
“Ada makanan yang Kak Hero inginkan?” tanya Alina saat menatap Hero yang tengah menunggu makanan dimeja makan.
Hero yang awalnya hanya menatap ponsel miliknya, ia lalu menatap ke arah Alina.
Hero menggeleng, seakan menjawab ia akan memakan apapun yang Alina masak.
Hero bukanlah orang yang pemilih makanan, jadi apapun itu akan ia makan selagi makanan itu baik untuk kesehatan.
“Oke, Hari ini Alina ingin memasak nasi goreng, jadi tunggu sebentar ya Kak.”
Setelah mengatakan itu, Alina langsung mengambil segala bahan-bahan yang ia butuhkan. Telur, serta bumbu, sayuran dan lain-lain.
Hero sangat menyukai sayuran, oleh karena itu ada beberapa sayuran yang ditambahi Alina seperti daun bawang dan wortel. Berbeda sekali dengan Alina yang tidak terlalu menyukai sayuran.
Hero yang awalnya hanya diam, ia memperhatikan Alina. Wanita yang dulu hanya tingginya tidak lebih dari dadanya. Kini wanita itu telah dewasa, dan tingginya masih sama seukuran dadanya.
Kadang, Hero tidak pernah menyangka jika kini Alina menjadi istrinya. Itu sesuatu hal yang tidak pernah seorang Hero duga sama sekali.
Bahkan dalam benak Hero, tidak ada pikiran jika Alina akan menjadi istrinya. Tapi wanita yang tidak pernah Hero duga itu kini menjadi istrinya.
“Auww,” ringis Alina saat tanpa sadar tangannya tergores pisau.
“Biar aku yang potong daun bawan dan wortelnya. Kamu kerjakan yang lain,” ucap Hero. Ia lantas mengambil tugas Alina.
Meski Hero dingin dan datar, tapi Alina tahu betul jika lelaki itu sangat perhatian dan peduli padanya. Bukan hanya padanya saja, bahkan setiap orang yang butuh pertolongan akan Hero bantu.
Sebelum memotong daun bawang dan wortel, Hero mengambil kotak p3K dan menyerahkan itu pada Alina.
“Obati dulu luka kamu,” perintah Hero yang langsung Alina jawab dengan anggukan.
“Kak,” panggil Alina saat ia membuka kotak p3K.
Alina terlihat mengobati tangannya yang tergores itu. “Jangan katakan pada Papah ataupun Kak Bian dan Kak Eron tentang ini. Mereka bertiga itu adalah laki-laki posesif yang tidak membiarkan Alina untuk memasak,” jelas Alina.
Sebenarnya ia tidak tahu mengapa harus bercerita tentang hal ini, hanya saja Alina tidak ingin jika nanti ketiga orang itu akan merasa khawatir padanya.
“Kalau begitu kamu tidak perlu masuk dapur, biar kita cari pelayan untuk memasak makanan kita sehari-hari.”
Ucapan Hero langsung dijawab gelengan oleh Alina. “Alina tetap ingin memasak untuk Kakak. Maaf jika masakan yang Alina buat tidak seenak makanan yang biasanya Kakak makan,” ungkap Alina.
Alina ingin seperti ibunya yang pandai memasak, sangat menyayangi suami serta anaknya. Ibunya selalu memasak untuk dirinya, dan itu membuat Alina termotivasi untuk lebih pandai memasak. Walau faktanya memang ia tidak pandai memasak.
“Tidak masalah,” jawab Hero. Ia memang tidak pernah mempermasalahkan masakan buatan Alina.
Karena baginya, masakan Alina masih layak untuk dimakan. “Terima kasih Kak,” jawab Alina karena setidaknya Hero menghargai masakannya.
Alina merasa senang, jika Hero kini sudah tidak mengabaikan dirinya. Mungkin hampir seminggu ini ia diabaikan oleh Hero tanpa pernah bertegur sapa lagi
...*****...
Beberapa menit berlalu.
Hampir satu jam mereka memasak nasi goreng, waktu itu adalah waktu terlama untuk makanan yang biasanya bisa disajikan dengan sangat cepat.
“Ayo Kak cepat makan,” kata Alina, ia langsung memberikan nasi goreng yang berada di piringnya itu pada Hero.
“Terima kasih,” jawab Hero yang langsung dijawab anggukan oleh Alina.
“Kak makan, tolong hargai makanan yang ada.”
Alina paling tidak suka saat ada orang yang makan tapi tatapannya tak pernah lepas dari ponselnya. Jika mata itu hanya fokus pada ponselnya, apakah nanti Hero akan sadar jika tiba-tiba makanan itu justru masuk pada hidung atau matanya.
“Kakak mau makanan itu masuk ke hidung? tolong jangan biasakan untuk terlalu fokus pada pekerjaan. Bedakan waktunya kerja dan waktunya makan serta istirahat!” tegas Alina yang pertama kalinya ia bersikap tegas pada Hero.
Mendengar itu, rupanya Hero menurut. Ia lalu langsung menaruh ponselnya dan fokus memakan makanannya.
“Apa Kakak selama beberapa hari ini menghindari Alina?” tanya Alina.
Sebenarnya Alina ingin menyimpan pertanyaan itu untuk nanti saja, tapi rasa penasaran dan ingin tahunya tidak bisa ia tahan. Hingga Alina langsung bertanya.
“Bisa kita makan dulu? bukankah kamu bilang jika kita harus menghargai makanan yang ada di atas meja saat ini?” ucapan Hero itu membuat Alina bungkam dan tidak berani untuk berkata-kata.
Selesai makan, Alina berniat untuk mencuci piring bekas makan mereka. Biasanya akan ada pelayan yang membersihkan itu, tapi entah kenapa kini Alina justru mencuci piring miliknya dan Hero secara langsung.
“Kak, apa Kakak benar-benar mengabaikan Alina selama ini?” tanya Alina yang langsung mendapat tatapan dari Hero.
Hero awalnya melihat ponsel dan beberapa jadwal apa yang besok akan ia kerjakan. Tapi perhatiannya itu langsung teralihkan dan menatap ke arah Alina.
“Tidak!” tegas Hero.
“Lalu mengapa Kakak seolah menghindar dari Alina selama seminggu ini?” tanya Alina dan Hero hanya bungkam.
“Apa karena kejadian seminggu yang lalu?”
“Saya hanya bingung menghadapi kamu harus bagaimana pada saat itu,” jawab Hero akhirnya.
“Cara Kakak bicara pada Alina juga beda. Biasanya Kakak selalu menggunakan kata yang tidak formal, tapi sekarang Kakak menggunakan kata-kata formal seperti dulu lagi. Seakan menandakan jika kita memiliki sebuah jarak,” ungkap Alina yang hanya dijawab kebungkaman dari Hero.
“Jika memang karena hal itu membuat Kakak merasa canggung ataupun tak nyaman. Anggap saja hal itu tidak pernah terjadi,” kata Alina dengan tangan terkepal yang ia sembunyikan.
Padahal jelas Alina yang mengatakan itu langsung agar Hero tidak merasa canggung lagi padanya, tapi jujur ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau apa yang ia ucapkan itu adalah kata-kata paling jahat untuk dirinya sendiri.
“Itu hal yang wajar bagi suami istri. Cuman hubungan kita saja yang tidak wajar, dan Alina berfikir jika Kakak mungkin membenci Alina.”
Hero hanya diam dan tidak berkata apa-apa.
Ting tong
Perhatikan keduanya langsung teralihkan begitu suara bel berbunyi.
“Biar Alina yang buka 'kan pintu,” jawab Alina yang langsung mengambil keputusan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Alina berjalan menuju pintu dan membukakan pintu. Ternyata yang memencet bel itu adalah Hanny, ibu dari Hero.
“Sayang apa kabar? duh nggak ketemu kamu sehari aja berasa bertahun-tahun nggak ketemu,” ungkap Hanny yang langsung memeluk Alina erat.
“Baik Bun, kenapa nggak bilang pada Alina kalau Bunda akan datang?” Alina langsung mengajak Hanny untuk masuk.
“Suprise dong, kejutan. Seneng nggak lihat Bunda datang?” tanya Hanny tersenyum dan Alina langsung mengangguk.
“Bunda bawa makanan kesukaan kamu, sekalian Bunda beli buah-buahan untuk kamu juga.”