasa Alina terlihat manis? apa kini dirinya sudah sadar dan menyadari bahwa wanita yang sempat mengejarnya itu adalah wanita yang begitu manis dan cantik?
“Kemana saja kamu selama ini Hero, apa kamu baru menyadari jika Alina adalah wanita yang begitu manis dan terlihat sangat cantik?” komentar Hanny yang seolah sadar akan pemikiran Hero.
Sebagai ibunya, Hanny jelas tahu apa yang sedang dipikirkan oleh anaknya saat ini. Dan Hanny yakin Hero sudah mulai mencintai Alina.
“Bun,” tatapan Hero kini terlihat sedikit memelas dan memohon pada ibunya. Hero sudah kehabisan cara agar bisa berbicara dengan Alina walau hanya untuk sekejap saja.
“Jangan memohon pada Bunda seperti itu Hero, Bunda tidak tahu bagaimana membujuk Alina! kamu pikir itu hal yang mudah? wanita itu sekarang sudah terlanjur marah dan kecewa sama kamu,” kata Hanny berusaha mengabaikan permintaan anaknya.
Sementara itu.
Alina yang tak nyaman karena terus menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana, banyak tatapan iri dan juga tak suka dari para wanita yang kebanyakan adalah orang yang mengagumi Hero.
Tatapan benci dan tak suka mereka membuat Alina merasa tak nyaman. Kenapa Hero harus mengakui pernikahan mereka di saat Alina ingin mengakhiri pernikahan ini?
“Dasar! ini benar-benar merepotkan,” batin Alina yang merasa kesal dengan keputusan Hero ini. Ia bahkan harus menerima tatapan kebencian dari banyaknya wanita yang menginginkan Hero sebagai suami yang mereka idamkan.
Saat Alina melihat Hanny yang juga sedang menatap ke arahnya, tanpa berkata apapun lagi, Alina langsung saja mendekat.
“Bun,” pelukan hangat langsung Alina berikan.
“Alina sayang, Bunda benar-benar sangat rindu pada kamu,” sambut Hanny yang membalas pelukan Alina dengan tak kalah hangat.
“Maaf, Alina tidak bisa kembali ke rumah itu. Alina harap Bunda nggak akan membenci Alina karena hal ini,” ungkap Alina yang dijawab gelengan oleh Hanny.
“Tidak mungkin Bunda bisa marah pada kamu, itu adalah hal yang tidak mungkin, Bunda jelas sangat mengetahui siapa yang bersalah di sini,” kata Hanny dengan lirikan matanya yang sedikit mendengklik ke arah Hero yang tak henti-hentinya menatap Alina.
Sedangkan Alina hanya mengabaikan laki-laki itu, ia seolah acuh dan tidak peduli dengan Hero lagi. Hal itu membuat Hero sedikit kesal dan tak terima.
“Biar aku antar,” kata Hero yang berinsiatif mengantar Alina pulang.
Dengan tatapan enggan dan sedikit keberatannya itu, Alina hanya diam dan tak mengatakan apapun. Ia jelas ingin menolak tawaran itu, sayangnya Alina tidak tahu harus mengatakan apa untuk menolak tawaran itu.
“Bunda serahkan keputusan itu pada Alina, terserah Alina ingin diantar atau tidak,” kata Hanny dengan pandangan acuh saat Hero menatapnya.
“Bun,” Hero sedikit kesal dengan ucapan ibunya itu. Ia pikir ibunya akan membantu membuat suasana mereka menjadi sedikit lebih akrab.
Meskipun begitu, Hero tidak bisa marah pada ibunya ataupun Alina. Hero jelas sadar jika ini adalah salahnya, dan sesulit apapun Hero untuk mendapatkan Alina, ia akan terus berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan Alina lagi.
“Setidaknya aku ingin memastikan keadaan kalian dalam keadaan baik sampai rumah,” kata Hero yang lagi-lagi hanya di jawab keterbungkaman oleh Alina.
*****
Hingga pada akhirnya Alina hanya bisa pasrah dengan paksaan Hero yang keras kepala ingin mengantar dan memastikan Alina baik-baik saja sampai rumah.
“Kak,” panggil Alina.
Meskipun Alina sedikit enggan untuk berbicara dengan Hero lagi, tapi ada hal yang Alina heran dan ingin ia pastikan lagi.
“Iya? apa ada hal yang kamu perlukan?”
“Tidak! bukan itu,” jawab Alina langsung.
Hero yang mendengar itu hanya diam, ia akan mendengarkan apa yang akan Alina katakan.
“Kenapa Kakak mengumumkan pernikahan kita? dan kenapa harus sekarang? kakak tahu bukan jika kita ini sedang berada di ambang perceraian? Alina bahkan tidak ada pikiran untuk bertahan lagi dengan Kakak.”
“Apa karena itu,” tiba-tiba Hero menghentikan mobil yang ia kendarai. Ia langsung menatap ke arah Alina dengan tatapan dalamnya.
“Aku tahu jika perbuatan yang aku lakukan pada kamu selama ini sungguh keterlaluan. Dan aku paham betul alasan kemarahan kamu padaku, tapi tidak bisakah kita memulai dari awal? demi anak kita,” kata Hero dengan tatapan dalamnya.
Alina yang mendengar itu hanya diam.
Anak? entah kenapa mendengar kata itu Alina hanya bisa bungkam. Apa dirinya salah meminta berpisah? setidaknya perceraian itu akan dilakukan nanti setelah dirinya melahirkan. Tapi entah kenapa saat mengingat anaknya akan hidup ditengah perceraian, Alina merasa bersalah dan sedih.
“Aku tidak akan menceraikan kamu Alina, sampai kapanpun itu,” kata Hero yakin.
Hero tahu dirinya egois karena memikirkan dirinya sendiri. Tapi bagaimana bisa Alina bersikap kejam padanya saat dirinya sudah mulai mencintai wanita dihadapannya ini? Hero rasa dirinya tak akan bisa menanggung kesedihan untuk kedua kalinya.
Hero tak akan sanggup untuk kehilangan wanita yang dicintainya, ditambah lagi dirinya juga akan memiliki anak. Bukankah kebahagiaannya itu seharusnya sudah lengkap? mungkin kini waktunya ia berusaha untuk mendapatkan wanita yang dicintainya ini.