Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#69 Hero cemburu?



Beberapa hari kemudian.


“Mau ke mana?” tanya Hero saat melihat Alina telah rapi dengan mengenakan pakaiannya yang longgar. Sebagai ibu hamil, tentu Alina akan memilih untuk memakai pakaian yang menurutnya terasa nyaman.


“Alina mau pergi ke luar, ada urusan. Kenapa Kakak tidak kerja?” tanya Alina heran.


“Tidak ada hal yang bisa Kakak kerjakan hari ini.”


Tidak ada lagi bentuk keformalan atau kata asing seolah mereka berjarak, karena kini meski masih datar tapi Hero bisa sedikit berbicara santai dengan Alina.


Dan alasan Hero sekarang bisa senggang, itu tidak lain karena Hanny sengaja meminta pada Bram dan pihak dari rumah sakit agar pekerjaan Hero berkurang. Lagipula di perusahaan Hero memiliki asistennya sendiri, dan di rumah sakit pun sama, ada dokter bedah selain dirinya, walau tidak bisa dibandingkan dengan laki-laki itu.


“Oh, kalau begitu Alina duluan. Kalau perlu apa-apa Kakak bisa telpon Alina langsung.”


Sebelum Alina keluar, Hero lantas mencekal lengan Alina. Ia menatap Alina dengan tatapan yang dalam khas miliknya. “Biar aku antar,” kata Hero yang tidak menerima penolakan dari Alina.


Hero langsung saja mengeluarkan mobil kesayangannya itu, mobil yang jarang bahkan hampir tidak pernah di pakai oleh Hero.


“Mau ke mana?” tanya Hero langsung.


“Ke restoran Kak, aku ada janji temu sama Raihan. Ingat 'kan yang aku ceritakan sebagai sahabat aku itu.” Sudah lama Alina tidak bertemu dengan Raihan.


Alina terlihat sedikit berdandan, itu bukan demi Raihan. Tapi karena keinginan Alina akhir-akhir ini yang suka berdandan.


“Kenapa harus memakai make up segala?” tanya Hero dengan tatapan tak sukanya.


Alina menatap Hero dengan tersenyum, hampir saja Alina berfikir jika Hero kini sedang merasa cemburu. Jelas, Hero tak suka Alina berdandan karena itu justru akan membuat Alina mencolok di depan umum.


“Kak, Alina lagi suka berdandan. Mungkin saja, salah satu dari anak kembar kita adalah perempuan, jadi aku suka berdandan.”


“Bukankah tidak perlu memoles lipstik setebal ini,” tanpa diduga Hero menghapus lipstik di bibir Alina.


“Kak!” kesal Alina.


“Itu karena lipstik yang Alina pakai saat ini, memang memiliki warna merah yang cukup mencolok, jadi terlihat tebal,” gerutu Alina yang hanya diabaikan oleh Hero.


“Setidaknya bibir pink alami kamu terlihat lebih baik.”


Kata-kata Hero secara tidak langsung mengatakan jika Alina lebih cocok tidak memakai lipstik, karena bibir pink miliknya tanpa dipoles pun tetap terlihat indah.


“Lebih baik apanya, justru bibir Alina itu terlihat sangat pucat Kak, Alina jadi tidak percaya diri saat bersama dengan Raihan, Alina bahkan berfikir jika mungkin saja dianggap sebagai pembantu dengan penampilan itu.”


“Tidak ada, kenapa bisa kamu berfikir seperti itu? lebih baik tidak usah pakai apapun. Ini perintah!”


“Tapi kan ...,” Alina hendak protes tapi tatapan Hero membuatnya bungkam.


“Aku akan menjemput kamu jika kalian telah selesai. Jangan lupa hubungi langsung.” Meski nada acuh itu yang ia ucapkan, tapi jelas dalam nada itu mengandung rasa peduli Hero pada Alina.


“Iya, I love you Kak,” kata Alina yang hanya dibalas senyum kaku Hero.


“Alina kalau begitu langsung masuk.”


Setelahnya Alina memasuki restoran.


...*****...


Selama dua hari ini, Hero tidak pulang ke rumah sama sekali. Itu terjadi sejak Hero menjemput Alina pulang dari restoran.


Beberapa kali Alina berusaha untuk menghubungi Hero, laki-laki itu tidak sama sekali mengangkat teleponnya.


Beberapa kali Alina mengirim pesan minta maaf pada Hero, ia berfikir jika mungkin saja laki-laki itu sedang marah padanya karena kejadian dua hari yang lalu.


“Jangan terlalu khawatir sayang, Bunda yakin jika Hero baik-baik saja. Jangan terlalu banyak pikiran, Bunda nggak mau kamu kenapa-napa.”


“Tapi Bunda, Alina benar-benar merasa khawatir sama Kak Hero. Apa ini karena Alina yang kemarin bertemu dengan Raihan? jadi Kak Hero merasa cemburu pada Alina?” tanya Alina yang sebenarnya tak yakin dengan apa yang ia tanyakan itu.


Apakah benar Hero cemburu pada Alina? kenapa? apa karena dia adalah istrinya? atau karena Hero benar-benar telah mencintai Alina? tapi kenapa setiap kali Alina berucap I Love you dalam setiap moment, laki-laki itu tidak pernah menjawabnya?


“Mungkin, bisa saja 'kan? kalau begitu Bunda buatkan kamu susu dulu, mau rasa apa?”


Seperti biasa, Hanny adalah tipe ibu mertua yang sangat idaman, ia bahkan sudah seperti seorang ibu kandung bagi Alina. Ia tahu apa yang dibutuhkan oleh Alina.


“Bund, Alina lagi nggak ingin minum susu, besok aja ya?” karena sedang khawatir, tanpa sadar Alina kehilangan mood untuk makan atau minum.


“Nggak bisa gitu sayang, kesehatan kamu itu prioritas utama. Kamu juga pasti peduli dengan anak kamu 'kan? Bunda yakin nggak ada seorang ibu yang nggak peduli pada anaknya sendiri. Jadi mau rasa apa?” meski katanya terdengar memaksa, tapi Hanny selalu berkata dengan nada lembut setiap kali berbicara dengan Alina.


Berbeda sekali saat Hanny berbicara dengan orang lain ataupun dengan Hero. Bahkan saat berbicara dengan Bram suaminya, Hanny tidak berbicara selembut saat dirinya berbicara dengan Alina.


“Iya Bun, Alina mau rasa coklat, maaf ya kalau merepotkan.”


“Kata siapa merepotkan? Bunda justru senang.”


Melihat jika Hanny telah berjalan pergi, Alina yang tiba-tiba mendapat notif dari seseorang, ia tiba-tiba langsung melihat ponselnya.


Sebuah foto, dan di sana terlihat jika Hero sedang tidur, foto yang hanya menunjukkan wajah Hero saja. Seolah hal itu ingin membuat Alina curiga.


Deg'


Emosi yang bercampur gelisah itu kini terasa. Alina yang melihat itu seakan tidak bisa berfikir dengan jernih saat itu juga.


“Kak Hero bukan orang yang seperti itu Alina! kamu tahu 'kan betapa setianya Kak Hero pada mantannya yang sudah meninggal. Ayo coba berfikir positif.”


Karena foto itu hanya menunjukkan wajahnya saja, Alina merasa gelisah, apa yang laki-laki itu lakukan hingga tidak sadar sedang di foto? dan dimana dia sekarang?


“Alina, ini minuman kamu sayang, ayo coba minum.”


Dengan sangat perhatian dan telaten, Hanny lalu membantu Alina minum. Wajah murung dan tidak ingin melakukan apapun, membuat Hanny bergerak cepat untuk membantu Alina.


“Bun, Alina nggak bisa habiskan minuman itu,” kata Alina yang langsung mendorong minumannya itu.


“Kenapa?” gelengan yang Alina berikan membuat Hanny langsung menghela nafas. “Bunda nggak bisa paksa kamu kalau gitu, setidaknya rutinitas kamu tidak terlewatkan. Mau istirahat?” tanya Hanny ketika melihat wajah Alina yang sedikit pucat.


“Iya Bund, Alina sepertinya mau istirahat sekarang.”


Bagaimana bisa Alina mengatakan apa yang ia lihat tadi pada Hanny. Alina hanya tidak ingin jika nanti Hanny akan merasa khawatir padanya.


............


Di kamar.


Ting


Sebuah notif langsung mengalihkan Alina ke dunia nyata, ia yang awalnya sedang melamun langsung menatap ke arah ponselnya itu.


“Sebuah pesan?” tanpa berkata apapun, Alina langsung membuka pesan itu. Dan itu ternyata adalah sebuah alamat.