Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Boleh 'kah Alina egois?



“Anak? kenapa tiba-tiba Kakak membahas masalah Anak? apa Kakak sekarang mulai mengakui mereka sebagai Anak Kakak? kemana saja Kakak selama ini? bahkan yang paling sibuk mengurus Alina di saat Alina hamil itu hanya Bunda, Kakak tahu itu dengan jelas bukan?” kata Alina dengan nada yang terdengar memojokkan dan menyindir di akhir kalimatnya.


Hero yang mendengar itu hanya diam, ia menghela nafas panjang. Suara helaan nafas kasarnya terdengar dengan jelas, hal itu menandakan betapa frustasinya Hero saat ini.


“Maaf, ini semua kesalahanku. Aku tidak akan meminta untuk kamu bersikap seperti dulu padaku. Tapi biarkan aku yang kini akan mengejar kamu,” kata Hero dengan tatapan berharapnya.


“Kalau Alina bilang itu terlambat bagaimana? apa Kakak masih ingin mengejar Alina?” tatapan mata Alina kini terlihat menatap ke arah lain. Ia seolah menghindar dari tatapan Hero yang kini terlihat berharap padanya.


“Alina yang aku kenal adalah wanita baik yang mudah memaafkan. Dia wanita sabar dan tidak mungkin akan bersikap dendam pada siapapun,” kata Hero yang ingin sekali memeluk Alina.


Kenapa? kenapa dirinya baru sadar betapa baiknya Alina? kenapa Hero tak pernah peduli dengan Alina yang begitu mudah memaafkannya?


“Alina nggak sebaik itu!” tegas Alina dengan tatapan kesalnya. Ia tidak suka dianggap baik, baginya itu hanyalah Boomerang untuknya.


“Kakak pikir Alina nggak marah dan sakit hati dengan sikap Kakak pada Alina selama ini?” tanya Alina yang kini menatap sinis Hero.


Entah semarah dan sekesal apa Alina saat ini, ia bahkan menatap ke arah Hero dengan acuh dan sinis. Dan itu baru pertama kali Hero lihat.


Meskipun begitu, Hero tidak bisa marah ataupun membenci Alina. Ia hanya diam dan mendengarkan setiap kata yang akan Alina katakan.


“Alina marah! Alina juga kesal! dan Alina juga sakit hati! tapi entah kenapa saat itu Alina merasa begitu bodoh karena terus memafkan Kakak! setidaknya saat itu Alina masih berfikir jika Kakak nantinya mungkin akan berubah! nyatanya itu tidak, terbukti dari sikap Kakak yang menemui Alisa bukan?” kata Alina yang mengungkapkan kekesalannya itu.


Alisa mungkin kembarannya Alicia yang telah meninggal. Dan Alina tahu jika Alicia orang yang selama ini dicintai oleh Hero.


Tapi saat Alina tahu siapa yang Hero cintai, itu membuat Alina sakit hati dan marah.


Kenapa itu harus sahabatnya, Alicia? dan kenapa juga sahabatnya tak pernah sekalipun jujur padanya? bahkan hingga sahabatnya itu meninggal! hingga pada akhirnya Alina sendiri yang mencari tahu kebenaran itu melalui Alisa, kembaran Alicia.


Dan alasan terbesar kenapa Alina marah dan muak itu tak lain karena Alina berfikir jika Alisa yang merupakan kembaran sahabatnya itu, telah Hero jadikan pengganti Alicia yang telah meninggal.


“Alina tahu Kakak masih mencintai sahabat Alina yang telah meninggal. Alina juga tahu jika Kakak tidak bisa move on sampai kapanpun dari Alicia, bahkan Kakak menganggap Alisa yang merupakan kembaran Alicia sebagai pengganti bukan?”


Hero yang mendengar itu, ia langsung menggeleng. Itu tidak benar, sampai kapanpun Hero tak akan mungkin menjadikan kembaran Alicia sebagai pengganti.


“Kamu salah Alina, biar Kakak jelaskan,” kata Hero yang berusaha menahan tangan Alina yang hendak keluar dari mobilnya.


“Mau kemana?” tanya Hero tanpa sadar membentak karena saking cemasnya dirinya dengan Alina yang mungkin akan turun tiba-tiba.


“Kak Eron sudah jemput Alina, Alina ingin turun!”


“Biar aku yang akan antar kamu pulang, apa kamu tak bisa mendengarkan sedikit saja penjelasan Kakak?”


“Kak, Alina capek! Alina lelah! jangan ganggu Alina terus! Alina benar-benar mohon agar Kakak berhenti menemui Alina untuk sementara waktu!” tegas Alina yang langsung menyingkirkan tangan Hero dari salah satu lengannya.


Brak


Pintu mobil Alina tutup dengan keras saat dirinya telah berhasil keluar. Dan Hero hanya bisa menghela nafas pasrah saat mendengar itu.


“Dasar bodoh!” kata Hero yang merutuk pada dirinya sendiri. Kenapa bisa Alina berfikir seperti itu? apa ini karena kejadian dimana Alina memergokinya yang sedang merawat Alisa?


Hero sebenarnya sempat menolak pernyataan cinta dari Alisa waktu itu, dan dari sini Hero berfikir jika mungkin Alisa lah yang memberi tahu Alina tentang apartemen dan kata sandi dari apartemen pribadinya.


“Kenapa juga aku lupa mengganti foto-foto itu.”


Awalnya Hero berniat untuk menggunakan apartemen itu lagi untuk sesekali, ia juga tidak pernah menyangka jika Alina akan datang ke apartemennya itu.


“Alisa!” gumam Hero sambil menjambak rambutnya karena frustasi dengan Alina.


Flashback.


Saat itu Hero hendak mengantarkan martabak yang telah ia pesan sendiri untuk Alina. Ini memang sudah terlambat karena ngidam Alina terjadi kemarin.


“Benar-benar calon ayah yang buruk kamu Hero,” kata Hero yang merutuk dirinya sendiri.


Meskipun Hero pada awalnya tidak terlihat antusias dengan kehadiran calon anaknya itu, tapi entah kenapa kini Hero sangat menanti kehadiran mereka.


Sayangnya saat Hero hendak menaiki mobil miliknya, tiba-tiba ia melihat Alisa yang baru saja ditabrak mobil dengan sedikit kencang.


Hero yang melihat itu segera menghampiri.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Hero.


Padahal jelas-jelas Hero yakin jika mobil itu melaju cukup kencang, tapi entah kenapa Alisa justru masih baik-baik saja, walau lukanya sedikit parah.


“Kak, tolong Alisa, kedua tangan dan kaki Alisa rasanya keram dan mati rasa,” kata Alisa dengan ekspresi wajah yang penuh ketakukan.


Hero yang biasanya menangani situasi darurat, ia lalu mengangkat Alisa dan melakukan tindakan darurat untuk Alisa.


Setelah operasi yang tidak terlalu parah itu dilakukan, Hero berniat pulang. Tapi Alisa yang mengatakan jika dirinya ingin pulang, meminta Hero untuk mengantar Alisa pulang.


“Kak, Alisa mohon, Alisa benar-benar tidak betah berada di sini. Lagipula Alisa hanya mengalami luka yang cukup ringan. Tolong antar Alisa pulang,” pinta Alisa yang pada akhirnya Hero memutuskan untuk mengantar Alisa pulang.


“Kak, bisakah Kakak menginap sehari? Alisa hanya sendiri dan tidak bisa melakukan apapun dengan kondisi yang seperti ini,” mohon Alisa.


“Akan aku sewa perawat untuk kamu,” putus Hero yang dijawab gelengan cepat oleh Alisa.


“Tidak! Alisa maunya Kakak! apa Kakak lupa jika aku ini adalah adik dari Kak Alicia? apa memang Kakak tega membiarkan kembaran dari orang yang Kakak cintai menderita?”


“Tapi aku sudah menikah, dan sudah seharusnya aku melupakan Alicia. Biarkan cinta itu menjadi sebuah kenangan, aku yakin Alicia akan membenciku karena selama ini aku hidup dengan memikirkannya tanpa henti.”


Entah pemikiran dari mana, hingga Hero mengatakan hal itu pada Alisa. Sepertinya Hero berniat untuk tidak mengungkit Alicia lagi.


Bagaimanapun Alicia adalah masa lalunya, meskipun ia sangat mencintai Alicia. Tapi Alina dan kedua anaknya adalah masa depannya.


“Aku mungkin masih tak yakin dengan perasaan apa yang aku miliki pada Alina, tapi setidaknya dia dan anakku adalah masa depan yang telah tuhan berikan untukku,” kata Hero pada Alisa.