
Beberapa hari kemudian.
Alina dan keluarganya berencana untuk berlibur sementara di sebuah tempat terpencil. Sebenarnya tujuan liburan mereka bukan karena mereka ingin berlibur.
Melainkan karena keluarga Alina ingin menjauhkan Alina dari Hero. Kedua orangtua Alina dan kedua kakaknya sudah tahu perihal mengenai Hero yang selalu menemui Alina diam-diam.
Bian, yang tahu bagaimana sifat adiknya yang akan mudah luluh pada sedikit saja kebaikan, ia khawatir jika Alina nanti akan memaafkan Hero begitu saja.
Ini memang terdengar egois tanpa tahu perasaan Alina dan kedua anaknya nanti, tapi meskipun begitu Bian tetap berniat menjauhkan adiknya itu dari Hero yang baginya hanya seorang pengganggu.
“Kak kita benaran akan pergi ke desa itu?” tanya Eron.
Sebenarnya hanya Bian dan Eron sajalah yang tahu jelas mengenai tujuan berlibur di sana.
Usia kandungan Alina sudah hampir menginjak delapan bulan, dan bisa dipastikan dalam beberapa Minggu nanti Alina akan melahirkan.
“Kamu tidak perlu khawatir Eron, kakak sudah memikirkan semuanya. Ini demi kebaikan Alina.”
“Tapi Kak, apa memang kita harus seperti ini?”
Mendengar pertanyaan Eron, Bian langsung menatap ke arah adiknya dengan tatapan matanya yang datar.
“Kita harus seperti ini? apa maksud kamu?” tanya Bian yang langsung membuat Eron harus menegak ludahnya dengan susah payah.
“Aku hanya khawatir dengan kondisi kedua anak Alina saja kak, itu akan berbahaya jika kita mengambil resiko seperti ini,” jelas Eron.
Meskipun tidak dapat dielak jika Eron sebenarnya juga sempat merasa kasihan pada Hero. Laki-laki itu bahkan rela dipukul olehnya dan kakaknya hanya agar bisa menemui Alina.
Eron tahu betapa gila kerjanya Hero, ia juga tahu betapa padat jadwal kerjanya Hero. Tapi sungguh dirinya tidak percaya jika Hero bisa semenyedihkan sekarang ini.
Hero yang biasanya akan menunggu di depan rumah Alina setiap pukul enam pagi hingga menjelang siang. Malamnya selesai kerja Hero kembali akan menunggu Alina hanya demi bisa melihat wajah Alina.
Seolah Hero saat itu ingin memastikan jika keadaan Alina sedang baik-baik saja.
“Aku bukan orang yang toleransi pada sedikit kesalahan Eron. Kamu tahu itu bukan?” tatapan mata Bian kini terlihat memancarkan aura tajam.
Eron yang mendengar itu hanya bisa mengangguk pasrah, Eron tahu betul bagaimana sikap kakaknya.
Abian bukanlah laki-laki yang akan memaafkan dengan mudah sebuah kesalahan, apalagi itu kesalahan yang dilakukan pada adiknya.
“Kak, sedang bicara apa?” tanya Alina yang tiba-tiba datang bersama dengan Belvita disampingnya.
“Tidak ada,” jawab Eron cepat.
“Apa tidak sebaiknya kita tunda saja dulu rencana ini? bukankah kita bisa tinggal dan berlibur di sana di saat Alina sudah melahirkan?” kata Belvita yang langsung mendapatkan tatapan datar yang khas dari Bian.
Belvita yang melihat itu hanya bisa diam, ia bungkam dan tidak mengatakan apapun lagi. Tatapan Bian itu hanya akan ditunjukkan pada saat laki-laki itu sedang marah.
“Apa semuanya sudah siap?” tanya Amina yang datang bersama dengan suaminya.
“Iya mah semua sudah siap. Mamah dan Papah akan satu mobil dengan Alina. Sedangkan kak Bian dan belvita akan berada di mobil yang sama, dan aku nanti akan menggunakan mobilku sendiri. Biarkan barang bawaan dipindahkan ke mobilku saja,” kata Eron yang langsung diangguki oleh Amina.
******
Hero yang saat ini sedang makan bersama dengan kedua orangtuanya. Tiba-tiba ia mendapatkan sebuah notif tak terduga.
“Apa kamu akan diam saja membiarkan wanita yang kamu cintai pergi begitu saja?”
Maka dari itu, Hero memilih untuk mengabaikan pesan tersebut dan melanjutkan acara makannya.
“Hari ini kamu akan mampir dulu ke rumah Alina?”
Hero yang mendengar pertanyaan dari ibunya langsung menoleh, ia tersenyum tipis seakan mengatakan jika ia memang akan berniat menemui Alina.
“Apa tidak sebaiknya kamu jangan bertemu dengan Alina, hari ini saja,” kata Hanny dengan wajah sendu menatap ke arah Hero.
Hanny tahu jika anaknya sudah sadar akan perasaannya itu, anaknya sudah menyesal dan ingin memperbaiki kesalahannya dengan menantunya tersayang.
Sayangnya, itu terjadi di saat hubungan mereka berdua akan berakhir. Hero menyesal disaat hubungan itu kini sudah berada diambang kehancuran.
“Kenapa Bunda? Hero hanya ingin memastikan dengan mata kepala Hero sendiri jika istri dan anak Hero saat ini baik-baik saja,” jawab Hero.
Biasanya Alina akan keluar rumah di jam enam sampai delapan siang. Maka itu kadang Hero akan datang telat ke rumah sakit.
“...”
Mendengar itu Hanny hanya diam dan tidak berkata apapun lagi. Hanny tahu jika kini Hero sudah sadar dan menyesali kesalahannya dulu.
Meskipun awalnya Hanny juga sempat marah dan kecewa dengan sikap anaknya yang terus saja acuh dan mengabaikan Alina. Tapi Hero kini benar-benar sudah menyesali perbuatannya itu.
Dan Hanny juga paham betul bagaimana sikap anaknya jika dia sudah kukuh akan suatu hal. Maka itu Hanny tidak bisa membujuk Hero lagi.
Hanny tahu jika Hero seringkali mendapatkan penolakan dari Alina, ia tidak marah akan hal itu. Tapi sebagai ibu, ia juga merasa sedih saat anaknya akan pulang dengan setidaknya luka lebam hampir di seluruh wajahnya.
Ting
Sebuah notifikasi muncul.
Hero melihat ke arah ponselnya, dan notifikasi itu berasal dari orang yang tidak ia kenali.
“Hay”
Sapaan dari pesan yang muncul lebih Hero pilih abaikan. Hero memang sering bergonta-ganti nomor handphone karena sering mendapatkan pesan dari banyaknya penggemarnya.
Entahlah dari mana mereka bisa mendapatkan nomor ponselnya itu, Hero bahkan tidak mengetahui itu.
“Kenapa diabaikan?”
“Apa kamu tidak merindukanku? apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? aku sangat merindukanmu.”
Hero yang melihat pesan itu hanya menyernyit bingung, tapi meskipun begitu ia tetap mengabaikan pesan itu.
“Hari ini kamu akan tahu akibat mengabaikan pesan aku Hero.”
Entah kenapa melihat pesan itu hati Hero berubah kalut dan tidak tenang. Ia menjadi takut dan khawatir dengan keadaan Alina.
Ancaman yang ia dapatkan bukan membuat ia khawatir pada dirinya sendiri, melainkan pada istrinya dan calon anaknya.
“Mau kemana Hero?” tanya Hanny saat melihat anaknya sudah bangkit dan hendak melenggak meninggalkannya pergi.
“Hero ada urusan Bun, nanti malam Hero akan tidur di luar. Bunda nggak usah khawatir pada apapun, Hero yakin Hero akan jaga diri baik-baik.”